Dia Yang Tetap Setia
Posted by Lisa Febriyanti on Nov 5, 2008 in ladang budaya
Pada suatu sore, di kampung halaman, ditemani gerimis di luar sana, samar-samar saya mendengar sebuah kidung khas Suroboyo. Mungkin dari sebuah radio antik milik tetangga saya. Yang terdengar adalah suara khas seorang laki-laki sedang menyenandungkan parikan. Segera saya hapal pemilik suara itu: CAK KARTOLO.
Bagi kawan-kawan yang pernah tinggal di Surabaya pada era 80-90an, pasti mengenal Kartolo cs. Bersama dengan kawan-kawannya: Basman, Blonthang, Sapari, Sokran dan isterinya sendiri, Tini, mereka menyatu dalam grup kesenian karawitan Sawunggaling. Mereka dengan lincahnya menghibur dengan guyonan khas Suroboyo, baik melalui pertunjukan seni visual seperti ludruk, maupun lewat siaran-siaran radio.
Saya teringat waktu-waktu yang saya habiskan dengan begadang semalaman di kamar saat membuat tugas kuliah maupun skripsi. Di saat radio lain hanya berbunyi sssssssssttttttttttttttttttttttttt, saya mencari gelombang yang menyiarkan guyonan Kartolo cs itu. Sembari mengerjakan tugas, saya bisa tertawa terpingkal-pingkal sendiri mendengarkan guyonan itu. Jadi kawan yang meriah sembari bergelut dengan diktat kuliah. Langgamnya mengalun dalam irama yang gemulai sekaligus tegas, memberikan ciri khas pada budaya Jawa Timuran.
Kartolo, bisa dibilang salah satu tokoh kesenian yang hingga saat ini tetap teguh pada jalurnya. Coba tanya sama masyarakat Surabaya, jika bicara Jula Juli Suroboyo, pasti langsung tersebut nama Kartolo. Tak heran, ini karena ia mulai berkiprah sejak tahun 60an dan hingga saat ini, sebuah stasiun televisi lokal di Surabaya masih menyelipkan slotnya untuk ruang bagi Kartolo cs.
Dialah salah satu legenda masyarakat Jawa Timur. Namun, jangan dikira setelah terbaiat menjadi sang legenda dia pun membumbung tinggi. Sepanjang pengetahuan saya, Kartolo masih terus berpijak di gaya tradisional parikan dan ludruk. Dan tak pernah berpaling dari situ. Namun, ia lincah dalam mengangkat local content menjadi sebuah lawakan yang segar dan tak pernah lekang oleh jaman.
Saat ini, grup kesenian karawitan Sawunggaling hanya tinggal Kartolo, Tini dan Sapari. Sedangkan Basman, Bonthang dan Sokran sudah berpulang ke Rahmatullah. Meskipun demikian, Kartolo sebagai motor grup, masih terus berkiprah. Seperti yang saya kutip di friendsternya: “setia melestarikan lawakan gaya ludrukan”.
yu painten ketiban klopo
cekap semanten kidungan kulo
(kartolo)
gambar diambil dari sini
*sambil dengerin kartolo di sini
tautan:
saya juga suka banget dng juli-juli suroboyo-an dan parikannya cak kartolo, mbak. namun, seiring dg bertambahnya usia cak kartolo, ada juga rasa khawatir, jangan2 tak ada anak muda yang mau menekuni seni rakyat dan tradisional ini.
hehehe ….
sawali tuhusetya | Nov 6, 2008 | Reply
bangga dan bahagia, masih ada generasi muda yang gigih mewartakan sejarah budaya
trims juga buat link koleksi2 kartolonya
iqbal_rekarupa | Nov 6, 2008 | Reply
dialek surabaya, bahasa suroboyoan saja saat ini jarang saya dengar… selama lebih kurang 8 tahunan, yang ada tinggal logatnya dengan bahasa Indonesia. kalo tidak kita siapa lagi yang mau peduli?
sejutaasa | Nov 6, 2008 | Reply
Wuih, Cha, aku yang sempat tinggal di Jawa Timur sekitar nyaris 5 tahun jelas kenal betul dengan keakraban mereka.
Makasih banget atas postingan ini, Cha. Ngobati kangen tenan.
Dan sekarang aku sudah meluncur ke link yang kamu berikan.
Wuah, suwun yo, Cha…
Daniel Mahendra | Nov 7, 2008 | Reply
wah ternyata kamu suka ma kartolo cs….mang dengerin ato nglihat kartolo mbanyol gak bikin bosen,meski sekarang banyak komedi2 yang baru tp mereka tetep punya merk penggemar sendiri…thanks cha link sawunggalingnya…dadi iso ngrongokno kartolo maneh…tetep berkarya cha.
punq_s | Nov 21, 2008 | Reply
jadi ingat dulu ada temen yang tinggal di pulowonokromo arek suroboyo asli tapi saat itu kalo ngomong pasti pakai dialek jakarta mana mau ngomong suroboyoan, ternyata diam diam penggemar kartolo juga…he…he…he…
ensadeny | Nov 21, 2008 | Reply