Ketika Mas Karebet Mencari Sasra Andika
Posted by Lisa Febriyanti on Sep 17, 2008 in ladang kisah
sebuah percakapan
A: mimpi apa?
I: kan baru mau…baru ngetuk-ngetuk alam mimpi dan lagi rancang pengen mimpi apa
A: mimpiin aku aja
I: dalam lakon apa?
A: nah itu tugas kamu
——————————–
Baiklah, demi memenuhi “permintaan” di atas. Saya akan mereka sebuah mimpi tentang Mas Karebet mencari ajian Sasra Andika.
Syahdan, Mas Karebet yang gemar bertapa, jauh sebelum menjadi Sultan Pajang memiliki kisah yang tak tertulis di kitab manapun. Sebuah kisah yang hanya tertulis di jagad ladangkata.
Dikisahkan, ia bertualang untuk mencari ajian Sasra Andika. Bukan tanpa sebab, sang laki-laki cemerlang ini mengumpulkan tekad untuk mencari dan menguasi ajian yang konon sangat digdaya. Namanya saja ANDIKA, yang artinya kehormatan tertinggi. Kabarnya, siapapun yang memiliki ajian ini, bakal berada di puncak kebahagiaan jiwa manusia. Lebih berharga dari seluruh harta yang bisa dikumpulkan manusia di bumi ini.
Tapi bukan itu tujuan utama Mas Karebet mengejar ajian ini. Tak lain karena hatinya tertambat pada seorang putri yang menjadi tawanan di negeri raksasa. Sesungguhnya, Mas Karebet sendiri belum pernah bertemu muka dengan sang putri. Melalui ilmu mimpi, sang putri, sebut saja bernama Raden Ayu Lembayung, menyuarakan permintaan tolong pembebasan dirinya.
Lembayung, meskipun hidup di negara raksasa yang kaya, tapi terkungkung jiwanya. Segala kebutuhan hidupnya terpenuhi, namun bukan itu yang ia inginkan. Ia ingin keluar dari sangkar emas dan mencari kehidupannya sendiri. Ia ingin belajar tentang semua hal di dunia.
Mas Karebet jatuh iba melihat derita Lembayung. Iba yang kemudian berbuah menjadi kasmaran melalui pandangan pertama dunia mimpi. Lembayung berpesan, hanya dengan Sasra Andika lah, semua belenggu sangkar emasnya bisa terbuka. Ajian itu juga sanggup mengalahkan durjana raksasa. Karena itulah, Mas Karebet bertekad bulat mengarungi dunia untuk mempelajari ajian Sasra Andika.
Tak banyak yang tahu kekuatan Sasra Andika. Selain, ajian ini memang bukan ajian sembarangan, terlebih ajian ini hanya bisa dipelajari oleh orang-orang tertentu. Orang-orang yang berkemauan keras, yang memiliki kebulatan tekad menerjang halangan untuk meraih cita-cita. Di saat yang sama, orang tersebut haruslah mempunyai tabiat memberi, memiliki cinta kasih terhadap sesamanya.
“Ah…itu jelas merujuk padaku,” ujar Mas Karebet percaya diri.
Dimulailah perjalanan panjang itu. Mas Karebet mengumpulkan semua data tentang ajian Sasra Andika ini. Menurut Mbah Google, tempat Mas Karebet mencari data, ajian ini ternyata bukan wungkul satu ilmu. Bisa didapatkan dengan menjaring dan memadukan beberapa ilmu yang dimiliki oleh para pemegang saham. Penciptanya, sengaja membagi ilmu itu kepada beberapa muridnya. Tujuannya adalah agar satu ilmu digdaya itu, mampu disebarluaskan ke berbagai penjuru dengan cara yang disesuaikan oleh budaya masing-masing tempat.
Ada empat penjuru mata angin yang menjadi tempat ngangsu kaweruh. Ajian Utara, dipegang oleh Kyai Kutanegara di Pesantren Hutan Rimba. Ajian Selatan, dipegang oleh Nyai Tanjung Hijau di Padepokan Seni Lautan Gelora. Ajian Barat, dipegang oleh seorang pengusaha kaya bernama Mister Astral. Dan yang terakhir Ajian Timur, dipegang oleh pemegang kunci pustaka dunia, Kang Sastra. Keempat ilmu mereka ini jika dipadukan menjadi ajian Sasra Andika nan dasyat.
Agar dapat diterima oleh para guru dari empat penjuru mata angin itu, Mas Karebet harus menyiapkan proposal sebaik-baiknya. Memadukan portfolio, pengalaman pribadi dan menunjukkan tujuan dan niat yang relevan.
Tak mudah bagi Mas Karebet meloloskan proposal-proposal itu. Ia harus bekerja ekstra keras dan harus dilakukan seorang diri. Ia ingin, keberhasilan memperoleh ajian Sasra Andika adalah murni dari tangannya sendiri. Mas Karebet terus memutar otak dan memilah-milah strategi apa yang harus dilakukannya.
Dengan usaha gigih. Mencari tahu hal-hal yang diperlukan dan disukai guru empat penjuru mata angin, usaha Mas Karebet mulai menampakan jalan terang. Kang Sastra dan Nyai Tanjung Hijau, telah memberi kabar bahwa mereka setuju mengambil Mas Karebet menjadi muridnya. Tapi Kyai Kutanegara dan Mister Astral, masih terus mengembalikan proposalnya. Tak menyerah Mas Karebet mencoba. Merevisi proposal, mengirimkannya lagi, ditolak lagi, revisi lagi, kirim lagi. Terus, tak berhenti.
Sembari menuntut ilmu bergantian di tempat Kang Sastra dan Nyai Tanjung Hijau, Mas Karebet mencari cara menembus pertahanan Kyai Kutanegara dan Mister Astral.
Ketika dua ilmu Ajian Selatan dan Ajian Timur berhasil digenggamnya, jawaban menggembirakan datang dari Kyai Kutanegara. Sang lelaki tua berjenggot putih itu setuju Mas Karebet menjadi muridnya.
“Rupanya, aku harus one step at the time. Tak bisa semuanya kurengkuh bebarengan. Fisikku juga mungkin tak kuat menerimanya,” begitu pikir Mas Karebet menelisik perjalanannya.
Kyai Kutanegara mengajukan beberapa syarat. Antara lain, berpuasa selama menerima pelajaran darinya, menjalankan syariah agama dengan sebenar-benarnya dan mau berada di jalan amal makruf nahi mungkar. Persyaratan disetujui dan dengen nawaitu yang mantap, Mas Karebet berhasil menguasai ajian Utara.
Tapi Mister Astral tak kunjung berpihak padanya. Mau tak mau, Mas Karebet harus menunggu sembari terus berusaha. Padahal, pada suatu malam, Lembayung datang lagi, menyampaikan sebuah pesan bahwa waktu pembebasannya semakin sempit. Purnama bulan depan, telah direncanakan upacara pembaitan dirinya menjadi warga resmi negara raksasa. Jika sudah begitu, Lembayung tak lagi bisa keluar dari sangkar emas. Ia sudah terikat benang maya yang membuatnya harus tetap tinggal di sana. Jika benang itu putus, maka kematian akan menerjangnya.
Mas Karebet pusing tujuh keliling. Tak terhitung berbutir-butir obat pusing kepala ditenggaknya. Dia dihadapkan pada waktu yang sempit. Nasibnya bergantung pada proposal pada Mister Astral.
Mister Astral rupanya pengusaha yang sangat sibuk. Jangankan duduk memberi ilmu dan berbicara, untuk sekadar bertemu saja, tak ada waktu yang terluang. Setelah “dipaksa” terus menerus, Mister Astral agak jengah juga. Akhirnya ia bersedia memberikan ajaran, namun hanya melalui online. Itu pun sedikit demi sedikit. Ilmunya sedemikian banyak, waktu yang sempit, sedangkan penerimaannya bertahap.
Hingga saat-saat terakhir, ilmu ajian Barat baru 15% diterimanya. Mas Karebet harus mengambil keputusan. Sekarang atau terlambat. Ia pun bermantap hati pergi ke negeri raksasa berbekal ilmu ajian Sasra Andika yang belum sempurna. Ia pikir, ia harus mencobanya sekarang, atau Lembayung tidak akan pernah bebas. Apapun yang terjadi ia akan melawan sekuat tenaga untuk membebaskannya.
Pada hari yang ditentukan, setelah menghitung lama perjalanan, Mas Karebet berangkat ke negeri raksasa. Di tengah kemantapan hatinya, terbesit juga kekhawatiran besar, karena penguasaan ilmunya yang belum tuntas. Tapi ia tetap memiliki keyakinan bahwa, rasa kasihnya pada Lembayung akan memberikan kekuatan besar untuk membebaskannya.
Bagaimana nasib Mas Karebet selanjutnya? Berhasilkah ia membebaskan Lembayung dengan sepenggal ilmu Sasra Andika?
Tiba-tiba terdengar sebuah lagu dari sebuah tempat….ah ternyata alarm yang berbunyi. Saya terbangun. Mimpi tentang Mas Karebet terputus. Entah bagaimana kisah Mas Karebet.
Ada yang mau meneruskan?
monolog yang menarik, mbak icha, hehehehe
rupanya mas karebet dah fasih juga ngomong bhs linggis, haks. saya malah bermimpi, dalam perjalanannya sebelum ketemu lembayung, mas karebet bertemu dg mbak icha, lantas mbak icha kasih tahu cara2 menemukan tempat lembayung disekap. haks…. kisah yang menarik dan inspiratif.
sawali tuhusetya | Sep 17, 2008 | Reply
wow…mbak icha emank luar biasa…
Agung Mojosari | Sep 17, 2008 | Reply
sebenarnya mas karebet dalam perjalanan ke negeri raksasa masih meneruskan ilmu yang baru 15 % dari bang Astral, mas karebet tidak lupa membawa Laptop dan perangkat nirkabel lainnya untuk tetap bisa On line melalui YM, jadi begitu sampai ke negeri raksasa ilmunya sudah lengkap 100%, akhirnya berhasilah Mas karebet membebaskan puri kangkung, halah putri lembayung…..
sejutaasa | Sep 17, 2008 | Reply
kirain mau ikut tender kok ngajuin proposal hihihi
good story, mam
goop | Sep 18, 2008 | Reply
Bagus sekali! Blog ini benar-benar sebuah ladang kata-kata sastra.
suhadinet | Sep 19, 2008 | Reply
wah-wah ceritanya bagus…
lagi iseng2 cari arti nama sendiri ketemu cerita ini…
akhirnya ceritanya: maskarebet lulus kuliah tahun ini.. dan jadian dengan putri lembayung yg cantik jelita..hahahha ^^
karebet samhyya wana | Mar 11, 2009 | Reply
tolong kasi tau arti nama “andhika pundarika pratama” ya..lewat email saya..thx bgt…
thio | Jun 22, 2009 | Reply