Jakarta, For Love and For Money
Posted by Lisa Febriyanti on Oct 29, 2008 in ladang inspirasi, ladang kisah
Hidup di Jakarta? Hmmm, ya gitu deh….tentu ada selaksa liku dan cerita. Sedih, senang, gagal atau berhasil. Jakarta sungguh suatu ujian. Sudah banyak yang tahu itu. Tapi tetap juga banyak orang berbondong-bondong datang. Hingga tiap tahun Pemda DKI bersusah payah melakukan operasi yustisi di tiap daerah.
Ujian sekaligus surga bagi yang mampu mengalahkannya. Apa saja tersedia di Jakarta. Cari harta atau cinta, bisa dengan cara apa saja. Soal cinta, memang bisa ditemukan di mana saja. Tapi di Jakarta, mau cari cinta model apa saja tersedia.
Mau cinta a la busway yang melaju kencang di jalur tanpa hambatan, dengan pendingin, petugas keamanan dan pengemudi yang tampil ekslusif, lalu penumpang yang rata-rata berbau harum. Ada di sana. Cinta model intelek. Atau mau cari cinta model bajaj yang berjalan tersuruk dan ekstra keras mewujudkan setoran agar mampu bertahan. Atau malah mau cari cinta a la taxi yang bisa disewa pada jam-jam yang kita kehendaki, mau berkeliaran dimana saja asal sanggup bayarnya, juga banyak.
Bukan hanya model cintanya, orang-orangnya pun beragam. Dari Sabang sampai Merauke ada di Jakarta. Belum lagi para ekspatriat yang hidup foya-foya di negeri ini padahal di negeri sendiri mereka bisa jadi hidup menggelandang. Atau ekspatriat yang benar-benar bermodal, wah banyak juga. Tinggal mencari.
Urusan harta, lebih banyak lagi ceritanya. Banyak yang bilang, apa saja bisa jadi duit di Jakarta. Jualan bisa macam-macam ragamnya, lowongan pekerjaan yang ditawarkan apalagi. Lihat saja di koran-koran, masih banyak lowongan yang tersedia. Tinggal mencobanya.
Berhasil atau tidak? Kembali ke kemampuan dan nasib.
Satu lagi cerita tentang cari uang di Jakarta terkuak. Kemarin, saya bertemu dengan salah satu penghuni yang mencoba bertahan di Jakarta. Sebut saja Ibu M. Saya bertemu dengannya di sebuah halte. Saat itu saya baru kelar pertemuan di daerah Thamrin. Saya sengaja meninggalkan Si Timbul (nama kecil mobil saya) di parkiran sebuah mall di Senayan dan melenggang dengan busway ke Thamrin. Buat saya, itu cara yang paling enak mengatasi macet dan three in one di Sudirman-Thamrin.
Turun dari busway, hujan angin langsung menyambut. Saya memutuskan untuk menunggu saja di halte yang tak jauh dari tempat Si Timbul saya tinggalkan. Saat hujan begitu, adalah rezeki bagi para pengojek payung. Laris manis. Tapi ada seorang ibu yang berdiri di sebelah saya memegang payung. Saya menduga ia salah seorang pengojek payung itu. Entah kenapa ia memilih diam daripada menjajakan payungnya. Sebenarnya saya ingin menunggu hujan reda, tapi sosok ibu itu menggoda saya. Saya pun menyapanya.
“Kok nggak dipakai payungnya, Bu?”
“Ini ojek payung Mbak. Mau kemana?” dia langsung menawarkan.
Saya ingin berbincang lebih lanjut dengannya. Saya memutuskan untuk menggunakan payungnya.
“Ke PS bu. Bisa?”
“Ayo, Mbak.”
Ia lalu membentangkan payungnya, lalu diberikan kepada saya. Awalnya, ia berjalan di belakang saya, membiarkan saya sendirian berpayung, sementara ia sendiri terkena tetesan hujan yang lumayan deras.
“Bu, sini sama saya. Ini payungnya kan cukup besar.”
“Nggak papa. Mbak aja,” ia menjawab sambil tersenyum.
Saya lalu menariknya dan memegang pundaknya untuk ikut dalam lindungan payung. Mana tega saya biarkan ia berhujan-hujan, sementara payung ini masih cukup besar untuk kami berdua.
Jalan ke PS memberikan kesempatan bagi saya untuk berbincang dengannya.
Usianya mungkin mendekati 50 tahun. Ia hanya hidup bersama seorang anaknya yang masih kelas lima SD. Suaminya baru saja meninggal setahun lalu. Ibu M ini aselinya orang Solo, jadi saya bisa mengajaknya berbincang bahasa Jawa. Di Jakarta, ia tinggal di sebuah kampung, di balik gedung-gedung megah yang berderet di bilangan Sudirman.
Pekerjaannya? Joki. Jika hari tidak hujan, ia menjadi joki three in one, yang kadang mesti berkejaran dengan tramtib di jalanan. Pendapatannya? Menurutnya jika beruntung sehari bisa membawa pulang 30 ribu rupiah. Kalau hari hujan, ia makin merasa beruntung. Tak ada lagi, hanya itu.
Dengan harga-harga yang makin melambung, biaya sekolah yang tak murah, ia harus bertahan hidup dengan rezeki kurang dari satu juta rupiah per bulan. Tapi ia memilih bertahan. Padahal ketika saya tanya apakah ia masih punya rumah di Solo, ia menjawab iya. Menurutnya, ia lebih suka di Jakarta, lebih mudah cari duit. Tak berbekal kepintaran, ia sudah bisa menyekolahkan anaknya. Bahkan ia sudah sangat bersyukur bisa dapat rezeki dengan caranya.
Kaki kami sudah menjejak di lobby PS. Ia masih tersenyum, seperti senyumnya di sepanjang jalan tadi sambil menjawab malu-malu semua pertanyaan saya. Lalu menghilang sesaat setelah saya selipkan selembar uang di jemarinya. Dan saya berkata pada diri sendiri, “Hey, ini Jakarta Jeng..siapapun boleh datang kemari for love and for money!”.
Ibu M, semoga kau masih terus bertahan, dimanapun kau merasa bisa.
hmm…kalo bisa sih dapat dua-duanya, mbak
vin | Oct 29, 2008 | Reply
Cerita yang indah… namun sebenarnya tragis
Aveline Agrippina | Oct 29, 2008 | Reply
Ah.. menggugah lagi…apalagi buat orang seperti saya yang masih mencari-cari cara menaklukkan Jakarta..
cm4nk | Oct 30, 2008 | Reply
hiks hiks..terharu denger cerita tentang ibu ojek payung itu
kalo ada dijakarta, saya mau cinta kaya apa ya..
hmmmm
sekelebatsenja | Oct 30, 2008 | Reply
aku kok gak tertarik ke jakarta ya, cha…
sampai saat ini.
goenoeng | Oct 30, 2008 | Reply
sebuah postingan humanis, mbak icha. jadi inget idiom “sapa suruh datang jakarta”, hiks. sebagai kota megapolitan, semuanya memang ada di jakarta. bukan hanya soal cinta dengan segenap asesoris keglamorannya. soal tradisi dan budaya juga ada di sana. sayangnya, tak sedikit orang yang gagal menaklukkan jakarta. ufh, semoga mbak icha sanggup menjadikan jakarta benar2 sebagai “syurga”! sukses selalu buat mbak icha.
sawali tuhusetya | Oct 30, 2008 | Reply
Kau mampu turba. Itu menyenangkan. Menyenangkan bagi dirimu dan menyenangkan bagi yang mengenalmu.
Maka kau, cinta model apa yang kau kandung di sana?
#
(Si Timbul nama lengkapnya siapa? Sudah bikin akte kelahiran dia? Awas ada operasi Yustisi! Jangan sampai dianggap anak tanpa ayah. Haha!)
Daniel Mahendra | Nov 1, 2008 | Reply