Mereka yang (Di)hilang(kan)
Posted by Lisa Febriyanti on Sep 24, 2008 in ladang kisah, ladang puisi
Hari ini adalah ulang tahun seorang sahabat yang masih hilang. Petrus Bima Anugerah. Sejak 1998, Bimpet–demikian kami semua memanggilnya– dihilangkan secara paksa oleh Orde Baru. 10 tahun berlalu, tak ada kabar menggembirakan yang kami terima.

Setahun lalu, kami para kameradnya bekerja keras mengusahakan pembangunan monumen untuk Bimpet dan satu kawan kami lagi, Herman Hendrawan, yang juga masuk dalam daftar orang hilang. Karena keduanya adalah keluarga besar Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, monumen itu akan dibangun di taman FISIP Unair sebagai pengingat semangat mereka berdua. Dengan gigihnya mereka ada di garda depan dalam menyuarakan perubahan untuk negeri ini. Tak hirau nyawa, atas nama keadilan yang harus ditegakkan.
Monumen yang sudah didesain dengan cantiknya oleh Dolorosa Sinaga itu, telah kami ajukan perizinannya kepada pihak kampus. Pejabat yang berwenang di era itu memberikan lampu hijau untuk mengumpulkan dana dan terus berkoordinasi dengan Dolorosa untuk pembuatannya. Satu hal yang mereka minta, tidak merubah kolam kecil yang sudah ada di sana. Desain pun akhirnya berubah, kolam di sana tetap ada dengan sedikit tambahan untuk mempercantik.
Kawan-kawan di Surabaya jalan ke sana kemari dengan proposal dana di tangan. Cukup banyak yang harus terkumpul. Bagi kami bukan soal banyaknya, tapi arti dari perjuangan Bimpet dan Herman yang tak ternilai harganya. Meski mereka masih belum kembali, tapi monumen itu menjadi sebuah penanda bagi generasi saat ini, bahwa sepercik api perjuangan reformasi pernah lahir dari sini.
Hari ini, di ulang tahun Bimpet, saya justru mendengar kabar yang menyedihkan. Usaha kami mendirikan monumen harus dikandangkan. Pejabat kampus yang berwenang telah berganti. Sang pejabat baru yang notabene mantan anggota Komnas HAM justru menolak pendirian monumen. Alasannya, monumen itu terlalu politis. Hah? ini jauh dari logika berpikir kami. Apakah kampus FISIP dibersihkan dari pembelajaran politik? Para mahasiswa itu apakah hanya disuruh belajar buku-buku kuliah saja, kemudian setelah lulus memenuhi kebutuhan pasar ekonomi kapital? Padahal di situlah kawah candradimuka pembelajaran kehidupan, tempat lahir bibit-bibit baru yang lebih paham kondisi rakyat. Kampusku, terus menjadi menara gading diantara kepungan kesejahteraan rakyat yang tercabik-cabik.
Hari ini, suara gitar Bimpet mengiang di telinga saya. Tak ada tangan yang bisa saya jabat untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Masa-masa “perjuangan” kami dulu menggenang bersama sedih karena ketakutan-ketakutan birokrat membuat kami harus sekali lagi kalah…
HILANG
Ayo pulang
Bapak dan Ibumu selalu menunggu tiap natal
Kami semua rindu petikan gitarmu
Sudahlah cukup
Predikat pelajar teladanmu menunggu untuk kau elaborasi
Pasti kaca matamu kini kian tebal
Kami semua rindu diskusi denganmu
Dengar seruan kami?
Kenapa kalian diam?
Siapa yang membungkam?
Kemana lagi harus kucari?
Dimana mereka meletakkanmu?
Apa yang biadab itu lakukan padamu?
Kokohmu
Briliantmu
Kobarmu
Tak kutemui lagi
Aku terus bergerak
Aku tak mau berhenti
Hingga bisa kusapa engkau lagi, Petrus Bima Anugerah dan Herman Hendrawan
Herman Hendrawan, mahasiswa jurusan Ilmu Politik 1990, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Aktif sebagai organisator di Partai Rakyat Demokratik (PRD). Terlihat terakhir di tahun 1998. Anak muda yang pintar, pernah menjadi pelajar teladan se Indonesia dan rendah hati. Masih hilang hingga kini.
Diberangus karena keyakinan dan ideologi yang berbeda? Hmm..
=-=-=
apa terlalu apatis kalo saya katakan,sejarah bukan apa-apa,karena sejarah hanya buatan pemenang??
cm4nk | Sep 24, 2008 | Reply
Mereka sudah melakukan sesuatu.
Meski demikian, kebenaran memang tetap mesti dikabarkan. Diperjuangkan. Bagaimana pun.
Daniel Mahendra | Sep 24, 2008 | Reply
Turut berdoa..semoga teman kita sahabat kita bisa cepat di ketemukan dan jikalau memang beliau-beliau sudah terlebih dahulu Menghadapnya…mudah-mudahan amal bhaktinya bisa membawa ke alam fana dengan sejuta keindahan baginya…
Jonbetta | Sep 24, 2008 | Reply
mereka layak dikenang sebagai pahlawan pencerahan….Semoga dimanapun mereka berada selalu di tempat yang mulia. Amin
sejutaasa | Sep 25, 2008 | Reply
Kadang kejujuran dan keadilan harus berakhir demikian. Masih banyak Bima lainnya yang sampai kin belum ditemukan atau ditemukan dalam keadaan tak bernyawa (contohnya: WIdji Thukul dan Munir)
Haruskah selalu perjuangan mereka berakhir demikian? Seharusnya TIDAK!
Aveline Agrippina | Sep 25, 2008 | Reply
Berasa banget lagu efek rumah kaca – di udara…
bener2 dah rezim… ck ck ck
utchanovsky | Sep 26, 2008 | Reply
Lha… mungkin salah penulisannya kali ya…
Seharusnya ditulis “Masih banyak Bima lainnya yang sampai kin belum ditemukan (contohnya : WIdji Thukul) atau ditemukan dalam keadaan tak bernyawa (contohnya:Munir)”
Aveline Agrippina | Sep 27, 2008 | Reply
Doaku untuk mereka
langitjiwa | Oct 7, 2008 | Reply
Duhhh icha,
Kau buat aku kembali menangis mengingat kedua teman kita.
Kau juga buat aku kembali menangis mengingat perjuangan mereka.
Semoga mereka berdua tidak menangis melihat aku menjadi seperti ini.
Rinto | Oct 9, 2008 | Reply
Tidak pernah kering air mata ini untuk Bimpet yang tidak mampu menepati janjinya untuk mencarikan sekolah katholik terbaik di Jakarta bagi Cadas….Juga Herman yang berjanji akan menemaniku jika aku pindah ke Jakarta….
Nia Damay | Nov 2, 2008 | Reply
Herman, tak pernah lupa perjalanan kita bermotor srby-jember dan kita kebablasan 70km. Bimpet, kapan kita bisa cari warung makan favorit kita yang murah, yang porsinya banyak dan tentu saja, kotor ?
”Para penculik itu sekarang mau jadi presiden!”
http://sukab.wordpress.com/2008/11/16/ibu-yang-anaknya-diculik-itu/
Rinto Siparu paru Basah | Jan 10, 2009 | Reply
aq juga bete x ngeliat tampang belagu en sok patriotis mereka.
so kalo emang bisa mengembalikna hdp kawan2 yg telah hilang, baiknya para penculik tersebut diapain cha?
aryf | Jan 12, 2009 | Reply