Ketika Musim Buka Bersama Tiba

Memasuki akhir minggu kedua Ramadhan, inbox saya beberapa kali dihuni ajakan/undangan/usulan berbuka puasa bersama. Seperti tahun-tahun lalu yang saya lewati di Jakarta, kini musim buka bersama itu tiba.

Di awal Ramadhan, rumah sendiri menjadi tempat yang paling nyaman untuk berbuka puasa. Bagi yang beraktivitas di luar rumah, tak pelak berkejaran dengan jam buka puasa untuk segera menyantap nikmatnya hidangan rumah. Jam-jam menjelang buka puasa riuh jalanan penuh kendaraan. Namun, selepas adzan magrib, jalanan nampak begitu lengang. Karena banyak yang telah tiba di rumah masing-masing.

Memasuki minggu kedua, mall, restaurant, cafe justru menjadi sasaran tempat buka puasa. kemacetan di jalan bukan hanya pada menjelang buka puasa. Bahkan, selepas jam delapan pun, kemacetan masih memupus harapan yang ingin pulang lebih cepat. Dan itu semua juga tak terlepas dari perhelatan buka puasa bersama yang musimnya telah dimulai.

Bagi saya, buka puasa bersama sahabat sudah menjadi agenda rutin tiap tahun. Para karib saya semasa kuliah di Surabaya dulu, kebetulan semuanya sudah hidup di Jakarta. Kami berpacu dengan rutinitas yang berbeda tiap harinya. Dan buka puasa bersama adalah sebuah pertemuan manis bagi kami untuk melepas kangen dan berbagi cerita. Juga mensyukuri momentum masih diizinkan Tuhan untuk bertemu dengan Ramadhan lagi dengan persahabatan yang tak lekang. Telah berselang sekian tahun kami lepas dari gerbang kampus, tapi persahabatan tak juga pudar. Meski tak kerap kami bertatap muka, curhat-curhat lewat telepon, atau sekadar mengucapkan selamat ulang tahun, tak terbendung ruang.

Ketika lebaran sering dijadikan perekat rantai kekerabatan yang setahun terlepas. Ramadhan adalah sebuah momentum transenden dan juga perekat ikatan silaturahmi antar kawan yang telah lama tak bersua. Kawan yang namanya terus ada di phonebook mobile kita, meskipun berganti-ganti handset, namun bisa jadi setahun sekali dijenguk (dengan catatan, tak ada kepentingan yang perlu dikomunikasikan). Atau juga dengan kawan-kawan yang dekat, rekan bisnis, juga sejawat.

Tapi yang mestinya tak terlupakan adalah Ramadhan tetap menjadi momentum sebuah keluarga untuk bersama menjalankan ibadah sekaligus mengekalkan kebersamaan. Buka puasa bersama, makin lengkap dengan sholat malam bersama, hangatnya sahur bersama, sholat subuh bersama. Siapa lagi jika bukan Ramadhan yang menyatukan itu semua?

Musim buka bersama telah tiba. Minggu depan ada empat agenda buka puasa bersama dengan sahabat, production house, sesama penulis telah tercatat dalam inbox saya. Tentu saja, jika diberi kesehatan (dan uang bensin masih tersedia—:), saya insya allah akan hadir dan mensyukuri nikmatnya Ramadhan bersama mereka.

Bagaimana dengan Anda, sudah berapa undangan buka puasa yang harus dihadiri?

::ramadhan takes it all ya?::

3 Comment(s)

  1. wahhh pertamax lagi nieh…. Rumah adalah tempat yang paling indah untuk berbuka bersama (saya setuju sekali), ada suatu ungkapan bahwa masakan yang paling enak adalah masakan ibu kita sendiri, begitu juga masakan yang paling enak di lidah anak-anak kita adalah masakan istri kita alias ibu dari anak-anak kita…

    sejutaasa | Sep 12, 2008 | Reply

  2. belum ada mbak…hiks…cuma buka bersama di masjid setelah pengajian aja..setiap hari…

    Agung Mojosari | Sep 13, 2008 | Reply

  3. Tiap hari buka puasa bareng. Bukan bareng temen-temen berdasarkan undangan tapi… Melainkan bareng orang-orang di jalanan yang berkejaran dengan adzan! :p

    Daniel Mahendra | Sep 18, 2008 | Reply

Post a Comment