Cinta dalam Temaram Lampu Ublik
Posted by Lisa Febriyanti on Oct 15, 2008 in ladang inspirasi, ladang kisah
Untuk kekasihku, May..
Aku buat surat ini dalam temaram lampu ublik di rumah petakku yang sempit. Ah, maaf bukan rumahku. Aku hanya sanggup menyewanya. Kenapa aku harus menyalakan ublik malam ini? Bukan karena aku mau sok romantis atau mencuri inspirasi dari kedap kedipnya. Hanya ada satu alasan, aku belum bayar tunggakan listrik. Satu-satunya pemasok listrik di negara ini tak ambil peduli atas kekosongan kantungku. Mereka hanya mengukur angka-angka. Jika tak lagi menuruti aturan mereka, gelaplah yang harus jadi temanku.
Kau pasti lalu bertanya, dimana uang gajiku? Ah May, ibuku sudah tiga bulan ini harus terbaring sakit di kampung. Dan aku, sebagai anak tertuanya, meski hanya bekerja sebagai buruh di pabrik harus ikut menanggungnya. Gajiku yang katanya sudah memenuhi UMR, namun sebenarnya tak memenuhi standar kehidupan layak ini harus tersisih untuk membeli obat ibu. Padahal, jika aku hitung-hitung keuntungan pemilik pabrik bisa puluhan kali lipat dari komponen gaji para buruhnya. Apa boleh buat, ini era kapitalis yang juga telah tunduk pada aturan globalisasi. Yang punya modal, yang perkasa, dialah yang jadi jawara.
Meski tiap bulan aku selalu mengirimkan uang ke kampung, tetap saja itu tak bisa dijadikan tambahan untuk membeli sebuah kesehatan. Kau tahu May, di negeri ini kesehatan bukan milik kami. Bukan milik keluargaku yang turun temurun hidup dalam kungkungan kata “miskin”. Bagi kami, kemiskinan adalah hakikat. Ayahku adalah buruh tani, ayah dari ayahku juga buruh tani, buyutku pun buruh tani. Jika kau kira petani pasti memiliki keuntungan berlipat karena sebagian besar penduduk negeri ini makan nasi, kau salah, May. Zaman bergerak, tapi kami tetap tak bisa memiliki sendiri tanah yang bisa digarap. Kemiskinan adalah warisan yang terus diturunkan.
May yang menggemaskan…
Petang tadi aku mencerap purnama yang bulat. Aduh, bulatnya mengingatkanku pada bulat wajahmu. Tapi maafkan aku May, aku masih belum bisa membulatkan tekad untuk bisa segera menyandingmu. Aku takut May, aku belum punya apa-apa yang bisa kupersembahkan untuk sebuah keluarga. Kurun waktu berlalu dan himpitan ekonomi meski di tengah negara yang katanya kaya akan sumber daya alam ini menyurutkan langkahku.
Apalah aku ini May. Hanya seorang buruh. Gajiku saja masih tak layak untuk hidup ala bujang. Bagaimana jika aku nanti punya anak? Aku tak ingin saat anakku lahir sudah harus terpatri kemiskinan di punggungnya. Aku tak ingin anakku tak bisa sekolah karena tak mampu membayar uang pangkalnya yang sungguh mahal, atau untuk membeli buku untuk ia baca. Aku tak ingin ia kekurangan gizi untuk tubuh dan otaknya.
Kau pasti akan bilang, rejeki pasti ada. Kesempatan pasti terbuka. Ah May, mungkin kau belum tahu, kata kemiskinan sudah menutup banyak kesempatan. Usaha? Aduh May, kau lihatlah sendiri, bagaimana aku sudah berusaha. Susah payah keluargaku menyekolahkan aku hingga tamat SMA. Disuruhnya aku merantau di ibukota agar punya kehidupan yang layak. Aku tetap berujung di sini. Tetap juga pekerjaan sebagai buruh tak lepas dari kami. Mungkin, jika saja mereka mampu menyekolahkan aku lebih tinggi lagi, aku sudah jadi orang kantoran yang berdasi. Tapi kami tak punya uang. Kami ini miskin, cukuplah jatah orang miskin di sini. Dan untuk itu, cintaku padamu, juga harus menanti lebih lama lagi
Meski 60 tahun sudah negeri ini merdeka, masih terserak di luar sana ruam ruam kemiskinan yang jadi pendamping rona-rona gemerlap konglomerasi. Tengoklah sebentar May. Jangan hanya melihat gedung-gedung megah, mall, apartemen atau tempat-tempat hiburan yang kian ramai itu. Berkunjung sejenak ke kampungku, kau akan lihat, kami belum tersapa kemajuan.
Ah, jangan jauh-jauh. Kapan-kapan akan aku ajak engkau ke pinggiran kali di salah satu sudut ibukota, atau menyusur bedeng-bedeng dekat rel kereta api. Kau akan lihat sendiri, di sana hidup layak masih jadi utopia.
May…
Minyak lampuku hampir habis sekarang. Uang di kantongku hanya cukup untuk makan, esok mungkin aku akan kembali berhutang pada Warung Mak Darmo untuk membeli minyak.
Aku tak sendirian. Di luar sana, tak kurang yang masih juga berkawan kemiskinan sepertiku. Jangan sedih ya………..
Pelukku dalam temaram lampu ublik
Amirulah
catatan:

2020 Indonesia bebas dari kemiskinan, waduh bisa gak ya?? (mimik pesimis)
sejutaasa | Oct 15, 2008 | Reply
sungguh saya lupa kalau tanggal 14 ini ada event blog action daya, tidak menyiapkan postingan, haks. ceritanya menyentuh dan sungguh mengharukan. meskin fiktif, kisah2 semacam itu dengan mudah kita temukan di berbagai sudut dan lini perkampungan. entah sampai kapan, negeri ini peduli pada warganya yang miskin dan menderita.
sawali tuhusetya | Oct 16, 2008 | Reply
Ini curhatan apa cerpen ya??
albri | Oct 16, 2008 | Reply
Mas Amir tersayang,
May sudah terima surat yang Mas kirim. Makasih Mas..meski dalam kondisi terbatas, Mas masih selalu memberikan kabar. May sangat menghargai itu.. Senang? Ahh.. jangan kamu tanyakan itu Mas. Hampir setiap saat aku menunggu kabar darimu…
Mas…May sadar kondisi yang sedang Mas Amir hadapi. May rela menunggu sampai Mas Amir siap meminang May ke pelaminan. Sampai kapan pun itu..
Mas Amir yang tampan..
Kemaren hari, May sempat ngobrol sama Nyak dan Babe. May utarakan kondisi yang sedang Mas Amir hadapi. Dan sebenarnya Nyak dan Babe memaklumi itu. Masalahnya Mas, Nyak dan Babe sudah tak sabar untuk menggendong momongan. Belum lagi itu anak Pak Haji sebelah yang entah sudah berapa kali meminta dengan tulus kepada May agar mau menjadi pendampingnya. Pak Haji malah beberapa kali nanya sama Babe, “Kapan nih gawe kita?”. Nah bingung kan Mas.. kalau sudah begini, May harus bagaimana?
Mas…
May nggak nuntut banyak. May rasa, Nyak dan Babe juga begitu. Dan ingat Mas, rejeki di tangan Allah. Jadi, tolong kasih kepastian ya Mas..May juga ingin bahagiakan Nyak dan Babe.
Salam sayang,
May June July
maskarebet | Oct 16, 2008 | Reply
Satir lagi….keren Mbak …
=-=-=-=-=
*menjura*
cm4nk | Oct 16, 2008 | Reply
Mesra, tapi juga menyayat.
Indah, tapi juga miris.
Cantik, tapi juga membumi.
Penih kasih, tapi juga realistis.
Lembut, tapi juga menyimpan kekuatan.
Santun, namun juga menyisakan keyakinan.
Ini potret.
Tapi apa boleh buat: tetap mesti ada yang diperbuat. Ada yang diperjuangkan.
Daniel Mahendra | Oct 17, 2008 | Reply