Dia Yang Tetap Setia

Pada suatu sore, di kampung halaman, ditemani gerimis di luar sana, samar-samar saya mendengar sebuah kidung khas Suroboyo. Mungkin dari sebuah radio antik milik tetangga saya. Yang terdengar adalah suara khas seorang laki-laki sedang menyenandungkan parikan. Segera saya hapal pemilik suara itu: CAK KARTOLO.

kartoloBagi kawan-kawan yang pernah tinggal di Surabaya pada era 80-90an, pasti mengenal Kartolo cs. Bersama dengan kawan-kawannya: Basman, Blonthang, Sapari, Sokran dan isterinya sendiri, Tini, mereka menyatu dalam grup kesenian karawitan Sawunggaling. Mereka dengan lincahnya menghibur dengan guyonan khas Suroboyo, baik melalui pertunjukan seni visual seperti ludruk, maupun lewat siaran-siaran radio.

Saya teringat waktu-waktu yang saya habiskan dengan begadang semalaman di kamar saat membuat tugas kuliah maupun skripsi. Di saat radio lain hanya berbunyi sssssssssttttttttttttttttttttttttt, saya mencari gelombang yang menyiarkan guyonan Kartolo cs itu. Sembari mengerjakan tugas, saya bisa tertawa terpingkal-pingkal sendiri mendengarkan guyonan itu. Jadi kawan yang meriah sembari bergelut dengan diktat kuliah. Langgamnya mengalun dalam irama yang gemulai sekaligus tegas, memberikan ciri khas pada budaya Jawa Timuran.

Kartolo, bisa dibilang salah satu tokoh kesenian yang hingga saat ini tetap teguh pada jalurnya. Coba tanya sama masyarakat Surabaya, jika bicara Jula Juli Suroboyo, pasti langsung tersebut nama Kartolo. Tak heran, ini karena ia mulai berkiprah sejak tahun 60an dan hingga saat ini, sebuah stasiun televisi lokal di Surabaya masih menyelipkan slotnya untuk ruang bagi Kartolo cs.

Dialah salah satu legenda masyarakat Jawa Timur. Namun, jangan dikira setelah terbaiat menjadi sang legenda dia pun membumbung tinggi. Sepanjang pengetahuan saya, Kartolo masih terus berpijak di gaya tradisional parikan dan ludruk. Dan tak pernah berpaling dari situ. Namun, ia lincah dalam mengangkat local content menjadi sebuah lawakan yang segar dan tak pernah lekang oleh jaman.

Saat ini, grup kesenian karawitan Sawunggaling hanya tinggal Kartolo, Tini dan Sapari. Sedangkan Basman, Bonthang dan Sokran sudah berpulang ke Rahmatullah. Meskipun demikian, Kartolo sebagai motor grup, masih terus berkiprah. Seperti yang saya kutip di friendsternya: “setia melestarikan lawakan gaya ludrukan”.

yu painten ketiban klopo
cekap semanten kidungan kulo
(kartolo)

gambar diambil dari sini

*sambil dengerin kartolo di sini

tautan:

Profil Kartolo di media 

6 Comment(s)

  1. saya juga suka banget dng juli-juli suroboyo-an dan parikannya cak kartolo, mbak. namun, seiring dg bertambahnya usia cak kartolo, ada juga rasa khawatir, jangan2 tak ada anak muda yang mau menekuni seni rakyat dan tradisional ini.

    jenang sela wader kalen sesonderan
    apuranta yan wonten lepat kawula

    hehehe ….

    LIFE: ya pak, saya juga mengalami kekhawatiran yang serupa mengenai anak-anak muda sekarang yang lebih memilih budaya global ketimbang budaya lokal. saya tidak mau naif bahwa yang global itu juga banyak memberi hal yang baik untuk perkembangan diri, tapi bukan berarti kearifan lokal itu ditinggalkan. karena banyak nilai-nilainya yang bisa menjadi falsafah hidup kita sekarang. selain itu, apalah arti diri kita ini jika menjaga identitas bangsa sendiri saja sudah tak mampu.

    waktu zaman kuliah dulu saya sempat kagum sama kawan seangkatan saya yang jago parikan. di beberapa pentas seni mahasiswa, dia maju dengan langgam parikannya, di sela-sela band-band top 40 atau musik cadas di surabaya.

    kalau Kartolo sendiri, sebenarnya sudah melakukan kaderisasi budaya, paling tidak terhadap keluarganya sendiri. seluruh keluarganya ikut berperan dalam tingkah budaya di surabaya.

    saya sendiri, inilah yang bisa saya lakukan terhadap budaya sendiri, pak. menjelajahinya dan menuliskannya untuk dibagi bersama yang lain. semoga langkah kecil ini bisa jadi bagian pelestarian budaya.

    sawali tuhusetya | Nov 6, 2008 | Reply

  2. bangga dan bahagia, masih ada generasi muda yang gigih mewartakan sejarah budaya
    trims juga buat link koleksi2 kartolonya

    wah, mas iqbal mampir sini…senangnyaaaaaaaaa :) ..makasih kembali mas…selamat mendengarkan jula juli suroboyo, ing jogja hehehehe

    iqbal_rekarupa | Nov 6, 2008 | Reply

  3. dialek surabaya, bahasa suroboyoan saja saat ini jarang saya dengar… selama lebih kurang 8 tahunan, yang ada tinggal logatnya dengan bahasa Indonesia. kalo tidak kita siapa lagi yang mau peduli?

    jadi, nanti kalo kantornya mas hartoyo bikin gawe, nanggap kartolo saja yahhh :)

    sejutaasa | Nov 6, 2008 | Reply

  4. Wuih, Cha, aku yang sempat tinggal di Jawa Timur sekitar nyaris 5 tahun jelas kenal betul dengan keakraban mereka.

    Makasih banget atas postingan ini, Cha. Ngobati kangen tenan.

    Dan sekarang aku sudah meluncur ke link yang kamu berikan.

    Wuah, suwun yo, Cha…

    njih, mas…sami-sami….awas peno jangan terkantuk-kantuk dengerinnya. soalnya dua malam ini aku justru terkantuk-kantuk tiap kali dengerin kartolo cs…feels like home……..

    Daniel Mahendra | Nov 7, 2008 | Reply

  5. wah ternyata kamu suka ma kartolo cs….mang dengerin ato nglihat kartolo mbanyol gak bikin bosen,meski sekarang banyak komedi2 yang baru tp mereka tetep punya merk penggemar sendiri…thanks cha link sawunggalingnya…dadi iso ngrongokno kartolo maneh…tetep berkarya cha.

    makasih pung…selamat menikmati di sela-sela praktekmu yah…

    punq_s | Nov 21, 2008 | Reply

  6. jadi ingat dulu ada temen yang tinggal di pulowonokromo arek suroboyo asli tapi saat itu kalo ngomong pasti pakai dialek jakarta mana mau ngomong suroboyoan, ternyata diam diam penggemar kartolo juga…he…he…he…

    mosok seeeeeeeeee :p

    ensadeny | Nov 21, 2008 | Reply

Post a Comment