Penulis Skenario Terhebat

lalu..
pijar-pijar tak surut
menggelepar
bertanya
menyangka
meraup
memercik
meruyak
mengingini
tak terhitung yang dikandangkan
terus bergerak..
karena berhenti berarti mati

(LIFE, 2008)

Scene 2

EXT.TAMAN KOTA-SORE

Markeso dan Marlena duduk di sebuah bangku panjang. Di bawah pohon trembesi. Sore itu matahari hangat menemani. Marlena memakai celana pendek selutut, kaos tanpa lengan. Kakinya beralaskan flat shoes. Markeso, celana jeans panjang berwarna hitam, shirt dengan line horisontal dan sandal jepit.

Taman kota cukup ramai saat itu. Beberapa penikmat sore sedang joging. Ada pula yang datang hanya untuk duduk seperti mereka. Angin bercanda dengan daun-daun. Menebarkan pesan-pesan semesta, membuat daun bergoyang-goyang geli, lalu jatuh dengan pasrah ke tanah.

Marlena:
Cak, wis dicatet to agendaku bulan November iki?

Markeso:
Ho oh, sibuk betul dirimu. Wah, wis back on track! Aku seneng, Ning.
(sambil menepuk bahu Marlena)

Marlena:
Temenan ta peno seneng? (benarkah kamu ikut senang?)

Markeso:
Saestu, Ning (benar sekali, Ning).

Marlena:
Peno (Anda/kamu) ngerti to, sebenarnya aku lak wis pengen mandeg (berhenti). Tapi kok ya ada aja tawaran yang datang. Semuanya aku ndak nyari, ndak minta. Aku kan wis tau ngomong, pengen menyurut ae, Cak.

Markeso:
Mbok awakmu iki bersyukur..(mestinya kamu ini bersyukur).



Marlena:
Bukannya tidak bersyukur. Aku mek (hanya) bertanya-tanya ae. Ini sebenarnya ada apa?

Markeso:
Jane (sebenarnya), bukan masalah berhenti atau tidak, Ning. Anggap saja ini adalah jalan yang dikasih sama Gusti Allah untuk menuju ke “sesuatu”, apapun itu (ketika mengucapkan kata “sesuatu”, jari-jari Markeso membuat tanda apostrof)

Marlena:
Opo yo Cak? (Apa itu ya, Cak?)

Markeso:
Mimpi peno (mimpimu)

Marlena:
Hmmm…ngono ta, Cak? (jadi begitu ya, Cak?). Aku sih rodo limbung, gimana menjalaninya?

Markeso:
Yo dijalani ae apa adanya. Trus saranku, coba meraih sesuatu yang terbaik dari setiap rezeki yang diberikan Allah itu.

Marlena:
Koyo opo iku, Cak? (seperti apa itu, Cak?)

Markeso:
Yo, awakmu mesti ngerti dewe lah engkuk. (Kamu akan tahu sendiri nanti). Yang pasti sesuatu itu adalah yang kamu percaya bahwa itu memang untuk hidupmu dan dirimu.

Marlena:
Aku kok sih gak ngerti yo, Cak. Jalan hidup ini kok mesti gak iso sing koyo tak kiro-kiro (jalan hidup ini kok tak seperti yang aku kira-kira).

Markeso:
Eling, Ning (ingat, Ning). Awakmu iso ae ngomong nek wis pinter nggawe skenario, tapi sing paling hebat nulis skenario kuwi yo Gusti Allah (kamu bisa bilang sudah pandai membuat skenario, tapi penulis skenario terhebat adalah Tuhan).

Markena manggut-manggut. Lalu kembali ke laptop memandangi daun-daun kering yang jatuh. Markeso tersenyum simpul, mengambil sebatang rokok dan menyalakannya, menemani sore Marlena yang bergelimang resah.

Catatan:
Cak adalah panggilan akrab untuk laki-laki
Ning adalah panggilan akrab untuk perempuan

Markeso dan Marlena adalah tokoh pelawak asal Jawa Timur yang tenar di era 80-90an. Sekarang sering menjadi icon panggilan dan olok-olok arek-arek Suroboyo jika bercanda dengan kawan-kawan.

5 Comment(s)

  1. Perubahan adalah Hukum Kehidupan. Apa yang kau sebut MATI adalah HIDUP itu sendiri. Sesaat Engkau seorang hartawan, namun segera Engkau dapat jadi seorang miskin. Milikku – Milikmu; Kecil – Besar; Milik Mereka – Milik Kita… Lepaskan ini dari pikiranmu, maka segalanya adalah milikmu dan Engkau adalah milik semua…
    ..
    ..
    ..
    Apa yang telah hilang darimu, hingga kamu bersedih? Apa yang telah kau bawa, yang telah hilang darimu? Apa yang telah kau buat, yang telah menjadi rusak?
    Engkau tidak membawa apa-apa…
    Apa yang kau punya, berikan pada alam semesta. Engkau datang dengan tangan hampa, dan begitu pula manakala engkau harus pergi…
    Apa yang jadi milikmu hari ini, adalah milik yang lain di masa silam dan akan menjadi milik yang lain di masa mendatang. Engkau berpikir ini milikmu dan terpaku ke situ. Inilah pangkal segala penderitaanmu…

    sudah lepas ingin, karena ia bisa jadi pangkal derita. sudah lepas harap, karena ia bisa jadi awal kecewa, namun ketika ingin menyalakan auto pilot, bertubi-bertubi angin segar menyapa, bertubi-bertubi pintu-pintu terbuka, bertubi-tubi hadiah diletakkan di pangkuan, mengkilik-kilik lagi gumpalan yang sudah dibiarkan mati…jadi skenario seperti apa ini?

    *halah………..:p

    kemana aja to mas tomy, lama ndak nongol je. masih di semarang kah?

    tomy | Nov 7, 2008 | Reply

  2. Tentu saja Tuhan adalah penulis skenario dan sutradara yang paling handal.
    Kalau penulis skenario dan sutradara di kita kan bisa saja mengubah hasil karya karena kepentingan pasar atau desakan produsen. Sementara Tuhan, siapa yang sanggup melawan!

    ditambah lagi Gusti Allah mboten sare to…..

    qizink | Nov 7, 2008 | Reply

  3. Cha, aku serasa ada di barisan depan panggung ludruk Kartolo.

    Asyik gaya nulismu, Cha.

    dino iki aku dadi Marlena, taiyeeeeee….:p

    Ferry | Nov 8, 2008 | Reply

  4. ck3…
    anak2 jaman sekarang kerjaannya ngerjain org aj :-)

    *selamat*

    aryf | Nov 9, 2008 | Reply

  5. saya sering menerima keluhan konco-2 yang ngudoroso, gethuni hidup mengapa begini, trus saya mencoba memberi pengertian yang sangat akrab dan tidak merasa menggurui, ” hidup ini sudah ada yang ngatur, sampiyan lan aku ora ngerti opo sing bakal kedadean, mung dewe kudu ngerti, yen Gusthi Allah iku ngatur kanthi pas kango awak-e dewe, wis to percoyo, urip iku wis ono sing ngatur, ora susah getun-2 tenan” meski kelihatannya mereka mngerti, tapi kelihatannya ada sedikit rasa kecewa, tapi setidaknya mereka sudah tahu.

    ekomagelang | Nov 14, 2008 | Reply

Post a Comment