Sepenggal Memory di Lereng Gunung
Posted by Lisa Febriyanti on Oct 26, 2008 in ladang kisah
BSK adalah akronim dari Baur Sadalu Komunikasi. Ini adalah sebuah acara tahunan milik Program Studi Komunikasi Universitas Airlangga. Tempat dulu saya mendulang ilmu. Diadakan tak lama berselang setelah penerimaan mahasiswa baru. Nama Baur Sadalu sendiri berarti berbaur selama satu malam, meskipun pada kenyataannya BSK selalu diadakan selama dua malam. Tak pelak, banyak dari kami yang menambahkan satu kalimat lagi di belakang BSK, menjadi BSK plus sadalu maneh (satu malam lagi).
BSK selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan, bagi yang mengikuti. Dan tentu saja, dua malam berkumpul, jadi kelihatan aselinya semua. Yang manja jelas kelihatan dan malah jadi bahan olokan. Yang tegar, tentu akan jadi banyak kawan di sini. Di sini ada yang menemukan persahabatan, ada yang menemukan percik-percik jatuh cinta, ada juga menemukan konflik. Beragam, karena itu tak terlupakan.
BSK selalu diadakan dalam bentuk camping di lereng gunung. Biasanya akan dipilih lokasi yang tak jauh dari sungai. Selain jadi pusat kegiatan di pagi hari (buang hajat), sungai juga jadi pokok acara. Dalam beberapa tahun yang sempat saya ikuti, di sungailah para mahasiswa itu resmi dibaiat menjadi keluarga besar Program Studi Ilmu Komunikasi. Kami mesti rela berbasah-basah untuk diguyur dengan cara-cara yang sungguh tak diduga. Mengagetkan namun akhirnya menjadi menyenangkan karena tiba-tiba semua menjadi egaliter.
Baru-baru ini di milis Komunikasi Unair, terdengar kabar bahwa acara BSK 2008 yang baru saja berlangsung menjadi BSK terakhir. Dari baca-baca di milis, banyak yang menilai BSK jauh melenceng dari konsep semula. Awalnya adalah sebagai sebuah ranah perkenalan ke mahasiswa baru, seperti apa dunia komunikasi yang akan mereka hadapi. Karena itu di sela acara yang menguras mental, diselipkan juga acara sharing dengan dosen dan alumni yang sudah bekerja di bidang komunikasi. Tak urung, konsep senior-yunior yang berkembang kemudian menjadi upaya penundukan dan kemudian pembalasan dendam. Padahal bukan itu maknanya. Para alumni dan dosen menganggap, BSK perlu reborn dengan konsep baru agar semua yang ikut mampu mencerapnya.
Sekian tahun saya tak mengikuti perkembangan langsung BSK. Saya tak bisa berkomentar banyak. Tapi kini, ungkapan-ungkapan manis dan lucu tentang BSK yang bermunculan di milis membuat saya kembali mengingat masa-masa itu. Beberapa saya cuplik di sini:
Seni-nya jadi senior tuh disaat dimana tiba2 ada yg teriak “woiii..dimana sleeping bag-ku?!!”,
“mana komporku?!!”.Serunya saat
hari pertama ada yang kehilangan senter, tapi pas mau pulang senternya sudah
kembali ke tempatnya lagi…###
Yang aku kangenin dari BSK :
1. berangkat tas kosong, pulang bawa senter 10..
2. pos-pos yang hanya guyon tanpa bentakan, yang hanya pingin mainin perasaan peserta bukan bikin menderita.
3. pipis bareng.. e’ek bareng..
4. minum minyak gas pagi hari..###
Pertanyaan paling lucu dari senior adalah:
“Waktu adalah……….. (peserta menjawab “uang”)………. tapi panitia bilang….TIME!”
Selain mengalami juga hal di atas, kenangan BSK saya adalah memandang bintang yang begitu dekat di depan perapian, membaui kentut sahabat dalam tenda doom yang sempit dan tertutup, menjawab ledekan senior dengan bilang f**k you panitia sambil mengacungkan jari tengah dan tentu saja….pingsan karena kedinginan, itu pun sesaat setelah memesan bakso.

Cerita BSK membuat saya tersadar, di lereng gunung itulah, saya merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas. Dua malam itulah saya juga belajar tentang kawan-kawan yang akan mengiringi perjalanan saya selama beberapa tahun ke depan. Belajar tentang ilmu yang saya pilih karena di keluarga saya tak ada yang memilihnya. Terlebih lagi di ajang ini saya belajar tentang diri saya sendiri.
Saya berharap suatu saat, saya masih bisa datang kembali ke BSK (dalam bentuk reborn) dan menorehkan cerita lagi, kali ini tentang hutan, gunung, sungai dan bintang yang akan saya abadikan,……………semoga.


Kenangan memang selalu indah untuk dikenang.
dana | Oct 26, 2008 | Reply
Berbagi waktu dengan alam…
Aveline Agrippina | Oct 26, 2008 | Reply
Banyak yang berkata: ketika mendaki gunung, saat itulah karakter asli seseorang akan muncul ke permukaan.
Kalau BSK beranjak melenceng dari pakemnya, mau bagaimana, negeri ini masih mengidap fasisme tingkat akut.
“Di sini ada yang menemukan persahabatan, ada yang menemukan percik-percik jatuh cinta, ada juga menemukan konflik.”
Dan kamu, yang mana? Hehe!
Daniel Mahendra | Oct 26, 2008 | Reply
bsk yang terakhir? walah! mungkin juga muncul akibat berbagai peristiwa kekerasan dan jadi ajang balas dendam antara senior dan yunior sehingga bsk disemprit, hiks. padahal kalau berlangsung dg cara yang benar, bsk, menurutku, bisa menjadi sarana yang tepat utk saling berkomunikasi secara akrab di alam terbuka. namanya juga jurusan komunikasi, weks.
sawali tuhusetya | Oct 26, 2008 | Reply
senang ada yang bisa dikenang dari masa lalu
sekelebatsenja | Oct 26, 2008 | Reply
dalam kenangan, masihkan ada kerinduan disana ?
ekomagelang | Oct 27, 2008 | Reply
Naik naik kepuncak gunung tinggi tinggi sekayii…kili kanan kulihat saja, banyak pohon stlobelii…Wah asyik banget tuh campingna mbakk
Nyante aza LAe | Nov 6, 2008 | Reply