Saya, Sastra dan Pramoedya Ananta Toer
Posted by Lisa Febriyanti on Sep 23, 2008 in ladang baca, ladang kisah

Begitu namanya disebut, rasanya tak perlu saya jelaskan siapa sosok Pramoedya Ananta Toer (PAT). Sang legenda sastra indonesia dan tentu saja inspirasi saya.
Dialah sosok yang menjadi pemicu cinta saya pada dunia sastra. Dan pada sebuah halaman persembahan hidup, akan saya tulis ucapan terima kasih dan hormat sedalam-dalamnya padanya. Karena dia dan karyanya telah membuat saya nekat menyeburkan diri ke dunia sastra nan indah ini.

Proses untuk menjadi penulis seperti sekarang ini tidak pernah lepas dari sebuah buku foto kopian berjudul BUMI MANUSIA (BM). Saya ingat, saat itu tahun 1994. sebuah buku foto kopian berpindah ke tangan saya. Jujur, waktu itu saya tak kenal siapa PAT. Yang saya tahu, dari sekilas membaca, buku ini berkisah tentang sejarah yang menarik. Jadilah malam itu, saya pakai sistem kebut semalam menyelesaikan tuntas buku itu hingga di kalimat terakhir, “Kita sudah berusaha, nyo. sebaik-baiknya. sehormat-hormatnya.”
Malam itu, rasanya ada yang tercerahkan dalam jiwa saya. Melalui tulisannya, melalui pilihan katanya, melalui runtutan ceritanya, PAT membawa saya kembali ke era 20an. Namun bukan hanya itu inti pijaran yang mendatangi saya. Sontak saya menjadi penikmat sastra yang tak berkesudahan. Dan mulailah pengaruh tulisan PAT merasuk dalam tiap kata yang saya rangkai. Jika kawan-kawan semua bisa menikmati ratusan tulisan di blog saya, inilah sebuah “amalan” ilmu dari PAT yang mungkin tak dia sadari, namun bertumbuh dan berbunga terus melalui jemari saya.
Saya tidak pernah secara formal belajar menulis. namun dari membaca lah kemudian saya mengenal tentang plot, kekayaan kosa kata, ide cerita dan banyak hal lainnya. Dan itu semua diawali dari sebuah buku foto kopian karya PAT.
Saat ini, sang PAT telah berpulang, namun karyanya begitu dalam saya sesap dan menjadi ruam ruam pijaran cinta saya pada sastra. Terima kasih PAT, inspirasi saya selalu…….
::catatan 14 April 2008::
note:
tulisan saya yang lain berkaitan dengan BUMI MANUSIA:
1. perempuan pemberani, catatan dari pentas teater nyai ontosoroh
gambar di atas diambil dari koleksi PAT di rak buku saya. Jika tak terdapat buku Arus Balik, itu karena habis saya baca ulang dan sekarang tersimpan dengan rapi di rumah Jogja
my hero
ekomagelang | Sep 23, 2008 | Reply
wah, tidak salah kalau mbak icha mengagumi kesastrawanan alm. pram. beliau memang sosok sastrawan yang teguh memegang prinsip, meski banyak juga sastrawan yang memusuhinya. saya mengagumi karya2 almarhum karena kedekatannya pada rakyat kecil dengan gaya ucap yang cerdas dan brilian. setting sejarah dalam karya2nya juga mantab. bahkan, para sejarwan perlu banyak belajar dari karya2 fiktif pak pram dalam memperkaya referensinya/ *wew… kok jadi sok tahu saya, haks*
sawali tuhusetya | Sep 23, 2008 | Reply
meskipun saya tidak begitu mengenal sastra tapi saya pernah membaca karya beliau (*baca sekali aja kok bangga)
sejutaasa | Sep 24, 2008 | Reply
Sama dengan Anda, sosok PAT sangat berarti bagi saya.
Makanya seperti yang saya tulis di blog saya, koleksi buku PAT adalah koleksi yang akan selalu saya pertahankan, selamanya kalau bisa
Donny Verdian | Sep 24, 2008 | Reply
“…tak ada cinta muncul mendadak, karena dia anak kebudayaan, bukan batu dari langit.” (ucapan Jean Marais dalam Bumi Manusia, hal.55)
Daniel Mahendra | Sep 24, 2008 | Reply
Saya baru membaca beberapa karya beliau…maklum saya masih baru dalam mengenal sastra..
Agung Mojosari | Sep 24, 2008 | Reply
Ouw, kalau kalimat yang kutuliskan di atas bukan kalimat yang paling kusuka. Ada yang lebih mengena bagiku, yaitu:
“Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap, jika tidak, ia takkan jadi apa-apa!”
Waw, bagiku itu dahsyat sekali! Kena banget.
Daniel Mahendra | Sep 24, 2008 | Reply
Ilmu dari buku perburuan;
Manusia tak selamanya kalah, manusia juga tak selamanya menang…
adasupriadi´s last blog post..Sekedar datang sebelum kembali
adasupriadi | Mar 25, 2009 | Reply
Maaf, saya ingin ngelink blok Anda di blok saya. Mohon ijinnya…… Makasih sebelumnya.
Alfi | Apr 14, 2009 | Reply
dalam BM saya suka cara pram menggambarkan adegan minke bertemu ayahnya.’dan kku mengangkat sembah…..-sampai akhir.hanya dlm satu paragraf pram “menghina” dengan sangat sinis inti feodallisme jawa
yusup | Jul 3, 2009 | Reply