Dunia Yang Kontekstual

Beberapa waktu yang lalu, di suatu siang, saya di buzz melalui ym oleh seorang kawan yang sedang dalam satu koordinasi pekerjaan. Cukup lama buzz itu tanpa jawaban dari saya. Bukan sombong, tapi karena saya ketiduran, sementara ym saya biarkan menyala begitu saja.

Begitu bangun dan melihat layar monitor, saya baru tahu perihal buzz itu. Untunglah kawan itu masih terlihat online. Saya lalu minta maaf dan mengatakan bahwa saya baru bangun dari tidur siang. Dia lalu berkata, “Enak betul hidupmu, Mbak. Bisa tidur siang, terus dapat duit dari rumah”.

Saya cuma membalas dengan emoticon favorit saya, :p. Tapi di kepala saya berkitar satu hal yang tak pernah berhenti dialamatkan orang lain ke saya. Mereka selalu bilang hidup saya sungguh menyenangkan, bisa mencari uang dari rumah dan di bidang yang saya sukai. Ya, saya juga mensyukuri itu, di antara carut marutnya dunia karir di luar sana, saya mendapatkan ruangan yang sangat saya kenal dan boleh saya atur sekehendak hati (tanpa melupakan schedule yang sudah dijanjikan tentunya).

ruangTapi ada satu sisi yang mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiahi saya dengan asumsi kenikmatan hidup seperti di atas, satu sisi untuk mendapatkan sebuah pekerjaan bagi seorang freelancer. Peralatan dan modal saya terbatas, mengandalkan internet dan segenggam pundi yang saya dapatkan dari hasil menulis untuk mobilitas. Belum lagi, untuk bisa terus mendapatkan pundi itu, saya juga berjibaku melawan ribuan pekerja yang bergerak di bidang yang sama. Tak jarang satu pekerjaan memiliki jangka waktu berbulan-bulan dalam penyelesaiannya, atau dalam beberapa bulan saya kosong tak ada pekerjaan yang mampir.

Dalam hal ini sungguh berbeda dengan mereka yang memiliki zona aman dalam hal finansial. Datang pagi hingga petang (jika perlu sampai malam), berjibaku dengan pekerjaan yang relatif tersedia, mengerjakan pekerjaan rutin dan tiap bulan tak perlu bingung harus membayar tagihan, karena sudah ada gaji yang menutup. Soal cukup atau tidaknya berpulang ke individu dan gaya hidup masing-masing.

Zona aman dalam hal keuangan itu satu sisi yang harus terus saya usahakan. Tak ada waktu tertentu kapan saya punya simpanan lebih untuk bisa merencanakan liburan atau membeli hal lain yang cukup mahal.

Dunia ini begitu kontekstual, cara memandang dan memahaminya bergantung pada masing-masing individu. Saya tidak iri dengan mereka yang duduk di ruangan kantor, dengan baju fancy dan tiap bulan menerima gaji. Saya sudah memiliki dunia sendiri dengan konteks-konteks dan hukumnya sendiri. Saya juga tidak menganggap dunia kantor itu begitu rumitnya, sehingga saya memilih dunia kecil saya ini. Saya punya jalan sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tak ada yang lebih baik dari satu hal, begitu juga sebaliknya tak ada yang lebih buruk dari sebuah perihal. Semuanya berpulang dari kontekstual yang mengiringi.

Begitulah dunia ini menurut pandangan saya.

Catatan:
Dan, dalam dunia yang kontekstual ini, alangkah indahnya jika kita masing-masing bisa saling memahami dan mengerti tanpa menghilangkan jati dirinya. Seperti kata Gibran:
Saling isilah piala minumanmu, tapi jangan minum dari satu piala.
Saling bagilah rotimu, tapi jangan makan dari pinggan yang sama.
Bernyanyi dan menarilah bersama, dalam segala sukacita,
Hanya biarkanlah masing-masing menghayati ketunggalannya.
Tali rebana masing-masing punya hidup sendiri, walau lagu yang sama sedang menggetarkannya.

9 Comment(s)

  1. hei, mengapa kau begitu sendu kawan?
    aku munkin hanya kawan selintas bagimu.
    tapi bukan hanya seX ini kulewati rute pintas di ladang anda :-)

    ini lilin ku..
    munkin saja bisa melengkapi lilin2 yg telah ada.
    munkin saja berguna utk menemanimu disaat2 temaram.
    munkin saja hanya utk pengganti lampu yg padam.
    tak mengapa..

    seX waktu kita memang butuh utk me`replenish` (halaah belepotan) keseharian kata…

    *berbagi sendu bersamamu kawan*

    aryf | Nov 18, 2008 | Reply

  2. Terimakasih atas pencerahannya Mbak Icha :D
    Meski melebur dalam cahaya yang benderang namun warna-warni pelangi membuat indah kehidupan, demikian pula dengan keunikan pribadi dalam dialektika hidup akan membentuk dinamika putaran yang terus membesar bagai spiral..bagaikan simponi musik gamelan ada saron, gambang, siter, rebab dan gong menciptakan romantika kehidupan yang akan membuat kita makin mengenali lukisan diri kita, entah luruhnya daun, entah mekarnya kelopak bunga entah meretasnya kulit kayu dalam pohon besar kehidupan

    *halah*

    tomy | Nov 18, 2008 | Reply

  3. Dalam melihat ada sesuatu yang tak tertangkap dalam wacana tak terungkap dalam kata-kata

    ”Apa yang kau lihat wahai Arjuna?” tanya Kresna menunjuk sebuah pohon saat pahlawan Pandawa itu mengkerut di Padang Kurusetra

    ”Apa yang kau lihat!” tandas Kresna

    Dan Arjuna dengan penuh ketakjuban melihat pohon itu sebagai Kresna Kresna yang bergelantungan pada Kresna

    Pandangan.. Ketakjuban

    Pandangan.. Menghidupkan

    Pandangan .. Merasuk hati

    Dalam melihat ada penyerahan juga penerimaan

    Dalam melihat seakan tersirat jarak

    Bukan sebagai penghalang hubungan

    Namun pengukuhan keberadan

    Arjuna yang dicekam takut dan ngeri kembali ke dasar keberadaan diri

    Ada penyerahan ada penerimaan

    Dan pohonpun menyatakan diri tampil dalam ketunggalannya

    Tidak ada ’Itu’

    Tidak ada ’Dia’

    Hanya ’Aku dan Kamu’

    tomy | Nov 18, 2008 | Reply

  4. dia lupa bahwa dari segi enaknya itu, juga ada tidak enaknya ya mbak ?

    ekomagelang | Nov 18, 2008 | Reply

  5. ..waduh kok sama nasib kita ya….. hahahahah, eh bagimana foto2 yg aku kirim…bisa ok?

    taufan rahmadi | Nov 18, 2008 | Reply

  6. Setuju, Cha. Aku dulu juga bekerja di mana pun aku mau bekerja. Di rumah maupun di luaran.

    Lalu ada titik di mana aku mesti kembali ke kantor. Ada sesuatu yang sedang kutempuh. Dan kini, panggilan-panggilan kebebasan mulai memanggil-manggil lagi.

    Orang mesti tahu di mana dirinya yakin berada. Seperti halnya dirimu.

    Daniel Mahendra | Nov 20, 2008 | Reply

  7. kalau orang jawa bilang, “wong urip mono kudu wang-sinawang” *halah* kita bisa saling memahami tugas dan profesi orang lain. taoim sungguh, kok, mbak icha. saya malah kepingin bisa kerja seperti mbak icha. zona nyamannya kan malah bisa diatur sendiri, hehehe …. tanpa harus diatur begini, begitu. belum lagi kalau ada orang yang suka iseng dan usil, hiks. dunia memang kontekstual, sangat tergantung bagaimana kita menafsirkannya. sukses selalu buat mbak icha.

    sawali tuhusetya | Nov 21, 2008 | Reply

  8. cha, beruntung kamu bisa mendapatkan ’sesuatu’ yg kamu inginkan, dan berani untuk melangkah dan mempertahankannya. mungkin itu yg juga sedang aku cari, kebebasan waktu dan ekspresi, selain kebebasan finansial tentunya :P . tapi, syukurlah…walopun belum mendapat ketiganya (uwong ki rak trimonan ya, cha…hehe), tapi aku baru mengusahakannya kok.
    dan saat kita mengambil ‘gaya’ kita sendiri, mungkin saat itu kita harus egois ya, cha. melakoninya, dan masabodo dg apa kata orang.
    apa kabarmu, cha ? apik2 wae to ? gak kangen magelang ? :)

    goenoeng | Nov 22, 2008 | Reply

  9. meluan ah..

    mba icha wong magelang to???
    heee…
    Ikut nimbrung aja,,,Keren abiez Mba Icha…
    hidup di dunia yang benar-benar kita cintai..
    bukan karena keterpaksaan,dan ketakutan meninggalkan sebuah kata’jaminan’………

    Mba,,bagi pengalamannya buat ary yah!!
    mba jdi script writer di bdang apa???
    thank’s banget..

    ary yakin Mba Icha ga akan segan buat ngebantu,apalagi punya kecintaan yang sama..

    fs/email : lightofmylife_ary@yahoo.com

    SUKSES SEMUANYA!!!!!

    Ary | Nov 26, 2008 | Reply

Post a Comment