Mengenang Sebuah Tempat Yang Terhapus Dari Peta

edisi gambar akhir pekan

Kemarin saya sempat berbincang dengan seorang kawan. Dia saat ini tengah berada di Porong, dikelilingi lumpur yang meluap tanpa henti, akibat kecerobohan dan ketamakan Lapindo Brantas. Bukan sedang pelesir, tapi sedang berbuat sesuatu untuk para penduduk yang makin tak jelas nasibnya di sana. Selain menuliskan terus update kondisi di Porong, kerap ia duduk melingkar bersama anak-anak di sana dan mengajari mereka membuat komik. Komik Curhat, itu istilah dia.

Dari dia saya tahu, bahwa makin banyak desa yang terhapus dari peta. Bahwa, semburan lumpur yang kabarnya memiliki 99 bubble itu entah kapan akan berhenti, karena satu ditutup, semburan baru akan terkuak di sebelahnya. Bahwa, ganti rugi yang diberikan selama ini tak juga lengkap. Bahwa di tengah kondisi carut marut itu, masih banyak juga provokasi dan intrik antara sesama warga. Bahwa, luapan yang terus dibuang ke laut akan berpotensi menimbulkan bencana yang baru lagi.

Bulan Juli 2007, saya pernah datang ke Tanggul Siring. Saat itu, Tanggul Siring masih berjarak kira-kira satu kilometer dari jalan raya. Dan awal tahun ini, ketika saya melewati Porong lagi. Tanggul Siring sudah sangat melebar. Tanggul itu kini persis ada di sisi jalan raya Porong. Disokong dengan tanah dan batu-batu yang direkatkan dengan kawat, yang makin meninggi.

Foto-foto di bawah ini adalah situasi desa dan Tanggul Siring saat kunjungan pertama saya di tahun 2007. Saat ini, rumah, pohon, masjid yang mengitari Tanggul Siring sudah tenggelam dan tak nampak lagi. Ini sebuah kenangan tentang sebuah tempat yang terhapus dari peta.

siring1

Desa Siring

 

siring2

Jalanan ini dulunya adalah jalur yang digunakan menuju Tanggul Siring dari Jalan Raya Porong. Kini sudah tak ada lagi jalur itu, karena Tanggul sudah di tepi jalan raya.

 

tanggul siring

Tanggul Siring, satu setengah tahun lalu.

 

pohon

Banyak orang bilang, foto di atas seperti diambil saat di Eropa. Ah, pohon meranggas ini adalah saksi bisu gelembung lumpur yang bertebaran. Pohon itu, akhirnya ikut hilang juga.

 

wisata lumpur

Selamat datang di wisata lumpur…

 

 

All pictures by Icha, using Nikon D70s

11 Comment(s)

  1. wedew. di foto terakhir itu aku penasaran mbak, yang masang plang kuning itu siapa ya?

    trus kenapa tulisannya “wisata lumpur”?

    dalam berapa tahun ya lumpur lapindo ini akan bisa membuat tanah sidoarjo tak bisa menahan beban lagi. hiks seram sekali membayangkan hal itu
    *sigh*

    Tanggul Lapindo itu sekarang juga sudah jadi tempat wisata, Win. Berbondong-bondong orang datang untuk melihat danau lumpur. Apalagi sekarang tanggulnya sudah di tepi jalan raya, wah, malah bikin macet, karena banyak yang lewat lalu berhenti untuk sekadar memandang lumpur yang terus meluber itu.
    tahun lalu aku dengar, penurunan tanah di Sidoarjo mencapai 20cm per tahun. entah sekarang…entah sampai kapan…

    sekelebatsenja | Nov 1, 2008 | Reply

  2. Salah satu wujud struktural viktimization, negara seharusnya ikut bertanggung jawab terhadap penanganan Lumpur Lapindo… BTW wisata melihat penderitaan korban lapindo wadooowwwwwwwhhhh enggak dehhhhhhhhh…..

    kalo menurut pendapat saya sih Lapindo yang paling bertanggungjawab mas, sekarang kabarnya lapindo sengaja menyewa konsultan dr luar negeri yang berupaya keras membuktikan bahwa lumpur yang meluap adalah murni mud volcano, bukan kesalahan lapindo….

    btw sik sik…struktural viktimization kuwi pelajaran nang mata kuliah opo? hehehhehehe

    sejutaasa | Nov 1, 2008 | Reply

  3. nggak bisa membayangkan kalau pas jalan macet tiba-tiba tanggulnya jebol.
    benar-benar tragis nasib warga yang terkena bencana terebut. sekarang nasibnya bagaimana ya?
    Apakah sudah ada keputusan pengadilan terkait dengan pt lapindo brantas?

    warga di sana….ada yang bertahan, ada yang harus mengontrak rumah baru, ada yang pasrah….penggantian uang juga belum 100%…

    endar | Nov 1, 2008 | Reply

  4. hmm…terus kita bisa apa ya mbakyu ?
    aku mung bisa prihatin dan berdoa saja…
    yang tak sayangke, berita mengenai lumpur itu sekarang kok nggak jelas ya….andaikata semua media masa bersatu, meng-expose ulang masalah lumpur itu….ben ‘bapak2′ do gerah, biar mikirnya gak lelet…
    kasihan saudara2ku di sana…
    :(

    berdoa sudah suatu hal mulia yang bisa kita lakukan, mas…
    dan saya setuju dengan bersatunya media. saat ini, salah satu alat advokasi yang gemanya besar memang media. kekuatannya bisa merepih kuping-kuping yang bebal dan hati yang dingin. lah wong pilkada jatim kemarin aja ndak ada yang nyentuh soal lumpur ini loh…

    goenoeng | Nov 1, 2008 | Reply

  5. Kadang semua hal itu menjadikan sesuatu yang menyedihkan

    *kasih sapu tangan ke adikku yang manis :p

    Aveline Agrippina | Nov 1, 2008 | Reply

  6. sungguh demikian tragis dampak yang ditimbulkan oleh lumpur lapindo, mbak icha. benar2 menghapus bebera desa dari peta. seharusnya ini menjadi tanggung jawab pemerintah utk mengurus nasib warganya yang tertimpa musibah. selamatkan mereka dari tragedi dan trauma berkepanjangan. semoga saudara2 kita yang tertimpa musibah tabah menghadapinya sambil mengikuti proses hukum yang “harus” berjalan.

    Amin, pak…saya juga masih khawatir sama dampak perkepangjangan lumpur lapindo ini…entah kapan bisa berhenti yaks?

    sawali tuhusetya | Nov 2, 2008 | Reply

  7. Wah, dah lama ga denger kabar berita ini, makin tragis ya, dan benar benar hilang dari peta, google map harus update tuh

    wah ho oh ya..bukan hanya buku atlas indonesia saja ternyata….

    Raffaell | Nov 3, 2008 | Reply

  8. Yaksa nendra samya bangkit budal andadal

    ambalabar kanan kering wutahing wlahar

    mrih sukerta samya larut murca lan sirna

    amijeni wong kang becik lawan kang ala

    ….

    ….

    Wus angancik arga sad indriya

    nandhang duhkita Risang Sungkawa

    amulat sakehing punggawa praja dalasan para pandhita

    tan bisa bangkit pinilih kinarya tuladha

    yang artinyaaaaaaaaaaaaaaaaa???? :p

    tomy | Nov 7, 2008 | Reply

  9. sebuah puisi yang lahir dari jiwa temaram dalam dunia diantara gelap & terang, bukan menghakimi apalagi menyalahkan…
    hanya jeritan hati yang tercerap kesedihan alam
    ..
    ..
    ..

    Layung-layung jingga

    Kumayan Sang Naga amemasuh memala

    Layung-layung jingga

    Pakarti ala bali myang sirna

    Layung-layung jingga

    Kasangsaya manungsa ing marcapada

    Layung-layung jingga

    Bakal linebur bali sampurna

    Naga Amoksa Sapta Bawana

    Manekung puja hardha sangara

    Brantayudha tangeh rampunga

    Meksa jurit pecahing jaja wutahing ludira

    Sarana sanga harsa amemulya

    Panandhang papa cintraka

    Wus wancine…

    Pamungkase Kang Dur Angkara

    mas tomy, yang artinyaaaaaaaa opo? lama ndak muncul je sampeyan, mas?

    tomy | Nov 7, 2008 | Reply

  10. Masih belum juga tuntas soal ini…
    Betapa mericuhkannya hidup sebagai rakyat di republik ini…

    jangankan hidup…bermimpi saja tak punya keberanian…

    Daniel Mahendra | Nov 7, 2008 | Reply

  11. semoga mereka diberi kekuatan dalam menghadapi cobaan tersebut karena saya gak yakin lapindo akan mampu memberikan ganti rugi seperti yang dijanjikan, kebetulan saya pernah ngurusi berkas ganti rugi waktu masih di minarak dulu, ada sekitar 15 lemari arsip besar sertifikat yang harus dibayar ganti ruginya, resettlement memang option yang bagus tapi cuma berapa persen yang tertangani? apalagi sekarang bakri tengah jatuh….yang jelas cuma notaris dan PPAT yang tambah kaya karena adanya lumpur lapindo, sedangkan yang seharusnya menerima ganti rugi…..hanya bisa menangis, pernah saya coba ke lokasi semburan ditemani tukang ojek yang setia menemani, dibalik wajahnya yang sangar ternyata dia begitu rapuh dan bahkan menangis tersedu sedu ketika bercerita rumahnya yang tenggelam. semoga penderitaan mereka dapat segera berakhir.

    wah Den, terima kasih tambahan infonya. lapindo bukan hanya bencana, tapi juga masuk dalam tragedi kemanusiaan ya…sekian banyak orang menderita. penggantian harta benda saja hingga saat ini masih tak terganti..apalagi kerugian mental dan psikologis..itu jauh lebih mahal kan harganya…

    ensadeny | Nov 21, 2008 | Reply

Post a Comment


Comments links could be nofollow free.