Perih dan Pedas

edisi gambar akhir pekan

iris

 

menjalani kehidupan kadang seperti bersahabat dengan cabe. kita tahu, saat mengirisnya, terselip sebuah risiko melukai tangan, tapi perihnya tak membuat kita jera untuk meramu cabe dalam masakan. kita tahu, saat mengunyahnya, bersembunyi sebuah risiko yang melilit perut kita, tapi pedasnya tak membuat kita serik…

bukankah kita belajar dari perih dan bukankah pedasnya membuat kehidupan lebih nikmat?

7 Comment(s)

  1. serik itu apa sih?

    Ya, hidup adalah penderitaan yang mengasikkan.

    serik, sama dengan kapok atau jera..

    dana | Oct 12, 2008 | Reply

  2. apapun kejadian dalam kehidupan ini hidup harus tetap jalan, life must go on !

    siappppppppppp ndan! :p

    sejutaasa | Oct 13, 2008 | Reply

  3. wew…. kita mesti belajar dari filsafat cabe, nih, mbak icha. dah tahu kalau cabe itu pedes ternyata banyak orang yang ndak kapok utk merasakannya. mudah2an kalau bertobat ndak seperti filsafat cabe itu, ya, mbak, kekeke …. :grin:

    waduh pak…menyitir kaya teks iklan…gak pedas gak belajar katanya…tapi kalo tiap hari kepedasan…ya salah sendiri ya hehehhehehe

    sawali tuhusetya | Oct 13, 2008 | Reply

  4. cabe dan pedas
    kesukaan saya mbak. maklum sudah terbiasa. baik dalam hal makanan maupun kehidupan. itu pula yang membuat kita menjalani hidup lebih arif tentunya

    kapan-kapan saya diajarin agar lebih tahan sama pedasnya ya pak…:)

    z | Oct 13, 2008 | Reply

  5. Terkadang cinta kerap menyakitkan. Tapi kita tetap saja terus dan terus jatuh pada cinta. Aha!

    karena cinta punya masa, ia butuh dijaga dan dipertahankan..sedangkan jatuh cinta…tak punya batasan…iya kan?

    Daniel Mahendra | Oct 13, 2008 | Reply

  6. kalo kata orang sy, “kapok lombok”
    dah tahu pedas n bikin perut melilit, masih aja dimakan :)

    ya mbak…apalagi kalo sambelnya hoo ha yg di dharmawangsa ya…wuih…ndak kapok2 balik lagi

    vin | Oct 14, 2008 | Reply

  7. Haih! Betul juga…

    Daniel Mahendra | Oct 16, 2008 | Reply

Post a Comment