Mengasah Berlian

Membaca posting DM hari ini di sini, saya jadi teringat pernah menulis tentang berlian-berlian dalam diri kita di “rumah” saya yang lain. Saya paste di sini untuk saya bagi (lagi) pada teman-teman lain. Semoga bermanfaat.

berlian

“Kita tidak akan pernah tahu dimana berliannya, kan?” kalimat itu pernah saya ucapkan saat MD meminta masukan tentang beberapa kandidat staf. Saat itu CV mereka terpampang di depan saya. Dan halaman-halaman dalam CV mereka masih banyak yang putih, belum tercoret, terutama di halaman pengalaman kerja.

Kondisi perusahaan yang baru saja lahir, membuat kami juga selektif memilih karyawan. Inginnya sih yang sudah berpengalaman, sehingga langsung bisa tahu apa yang harus dilakukan. Namun apa daya, jujur saja kondisi keuangan kami tidak mampu memenuhi standard profesionalisme mereka.

Akhirnya, kami memilih fresh graduate yang ingin maju bersama. Kami nekad memulai putaran roda perusahaan dengan kekuatan tenaga yang belum berpengalaman. Saya berharap, mereka ini justru bisa diasah menjadi berlian-berlian yang berkilaun. Yah, kita tidak pernah tahu dimana sang berlian itu ada di mana, jika kita tidak mencoba mengasahnya.

Cerita soal berlian juga pernah saya dengar dari seorang kawan yang sukses dengan bisnis MLMnya. Komisi tetapnya sudah ratusan juta rupiah per bulan, mobil mewah berjajar di rumahnya yang mentereng, kemana-mana pake baju bagus dan bisa jalan-jalan ke luar negeri. Dan hebatnya kawan saya ini dulu adalah buruh panggul di pelabuhan.

Sang kawan ini cuma berbekal mimpi yang besar untuk berhasil. Modal dana sama sekali tak dipunyainya. Yang kemudian membuat kawan saya ini menjadi berhasil bukan hanya mimpinya, tapi kesempatannya bertemu dengan seorang upline yang bisa mengasahnya menjadi sebuah berlian. Si upline ini lah yang tiada henti mencambuk semangatnya. Si upline inilah yang dengan ketelatenan tinggi membukakan jalan baginya untuk meraih impian. Kawan saya pun sangat berterima kasih pada upline nya yang telah mampu mengasah batu dalam dirinya menjadi berlian.

Nah cerita yang ini juga masih tentang berlian. Ini saya dapatkan saat berdiskusi suatu siang dengan seorang sahabat tentang konsep hidup berpasangan. Kami sepakat bahwa masing-masing diri kita punya berlian dalam diri. Kesepakatan lainnya adalah bahwa pasangan yang ideal adalah seseorang yang mampu melihat batu yang ada di dalam diri kita, lalu mengasahnya sehingga menjadi berlian. Maka, dengannya kita hidup dengan sebuah kemajuan dan perkembangan diri yang terus menjadi lebih baik.

Hmmm..yah hidup memang disisipi dengan tugas “saling”. Di satu saat kita berperan menjadi sang pengasah…lalu di lain kesempatan, batu dalam diri kita lah yang diasah…menjadi berlian. Dan hakekatnya Anda punya berlian-berlian itu..yang perlu dilakukan adalah temukan sang pengasah Anda….

catatan Mei 2007
gambar dicomot dari sini

8 Comment(s)

  1. Menyentuh sekali.

    Terkadang kita memang tidak sadar bahwa kita membutuhkan orang lain untuk “mengasah” kita. Bahkan barangkali orang itu justru ada di dekat kita.

    Tapi, apakah tugas mengasah mesti dipanggulkan pada orang lain? Demi konsep “saling” tadi? Tidakkah kita bisa mengasah diri kita sendiri?

    dalam prosesnya, kita tetap membutuhkan orang lain untuk bertumbuh, seperti bahagia yang membutuhkan tangis, untuk mengerti arti bahagia…*nyambung gak ya? :p

    Daniel Mahendra | Sep 19, 2008 | Reply

  2. Motivasi yang bagus… gimana kalo sudah ketemu batu dan pengasahnya tapi tetep gak bisa jadi berlian??? (*nyengir)

    gosokkkkkkkkkk terussss :p

    sejutaasa | Sep 19, 2008 | Reply

  3. aku jadi teringat guru ngajiku berkata;
    buat apa banyak kalau nantinya menjadi pasir,lebih baik sedikit murid jadinya akan seperti berlian.”

    masih tergiang ucapan 16 tahun yg lalu itu.
    salamku

    tapi itu bukan berarti mengamalkan ilmu harus pilih-pilih kan?…memang tidak bisa seperti menyebar garam di lautan, tapi mengasah berlian juga mengikutsertakan kebutuhan untuk diasah, kesempatan untuk saling bertemu dan tingkat frekwensi yang selaras….

    langitjiwa | Sep 19, 2008 | Reply

  4. wew… berlian itu agaknya tak beda jauh dengan aura, ya, mbak icha. konon aura itu juga akan terpancar dalam pribadi seseorang kalau terus diasah sehingga menjelma jadi berlian2 kepribadian yang sanggup memancarkan pamor di sekelilingnya. mungkin tak hanya dalam sebuah perusahaan, dalam ranah sosial pun berlian2 terpendam itu perlu digali dan diasah sehingga memiliki kepekaan terhadap masyarakat sekelilinga. wew… kok jadi ngelantur saya, haks, nggak nyambung lagi :grin:

    betul, pak. selain aura, berlian juga bicara tentang kemampuan diri yang bahkan tidak disadari oleh sang pemiliknya sendiri. Dia sudah ada di sana, belum terpantik, hanya membutuhkan setangkup dorongan dan diasah sehingga memunculkan kualitasnya…

    sawali tuhusetya | Sep 20, 2008 | Reply

  5. Aku setuju dengan pendapat penulis tentang “saling” dan tidak terlalu setuju dengan apa yang dibilang DM pada komen teratas.

    Kata “saling” haruslah tetap ada demi sebuah hubungan yang bernama sosialisasi. Tak perlu risau untuk tampak “membebankan” pada orang lain, yang lebih pasti, beban memang diperlukan untuk sebuah proses pendewasaan kehidupan bagi yang membebani maupun yang terbebani :)

    tozzz………:)

    Donny Verdian | Sep 20, 2008 | Reply

  6. berlian….
    suatu analogi yang baik… berharga karena diasah dan selalu diasah…
    kalau dibiarkan saja gak akan jadi apa2…
    (*membuatku merenung*)

    mari mengasah………..

    BLogicThink [dot] com | Sep 20, 2008 | Reply

  7. Ya, saling mengasah dan diasah… berlianku, kamu dimana? :D

    tuh di situ…ga usah cari jauh2…selalu ada dalam diri kok..:p

    Agung Mojosari | Sep 20, 2008 | Reply

  8. Mbak lisa, aku ada PR buat mbak… liat di blog ku ya… :)

    Agung Mojosari | Sep 20, 2008 | Reply

Post a Comment