Perih dan Pedas
Posted by Lisa Febriyanti on Oct 12, 2008 in ladang gambar, ladang kisah
edisi gambar akhir pekan

menjalani kehidupan kadang seperti bersahabat dengan cabe. kita tahu, saat mengirisnya, terselip sebuah risiko melukai tangan, tapi perihnya tak membuat kita jera untuk meramu cabe dalam masakan. kita tahu, saat mengunyahnya, bersembunyi sebuah risiko yang melilit perut kita, tapi pedasnya tak membuat kita serik…
bukankah kita belajar dari perih dan bukankah pedasnya membuat kehidupan lebih nikmat?
serik itu apa sih?
Ya, hidup adalah penderitaan yang mengasikkan.
dana | Oct 12, 2008 | Reply
apapun kejadian dalam kehidupan ini hidup harus tetap jalan, life must go on !
sejutaasa | Oct 13, 2008 | Reply
wew…. kita mesti belajar dari filsafat cabe, nih, mbak icha. dah tahu kalau cabe itu pedes ternyata banyak orang yang ndak kapok utk merasakannya. mudah2an kalau bertobat ndak seperti filsafat cabe itu, ya, mbak, kekeke ….
sawali tuhusetya | Oct 13, 2008 | Reply
cabe dan pedas
kesukaan saya mbak. maklum sudah terbiasa. baik dalam hal makanan maupun kehidupan. itu pula yang membuat kita menjalani hidup lebih arif tentunya
z | Oct 13, 2008 | Reply
Terkadang cinta kerap menyakitkan. Tapi kita tetap saja terus dan terus jatuh pada cinta. Aha!
Daniel Mahendra | Oct 13, 2008 | Reply
kalo kata orang sy, “kapok lombok”
dah tahu pedas n bikin perut melilit, masih aja dimakan
vin | Oct 14, 2008 | Reply
Haih! Betul juga…
Daniel Mahendra | Oct 16, 2008 | Reply