Jendela Kecil

jendela

INT.RUANG KERJA DIN-SIANG

Din dengan kaos oblong abu-abu dan celana jeansnya. Rin, dengan kostum kebanggaannya, kaos hitam pas di badan, celana bersaku banyak a la backpacker.

Din dan Rin duduk berhadapan, terhalang meja panjang yang penuh dengan peralatan komputer. Milik Din semuanya. Sedikit berserakan headset, external HD, mouse yang tersambung dengan laptop menjulurkan kabel yang agak panjang, tertarik lebih dekat ke sisi Din. Di ujung meja, teronggok paduan printer, scanner dan copy machine. Semuanya di satu meja.

Din memegang gelas kopinya. sudah tidak mengepul lagi. Rin, memilih cangkir kecil. Teh. Rin memainkan ujung-ujung cangkirnya.

Ruangan Din didekorasi berwarna terang. Di pojok, berseberangan dengan meja panjang itu, sebuah sofa kosong terbuka. Lemari tinggi dua pintu diletakkan tak jauh dari sofa itu. Kelambu berwarna coklat menjadi nuansanya.

Sinar matahari siang menerobos dari jendela besar dekat meja. Din dan Rin saling pandang. Dalam diam beberapa saat. Lalu dialog dalam sunyi itu pun dimulai.

Rin:
Inilah bedanya kita, Din.

Din:
What?

Rin:
Dunia kita

Din:
Kok?

Rin:
Bagimu, dunia begitu kecil. Sementara aku, dunia sangat luas.

Din:
Explain to me, please…

Rin:
Inilah duniamu, di meja ini. komputer dan internet. Sementara aku, memilih menjadi pengamat langsung, mendatangi tempat-tempat untuk menyesap eloknya, menari bersama budayanya.

Din:
Pengamat langsung?

Rin:
Ya, di tempat-tempat yang bisa kujangkau.

Din:
Terus?

Rin:
Kau tahu kita ini sesungguhnya lahir sebagai adventurer. Penjelajah. Saat ini kau menjelajah dengan tangan dan otakmu. Sementara aku, memilih untuk belajar dengan datang langsung ke tempat itu.

Din:
Ya, kamu backpacker sejati. Sementara aku menghabiskan waktu di depan monitor.

Rin:
(tersenyum)

Din:
Nasibku ya..(tangan Din mempermainkan bibir cangkir)

Rin:
There’s nothing wrong with that. Bukankah jangkauanmu lebih luas. meski hanya melalui sebuah jendela kecil. Dengan jendela ini kau mendapatkan semua yang kau butuhkan untuk memaknai hidupmu. Buktinya kau lebih banyak jadi tempat aku bertanya.

Din:
14,1 inchi saja. Kecil sekali.
(menunjukkan wajah sedih)

Rin:
Jangan sedih. Malah banyak yang bisa kau dapatkan kan?

Din:
Satunya luas. Satunya kecil. Ketemu dimana?

Rin:
Bukankah saat pengembaraanku lewat di depan jendelamu? Aku melongok sebentar, ternyata membuatku mampir. Dan inilah aku sekarang. di hadapanmu.

Din:
Kau bisa tinggal?

Rin:
Aku ingin tinggal

Din:
Bisakah? Kau akan meninggalkan petualanganmu? Budaya yang ingin kau lihat. Panorama yang ingin kau sesap?

Rin:
Apa yang kau punya?

Din:
Tak ada lagi.
Hanya jendela kecil ini. Dengan satu tawaran, aku akan membawamu kemanapun aku menjelajah.

Rin:
Kemanapun? Berdua?
Bukankah itu juga petualangan?
Kemanapun, sungguh?

Din:
Di ranah yang berbeda.kita berbagi dunia.

Rin:
Belasan jam perjalananku, Din. Aku sudah di sini. Ini sudah jawaban kan?

Din terdiam. Tidak menjawab. Tapi senyum terkembang di wajahnya. Dan kembali ke jendelanya…lagi. Rin hanya memandanginya.


catatan: dimanapun berada, selebar apapun jeda, sebuah jendela kecil selalu ada…….

gambar diambil dari sini

4 Comment(s)

  1. hanya sebuah jendela kecil tapi sanggup menyibak relung2 dunia hingga ke batas2 tertentu yang tak terjangkau secara fisik. jendela kecil itu jga memberikan banyak pelajaran dan pengalaman berharga. saya sendiri tak tahu, apa arti sesungguhnya jendela kecil itu buat para petualang sejati? tapi sejatinya, tanpa lewat jendela kecil itu, saya mungkin juga tak sanggup mengenal siapa sesungguhnya sosok yang berada di balik nama icha, haks, kekekeke :grin:

    ah bapak…jadi penasaran..seperti apa seorang icha ini yang dikenal oleh pak sawali..hehehehe

    sawali tuhusetya | Oct 16, 2008 | Reply

  2. Real and not real.
    Tapi intinya tetap: soal bagaimana cara pandang terhadap sesuatu.
    Dalam, Cha!

    berapa meter? hehehehe

    Daniel Mahendra | Oct 17, 2008 | Reply

  3. ck..ck..ck.. ladangkata berevolusi dari hari – ke hari..tambah kagum ma tulisan2nya Mbak…
    =-=-=-=-=-=-=
    tapi ga semua 14,1,punyaku 17 inch,sekalian buat nonton tipi’ :-P =))

    cm4nk | Oct 21, 2008 | Reply

  4. menyibak “gelap” melalui sesuatu alur misteri yang sebenarnya tidak misteri kisahnya, karena ‘jendela kecil’ sama ada di diri Din dan Rin dimana akan berpetualang bersama-sama kemudian. gaya tulisan yang memberi tenaga..

    yap | Apr 15, 2010 | Reply

Post a Comment