Mengenang Sebuah Tempat Yang Terhapus Dari Peta
Posted by Lisa Febriyanti on Nov 1, 2008 in ladang gambar, ladang inspirasi, ladang pelesir
edisi gambar akhir pekan
Kemarin saya sempat berbincang dengan seorang kawan. Dia saat ini tengah berada di Porong, dikelilingi lumpur yang meluap tanpa henti, akibat kecerobohan dan ketamakan Lapindo Brantas. Bukan sedang pelesir, tapi sedang berbuat sesuatu untuk para penduduk yang makin tak jelas nasibnya di sana. Selain menuliskan terus update kondisi di Porong, kerap ia duduk melingkar bersama anak-anak di sana dan mengajari mereka membuat komik. Komik Curhat, itu istilah dia.
Dari dia saya tahu, bahwa makin banyak desa yang terhapus dari peta. Bahwa, semburan lumpur yang kabarnya memiliki 99 bubble itu entah kapan akan berhenti, karena satu ditutup, semburan baru akan terkuak di sebelahnya. Bahwa, ganti rugi yang diberikan selama ini tak juga lengkap. Bahwa di tengah kondisi carut marut itu, masih banyak juga provokasi dan intrik antara sesama warga. Bahwa, luapan yang terus dibuang ke laut akan berpotensi menimbulkan bencana yang baru lagi.
Bulan Juli 2007, saya pernah datang ke Tanggul Siring. Saat itu, Tanggul Siring masih berjarak kira-kira satu kilometer dari jalan raya. Dan awal tahun ini, ketika saya melewati Porong lagi. Tanggul Siring sudah sangat melebar. Tanggul itu kini persis ada di sisi jalan raya Porong. Disokong dengan tanah dan batu-batu yang direkatkan dengan kawat, yang makin meninggi.
Foto-foto di bawah ini adalah situasi desa dan Tanggul Siring saat kunjungan pertama saya di tahun 2007. Saat ini, rumah, pohon, masjid yang mengitari Tanggul Siring sudah tenggelam dan tak nampak lagi. Ini sebuah kenangan tentang sebuah tempat yang terhapus dari peta.

Desa Siring

Jalanan ini dulunya adalah jalur yang digunakan menuju Tanggul Siring dari Jalan Raya Porong. Kini sudah tak ada lagi jalur itu, karena Tanggul sudah di tepi jalan raya.

Tanggul Siring, satu setengah tahun lalu.

Banyak orang bilang, foto di atas seperti diambil saat di Eropa. Ah, pohon meranggas ini adalah saksi bisu gelembung lumpur yang bertebaran. Pohon itu, akhirnya ikut hilang juga.

Selamat datang di wisata lumpur…
All pictures by Icha, using Nikon D70s


wedew. di foto terakhir itu aku penasaran mbak, yang masang plang kuning itu siapa ya?
trus kenapa tulisannya “wisata lumpur”?
dalam berapa tahun ya lumpur lapindo ini akan bisa membuat tanah sidoarjo tak bisa menahan beban lagi. hiks seram sekali membayangkan hal itu
*sigh*
sekelebatsenja | Nov 1, 2008 | Reply
Salah satu wujud struktural viktimization, negara seharusnya ikut bertanggung jawab terhadap penanganan Lumpur Lapindo… BTW wisata melihat penderitaan korban lapindo wadooowwwwwwwhhhh enggak dehhhhhhhhh…..
sejutaasa | Nov 1, 2008 | Reply
nggak bisa membayangkan kalau pas jalan macet tiba-tiba tanggulnya jebol.
benar-benar tragis nasib warga yang terkena bencana terebut. sekarang nasibnya bagaimana ya?
Apakah sudah ada keputusan pengadilan terkait dengan pt lapindo brantas?
endar | Nov 1, 2008 | Reply
hmm…terus kita bisa apa ya mbakyu ?
aku mung bisa prihatin dan berdoa saja…
yang tak sayangke, berita mengenai lumpur itu sekarang kok nggak jelas ya….andaikata semua media masa bersatu, meng-expose ulang masalah lumpur itu….ben ‘bapak2′ do gerah, biar mikirnya gak lelet…
kasihan saudara2ku di sana…
goenoeng | Nov 1, 2008 | Reply
Kadang semua hal itu menjadikan sesuatu yang menyedihkan
Aveline Agrippina | Nov 1, 2008 | Reply
sungguh demikian tragis dampak yang ditimbulkan oleh lumpur lapindo, mbak icha. benar2 menghapus bebera desa dari peta. seharusnya ini menjadi tanggung jawab pemerintah utk mengurus nasib warganya yang tertimpa musibah. selamatkan mereka dari tragedi dan trauma berkepanjangan. semoga saudara2 kita yang tertimpa musibah tabah menghadapinya sambil mengikuti proses hukum yang “harus” berjalan.
sawali tuhusetya | Nov 2, 2008 | Reply
Wah, dah lama ga denger kabar berita ini, makin tragis ya, dan benar benar hilang dari peta, google map harus update tuh
Raffaell | Nov 3, 2008 | Reply
Yaksa nendra samya bangkit budal andadal
ambalabar kanan kering wutahing wlahar
mrih sukerta samya larut murca lan sirna
amijeni wong kang becik lawan kang ala
….
….
Wus angancik arga sad indriya
nandhang duhkita Risang Sungkawa
amulat sakehing punggawa praja dalasan para pandhita
tan bisa bangkit pinilih kinarya tuladha
tomy | Nov 7, 2008 | Reply
sebuah puisi yang lahir dari jiwa temaram dalam dunia diantara gelap & terang, bukan menghakimi apalagi menyalahkan…
hanya jeritan hati yang tercerap kesedihan alam
..
..
..
Layung-layung jingga
Kumayan Sang Naga amemasuh memala
Layung-layung jingga
Pakarti ala bali myang sirna
Layung-layung jingga
Kasangsaya manungsa ing marcapada
Layung-layung jingga
Bakal linebur bali sampurna
Naga Amoksa Sapta Bawana
Manekung puja hardha sangara
Brantayudha tangeh rampunga
Meksa jurit pecahing jaja wutahing ludira
Sarana sanga harsa amemulya
Panandhang papa cintraka
Wus wancine…
Pamungkase Kang Dur Angkara
tomy | Nov 7, 2008 | Reply
Masih belum juga tuntas soal ini…
Betapa mericuhkannya hidup sebagai rakyat di republik ini…
Daniel Mahendra | Nov 7, 2008 | Reply
semoga mereka diberi kekuatan dalam menghadapi cobaan tersebut karena saya gak yakin lapindo akan mampu memberikan ganti rugi seperti yang dijanjikan, kebetulan saya pernah ngurusi berkas ganti rugi waktu masih di minarak dulu, ada sekitar 15 lemari arsip besar sertifikat yang harus dibayar ganti ruginya, resettlement memang option yang bagus tapi cuma berapa persen yang tertangani? apalagi sekarang bakri tengah jatuh….yang jelas cuma notaris dan PPAT yang tambah kaya karena adanya lumpur lapindo, sedangkan yang seharusnya menerima ganti rugi…..hanya bisa menangis, pernah saya coba ke lokasi semburan ditemani tukang ojek yang setia menemani, dibalik wajahnya yang sangar ternyata dia begitu rapuh dan bahkan menangis tersedu sedu ketika bercerita rumahnya yang tenggelam. semoga penderitaan mereka dapat segera berakhir.
ensadeny | Nov 21, 2008 | Reply