Menemani Sebatang Bambu yang Resah

DI BAWAH GEMERISIK BAMBU

(Sebuah dongeng untuk anak-anak muda yang tak boleh menyerah)

Suatu hari aku bertemu dengannya, sebatang bambu muda, diantara gerombolan bambu-bambu lainnya. Waktu itu siang hari yang terik. aku butuh teduh. Aku dekati bambu muda yang merunduk itu. Aku berharap kibasan daun-daunnya mampu melenyapkan peluh deras yang mengalir di dahi. Meski masih muda, kokoh buku-bukunya. Meski masih muda, ia mulai menjulang melebihi panjang tubuhku. Meski masih muda, daun-daun hijau bergerombol lebatnya.

Aku minta izin untuk mendekatinya. Bambu muda itu hanya tersenyum. Diam beberapa jenak kami berdua. Tak tahu kata yang mesti dilontar. Hanya sebaris senyum yang menjadi jembatan komunikasi kami. Tapi di sela itu, suara gemerisik daunnya menyapa telinga. Aku tak betah hanya berdiam. aku membuka kata.

AKU:

Hai bambu muda. tak keberatan kan aku nikmati gemerisik daunmu?

BAMBU MUDA:

Tentu tidak, wahai manusia. Nikmatilah……

Lalu aku mulai lihat pilu itu. Berkelebat di sela-sela gemerisik daun. Aku segera tersadar. Bambu ini menyimpan resah. Aku mengubah posisi, lebih mendekat dan mulailah serentetan kalimat mengalir begitu saja darinya.

BAMBU MUDA:

Aku bukan mawar, aku bukan anggrek. Aku tak punya keindahan untuk dinikmati.

Aku kaget, sebegitukah keresahannya?

AKU:

Berceritalah bambu. Ceritakan pada aku tentangmu.

BAMBU:

Aku ini tanaman yang tumbuh dengan liarnya. Bergerombol dan hanya punya satu warna. Aku tak memiliki bunga yang indah untuk dipersembahkan. Aku hanya batang kaku berbuku-buku. Coba lihatlah orang lalu lalang itu, mereka hanya melihat sebatang bambu. Hanya sebatang bambu, tanpa keindahan. Hanya berisik dengan daun-daun yang bergesek.

Aku masih diam. Tak tahu harus berkata apa untuk menjawab resah hatinya. Aku sungguh tak mengira. Bambu muda ini menampung begitu banyak kegelisahan.

AKU:

Lalu kau ingin jadi apa, bambu muda?

BAMBU MUDA:

Aku ingin jadi bunga yang elok dipandang. Tapi…

AKU:

Tapi apa bambu muda?

BAMBU MUDA:

Mana mungkin, manusia. Mana mungkin aku menjadi anggrek, mana mungkin aku menjelma menjadi bunga lili putih yang ditaruh di pesta manusia-manusia berduit, mana mungkin aku menukar buku-bukuku ini dengan tangkai indah dahlia yang ramping. Aku cuma sebatang bambu…berdiri tegak di pinggir jalan. Dan kamu tahu satu hal lagi manusia?

AKU:

Apakah itu wahai bambu muda?

BAMBU MUDA:

Aku sering dianggap menyeramkan. Aku sering dianggap tempat para hantu jahat bersemayam. Aku tak terawat dan aku dijauhi….aku benci hidupku. Aku tak ingin lagi jadi bambu.

Pada saat itu, hatiku seperti tergodam. Betapa bambu muda ini memiliki peka yang begitu dalam. Aku mulai melihat rembesan air menggenang di sudut matanya. Sudah sangat berat rupanya bebannya. Bebannya sudah terlampau banyak untuk bambu semuda dia.

Aku semakin mendekatinya. Tanganku yang kecil menyentuh salah satu bukunya. Aku ingin bilang banyak hal padanya. Tapi aku sengaja diam dulu. Kalau aku langsung jejali dia dengan serentetan kata, nanti dia akan makin terluka. Tapi tak urung, kebekuan di antara kami harus dicairkan.

AKU:

Bambu muda…tahukah kamu bahwa kelopak mawar bisa layu dalam hitungan yang sekian jam saja? Tahukah kamu bahwa indah warna bunga yang kau sebutkan tadi tak seberapa lama akan melayu dan dibuang orang? Semua keindahan yang nampak pada mata adalah semu.

BAMBU MUDA:

Tapi mereka tetap menang. Mereka tetap berada di atas. Aku cuma kelas tumbuhan yang terbuang.

Rupanya hati bambu muda itu masih bergolak. Aku mengubah posisi dudukku. Kali ini aku menghadapi dia. Aku bertekad untuk melumerkan kebekuan, lalu membuka lapisan tebal kulit bambu muda ini agar ia mengerti betapa besar potensi sesungguhnya.

AKU:

Allah menciptakan kita ini sangat beragam. Apalagi bagi tumbuhan sepertimu. Berjenis-jenis dan berklas-klas. Tapi masing-masing memiliki manfaat yang beragam pula. Dan Allah sebagai pencipta, melihat jati diri kita dari bagaimana kita mengembangkan semua manfaat yang ada dalam diri kita.

Bambu muda itu mulai bergerak. Dahannya didekatkan ke aku.

BAMBU MUDA:

Aku bisa bermanfaat? Dengan semua kekurangan dan kejelekanku ini. Aku punya kekuatan dari mana?

AKU:

Kekuatan itu ada dalam dirimu. Tahu kan kau bahwa bangsa manusia sudah mengakui bahwa kau adalah tanaman yang multi fungsi? Dalam tubuhmu yang berbuku-buku itu. Yang kau bilang tak seindah bunga itu ternyata akarmu mampu menahan erosi. Lalu tubuhmu. Jika kau tak menyerah untuk tumbuh, tubuhmu akan banyak memberikan banyak manfaat bagi orang lain. Tidak hanya sebentar, tapi dalam waktu yang sangggggaaaaaaaaaat lamaaa.

Bambu itu makin menyorongkan tubuhnya mendekatiku.

BAMBU MUDA:

Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, manusia. Aku tidak boleh menyerah untuk bertumbuh katamu tadi?

AKU:

Yahhhh…terus tumbuh. Jangan menyerah. Karena ketika engkau besar nanti, jika kau terus berusaha memperkuat tubuhmu, akan banyak orang yang akan mencarimu, membutuhkanmu. Tubuhmu akan bisa dipergunakan manusia untuk berbagai keperluan rumah tangganya. Janganlah memandang dari keelokan yang semu belaka. Kau tahu bambu muda, hidup itu tidak sekadar berisi keindahan. Justru di saat kita mampu bangkit dari keterpurukan itulah kualitas diri kita telah diuji.

Mata bambu muda itu mulai berbinar.

BAMBU MUDA:

Benarkah itu? Aku tidak boleh menyerah ya….karena ternyata aku punya hal yang bisa bermanfaat bagi manusia. Dan aku dipandang sebagai tanaman yang bermanfaat kan? Benarkah demikian?

AKU:

Iya bambu muda. Aku akan bercerita tentang kaumku yahhh. Mengertikau engkau bahwa Allah juga menciptakan manusia terdiri dari berbagai ragam dan memberikan perannya sendiri-sendiri di dunia ini. Mereka juga banyak yang merasa terlahir dalam kesusahan. Tapi Allah selalu menyerukan agar selalu bertawakal dan tidak pernah menyerah. Jika kita menginginkan perubahan dalam hidup kita, maka kita harus bergerak bersama perubahan itu. Menempa diri kita agar menjadi orang yang kuat tanpa pernah lepas dari penciptanya. Karena di ujung usia nanti, kita akan kembali ke penciptanya lagi.

BAMBU MUDA:

Manusia juga tidak berhenti bertumbuh?

AKU:

Tidak, bambu muda. Seiring dengan kehidupannya, manusia juga bertumbuh, belajar dari pengalamannya sendiri. Dan kau tahu, ada satu hal yang membuat kami ini terus bertahan, yaitu cita-cita. Seringkali sebagian dari kami menyebutnya mimpi. Sekali mimpi itu terukir..di sana pasti ada seonggok harapan yang bisa mewujudkannya. Segenap tenaga kita akan terkumpul untuk mewujudkannya. Setiap manusia boleh bermimpi..apa saja. Mimpi, boleh setinggi langit, mengawang di angkasa…karena mimpi adalah sesuatu yang indah dan selalu membuat kita bertahan dan tidak menyerah.

BAMBU MUDA:

Tentu saja kalian juga menemui hambatan. Tentu saja kalian suatu saat akan merasa sedih ketika keadaan tidak berpihak pada kalian.

AKU:

Itu hal yang wajah, bambu muda. Tidak semua orang memiliki kekuatan dan keadaan yang cukup memadai untuk terus maju.

BAMBU MUDA:

Lalu apa yang manusia lakukan saat itu?

AKU:

Kami bertumpu pada kekuatan doa. Setelah semua usaha penuh kita lakukan, bekerja dengan jujur dan ikhlas, maka semuanya kita kembalikan kepada Sang Khalik. Kita memohon padanya dan berserah diri. Karena itulah damai di hati tercipta. Aku ingat, ada sebuah doa yang biasa kuucapkan pada-Nya ketika aku mulai lelah dan hampir menyerah

BAMBU MUDA:

Aku tidak akan berhenti bertumbuh. Aku akan punya mimpi. Agar aku bisa berguna bagi banyak orang. Meskipun aku hanya sebatang bambu muda yang berdiri tegak tanpa hiasan, aku tak akan menyerah.

Dan aku pun tersenyum mendengar kalimatnya. Hari sudah menjelang sore, sudah waktunya aku beranjak dan meneruskan mimpi sendiri.

7 Comment(s)

  1. Dialog Bambu dan Aku,ada sejuta makna Hakiki di dalamnya

    langitjiwa | Dec 1, 2008 | Reply

  2. wah, sebuah postingan yang sarat renungan dan reflektif ttg masalah multikultural, mbak icha *mohon maaf kalau salah menafsirkan, hehehe * begitulah, mestinya kita mengapresiasi dan menghargai peran kita masing2. tapi repotnya selalu saja ada pihak2 tertentu yang ingin memaksakan kehendakm bahkan mengnggap perbedaan sbg hal yang tabu. repot!

    sawali tuhusetya | Dec 1, 2008 | Reply

  3. postingan yang sangat menarik dan mencerahkan Mbak Icha :D
    bukan apa yang terjadi pada kita yang menjadi permasalahan namun apa yang terjadi didalam kita

    tan samar pamoring sukma, sinuksma ya winayah ing ngasepi, lumebet telenging kalbu, pambukaning warana, tarlen saking liyep layaping ngaluyup, pindha pesating sumpena, sumusuping rasa jati

    tomy | Dec 2, 2008 | Reply

  4. :-)
    Kini banyak bambu muda yang tumbuh kembang di ladangmu.

    Mungkin masih berupa tunas,
    berupaya memperkuat akar,
    meresap pati,
    melepas dahaga,
    menatap malu mentari,
    bercumbu dengan rembulan,
    berlindung dibalik Bambu Sejati.

    aryf | Dec 2, 2008 | Reply

  5. mencoba mencari damai disisi bambu muda

    eko magelang | Dec 4, 2008 | Reply

  6. Suka yang muda ya mbak icha? *kidding* :D

    yup, dalam hidup kita tak boleh menyerah dan putus asa. Allah tak akan menciptakan makhluk Nya dengan sia-sia. semua pasti ada manfaat ;)

    Agung Mojosari | Dec 13, 2008 | Reply

  7. Allah megikuti prasangka hambaNya, oleh karena itu….be positive
    Mba Icha, Salam kenal, salam hormat dan kagum..

    Arya Kamandanu | Dec 14, 2008 | Reply

Post a Comment