Sepenggal Memory di Lereng Gunung

BSK adalah akronim dari Baur Sadalu Komunikasi. Ini adalah sebuah acara tahunan milik Program Studi Komunikasi Universitas Airlangga. Tempat dulu saya mendulang ilmu. Diadakan tak lama berselang setelah penerimaan mahasiswa baru. Nama Baur Sadalu sendiri berarti berbaur selama satu malam, meskipun pada kenyataannya BSK selalu diadakan selama dua malam. Tak pelak, banyak dari kami yang menambahkan satu kalimat lagi di belakang BSK, menjadi BSK plus sadalu maneh (satu malam lagi).

BSK selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan, bagi yang mengikuti. Dan tentu saja, dua malam berkumpul, jadi kelihatan aselinya semua. Yang manja jelas kelihatan dan malah jadi bahan olokan. Yang tegar, tentu akan jadi banyak kawan di sini. Di sini ada yang menemukan persahabatan, ada yang menemukan percik-percik jatuh cinta, ada juga menemukan konflik. Beragam, karena itu tak terlupakan.

BSK selalu diadakan dalam bentuk camping di lereng gunung. Biasanya akan dipilih lokasi yang tak jauh dari sungai. Selain jadi pusat kegiatan di pagi hari (buang hajat), sungai juga jadi pokok acara. Dalam beberapa tahun yang sempat saya ikuti, di sungailah para mahasiswa itu resmi dibaiat menjadi keluarga besar Program Studi Ilmu Komunikasi. Kami mesti rela berbasah-basah untuk diguyur dengan cara-cara yang sungguh tak diduga. Mengagetkan namun akhirnya menjadi menyenangkan karena tiba-tiba semua menjadi egaliter.

Baru-baru ini di milis Komunikasi Unair, terdengar kabar bahwa acara BSK 2008 yang baru saja berlangsung menjadi BSK terakhir. Dari baca-baca di milis, banyak yang menilai BSK jauh melenceng dari konsep semula. Awalnya adalah sebagai sebuah ranah perkenalan ke mahasiswa baru, seperti apa dunia komunikasi yang akan mereka hadapi. Karena itu di sela acara yang menguras mental, diselipkan juga acara sharing dengan dosen dan alumni yang sudah bekerja di bidang komunikasi. Tak urung, konsep senior-yunior yang berkembang kemudian menjadi upaya penundukan dan kemudian pembalasan dendam. Padahal bukan itu maknanya. Para alumni dan dosen menganggap, BSK perlu reborn dengan konsep baru agar semua yang ikut mampu mencerapnya.

Sekian tahun saya tak mengikuti perkembangan langsung BSK. Saya tak bisa berkomentar banyak. Tapi kini, ungkapan-ungkapan manis dan lucu tentang BSK yang bermunculan di milis membuat saya kembali mengingat masa-masa itu. Beberapa saya cuplik di sini:

Seni-nya jadi senior tuh disaat dimana tiba2 ada yg teriak “woiii..dimana sleeping bag-ku?!!”,
“mana komporku?!!”.  

Serunya saat
hari pertama ada yang kehilangan senter, tapi pas mau pulang senternya sudah
kembali ke tempatnya lagi…

###

Yang aku kangenin dari BSK :
1. berangkat tas kosong, pulang bawa senter 10..
2. pos-pos yang hanya guyon tanpa bentakan, yang hanya pingin mainin perasaan peserta bukan bikin menderita.
3. pipis bareng.. e’ek bareng..
4. minum minyak gas pagi hari..

###

Pertanyaan paling lucu dari senior adalah:

“Waktu adalah……….. (peserta  menjawab “uang”)………. tapi panitia bilang….TIME!”

Selain mengalami juga hal di atas, kenangan BSK saya adalah memandang bintang yang begitu dekat di depan perapian, membaui kentut sahabat dalam tenda doom yang sempit dan tertutup, menjawab ledekan senior dengan bilang f**k you panitia sambil mengacungkan jari tengah dan tentu saja….pingsan karena kedinginan, itu pun sesaat setelah memesan bakso.

bsk 96

Cerita BSK membuat saya tersadar, di lereng gunung itulah, saya merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas. Dua malam itulah saya juga belajar tentang kawan-kawan yang akan mengiringi perjalanan saya selama beberapa tahun ke depan. Belajar tentang ilmu yang saya pilih karena di keluarga saya tak ada yang memilihnya. Terlebih lagi di ajang ini saya belajar tentang diri saya sendiri.

Saya berharap suatu saat, saya masih bisa datang kembali ke BSK (dalam bentuk reborn) dan menorehkan cerita lagi, kali ini tentang hutan, gunung, sungai dan bintang yang akan saya abadikan,……………semoga.

7 Comment(s)

  1. Kenangan memang selalu indah untuk dikenang.

    yup..bahkan kadang, kenangan dapat membuat kita bertahan..di saat tak ada lagi yang jadi sandaran…

    dana | Oct 26, 2008 | Reply

  2. Berbagi waktu dengan alam…
    :-D

    karena bersama alam banyak hal yang bisa kita renungkan…untuk hidup dan kehidupan..

    Aveline Agrippina | Oct 26, 2008 | Reply

  3. Banyak yang berkata: ketika mendaki gunung, saat itulah karakter asli seseorang akan muncul ke permukaan.

    Kalau BSK beranjak melenceng dari pakemnya, mau bagaimana, negeri ini masih mengidap fasisme tingkat akut.

    “Di sini ada yang menemukan persahabatan, ada yang menemukan percik-percik jatuh cinta, ada juga menemukan konflik.”

    Dan kamu, yang mana? Hehe!

    fasisme akut…ah ya betul…sudah mendarah daging dan masuk ke berbagai lini…

    dan aku?…tentu saja dengan bilang f**k ke panitia aku menemukan konflik…bukan sahabat baik status quo sih :p

    Daniel Mahendra | Oct 26, 2008 | Reply

  4. bsk yang terakhir? walah! mungkin juga muncul akibat berbagai peristiwa kekerasan dan jadi ajang balas dendam antara senior dan yunior sehingga bsk disemprit, hiks. padahal kalau berlangsung dg cara yang benar, bsk, menurutku, bisa menjadi sarana yang tepat utk saling berkomunikasi secara akrab di alam terbuka. namanya juga jurusan komunikasi, weks.

    dari yang saya baca di milis, itu salah satu hal yang jadi bahan pertimbangan pak. Soalnya urusan senior yunior bukannya saling sharing tapi malah lebih ke bentak2 atau nyuruh. yah, meskipun tak ada kekerasan fisik kaya kasus2 sekolah pemerintahan itu, tapi tujuan awal bukan buat seenak2nya. Lagipula apa juga maknanya nyuruh2 gitu. Latih mental? ndak harus begitu juga caranya kan…

    bsk memang awalnya bertujuan saling komunikasi dengan output para mahasiswa baru kenal lebih dalam seluk beluk prodi nya…makanya waktu saya dulu, masing2 kelompok punya kata sandi yang disusun dari teori2 ilmu komunikasi…jadi ngapalin teori sambil camping…seru kan?

    sawali tuhusetya | Oct 26, 2008 | Reply

  5. senang ada yang bisa dikenang dari masa lalu :)

    ah..kadang kita ini manusia masa lalu bukan…tak bisa lepas dari masa lalu…

    sekelebatsenja | Oct 26, 2008 | Reply

  6. dalam kenangan, masihkan ada kerinduan disana ?

    masih…pada rindang pohon, pada semilir angin gunung, pada kerjab bintang di waktu malam, pada kesegaran air sungai, pada persahabatan dan kebersamaan…

    ekomagelang | Oct 27, 2008 | Reply

  7. Naik naik kepuncak gunung tinggi tinggi sekayii…kili kanan kulihat saja, banyak pohon stlobelii…Wah asyik banget tuh campingna mbakk

    stobeli? mana? kupetik semuanyaaaaaaaaa…:p

    Nyante aza LAe | Nov 6, 2008 | Reply

Post a Comment


Comments links could be nofollow free.