Dia Yang Ingin Kujabat Tangannya
Posted by Lisa Febriyanti on Oct 13, 2008 in ladang baca, ladang kisah
Saya mengamatinya dari jauh. Dia menggunakan setelan a la eropa dengan rambut klimis dibelah tengah. Dasi kupu dan topi a la al capone. Sebelum saya mendekatinya lebih jauh, saya mempelajari lagi profilnya.
Bagi kita yang hidup di era generasi Y sekarang ini, nama Marco Kartodikromo tentu akan aneh kedengarannya. Bukan hanya aneh, generasi Y atau bahkan mungkin generasi X tak mengenalnya. Tak mengenal sosok teguh yang menjadi pelopor jurnalistik di indonesia ini. Karena dia banyak disingkirkan, karena pemikirannya dan usahanya.
Marco Kartodikromo (Mas Marco) lahir di Cepu. Jurnalis sekaligus penggerak revolusi pada masa penjajahan Belanda. Tak heran hidupnya keluar masuk penjara. Dia lah pendiri organisasi wartawan Inlandsche Journalisten Bond pada tahun 1914. Lahir dari orang tua priyayi rendahan, namun dia berhasil mendapat pekerjaan sebagai juru tulis. Dari pekerjaan inilah membuatnya berkenalan dengan “Sang Pemula”, RM Tirto Adhi Soerjo. Dari TAS, Mas Marco belajar tentang jurnalistik dan organisasi modern.
Sepeninggal TAS, Mas Marco mendirikan surat kabar sendiri yang diberi nama Doenia Bergerak. Di media ini Mas Marco lantang bersuara, mengkritisi pemerintahan kolonial, hingga akhirnya dibuang di Boven Digoel dan meninggal di sana. Tulisan-tulisannya justru banyak lahir dari penjara, dan hampir semuanya bergaya realisme sosialis.
Karya-karyanya adalah:
- Mata gelap (1914)
- Student hijo (1918)
- Matahariah (1919)
- Rasa mardika (1918)
- Sair rempah-rempah (1918)
- Sair sama rata sama rasa (1917)
- Babad tanah jawi (1924-1925)
Sebuah buku di tangan saya, berjudul Student Hijo. Buku yang bercerita tentang kelahiran intelektual pribumi dari kalangan borjuis kecil dan berani datang ke belanda dan mendapatkan pengakuan bahkan dihormati di sana. Berbagai kritikan juga terhadap hubungan Belanda-Jawa dilontarkan juga di novel ini.
dia masih disana…saya lalu menghampiri…ingin berjabat tangan dengannya..
Dan ketika ia telah lagi selesai berjabatan tangan denganmu, ia berbalik badan, berjalan masuk ke dalam ruangan.
Aku bangkit dan bertanya padanya: “Siapa dia, Toean? Siti Soendari kah?”
“Kau kenal padanya? Dia penulis. Dari Soerabaija…”
“Oh…”
Daniel Mahendra | Oct 13, 2008 | Reply
Hmm Marco, TAS, lho Daniel Mahendra..
wah pasti dekat-dekat dengan Pramoedya hahahaha…:)
Donny Verdian | Oct 14, 2008 | Reply
bang mana ulasan tentang novel rasa mardika karya sumantri…aku butuh banget ulasan itu. sebenarnya aku punya novelnya, tp tidak seberapa jelas, itu aja kenang-kenangan dari pak sunu wasono(dosen ui)..ok aku tunggu.trim ats semuanya..SALAM PERJUANGAN
AGUS SULTON | Feb 11, 2009 | Reply