No Sacrifice, No Victory*
Posted by Lisa Febriyanti on Sep 4, 2008 in ladang kisah
(*) Frase dari Film Transformer (2007)

Optimus Prime pernah mengucapkan frase itu, demi menyelamatkan dunia dari serangan Megatron dan kawan-kawannya. Singkat, tapi begitu jatmika. Memiliki arti yang universal dan sangat dalam. Menyemangati sekaligus mengharukan. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan. Haruskah?
Ungkapan yang hampir serupa dengan frase di atas dalam ranah kearifan lokal kita adalah Jer Basuki Mawa Bea. Kurang lebih artinya, tak ada keberhasilan tanpa kerja keras. Seperti saya bilang, makna dari frase itu adalah universal. Berlaku untuk segala usaha manusia mencapai keberhasilan atau bahkan the ultimate dream. Jika ingin meraih keberhasilan atau dalam hal ini saya sebut sebagai keputusan terbaik, ada “biaya” yang mesti kita keluarkan dengan kerelaan hati.
Di tiap kita, ada satu titik dimana dihadapkan pada sebuah pilihan. Bukan sekali atau dua kali. Teramat sering malah. Ini adalah esensi hidup. Meski dalam keimanan yang saya percayai, Sang Khalik memegang kuasa atas takdir, tapi saya juga percaya, manusia punya kekuatan sendiri untuk memenuhi takdirnya. Dan itu terletak pada pilihan.
Di sinilah kita kemudian menjalankan misi hidup berjalan di muka bumi dengan menggenggam sebuah mimpi, menghadapi kesulitan, diterpa kegagalan, menyongsong keinginan, atau memberi untuk orang lain. Dengan ritme kebahagiaan dan kesedihan masing-masing. Menapak satu demi satu.
Seringkali kita ditempatkan pada sebuah situasi “berhitung” dengan cermat. Mengenai langkah yang akan kita jejakkan ke depan. Dalam situasi heroik, boleh jadi Optimus Prime rela mengorbankan nyawa demi kelangsungan kebaikan. Tapi dalam situasi sehari-hari, kita bermain dengan nilai normatif, etika kehidupan, tarik menarik kepentingan dan keterbatasan diri serta orang lain. Ada kompromi dan kerelaan hati bila ada satu ceruk yang tak terpenuhi. Inilah pengorbanan. Sebuah kata yang mengandung arti selaksa perjuangan.
Seberapa besar pengorbanan yang harus disumbangkan demi kemenangan? Itu big question-nya.
Ah, seandainya kita bisa memenuhi harapan semua orang………………
::sebuah pertanyaan untuk diri sendiri::
gambar di ambil dari sini
Popularity: 26% [?]

sebuah renungan yang mendalam Mbak
perlu meditasi & kontemplasi nih
Rasa bebas adalah rasa tidak bertentangan (konflik). Apabila orang melihat sesuatu dan mengerti sifatnya, ia akan merasa bebas; yakni tidak berselisih dengan sesuatu yang dilihat dan dimengerti. Melihat dan mengerti itu tidak hanya melalui panca indera, tetapi juga dengan rasa hati dan pikiran.
tomy | Sep 4, 2008 | Reply
setuju, jer basuki mawa bea, dalam artinya
sejutaasa | Sep 4, 2008 | Reply
hmm…dalem banget…. Sebuah pengorbanan, yang berarti selaksa perjuangan…kalo ditanya seberapa besar pengorbanan, kita akan kembali kepada sberapa ‘mau’ kita mendapatkan apa yang kita ingingkan. semakin ‘mau’ berarti semakin besar…
Agung Mojosari | Sep 5, 2008 | Reply
slmt mlm,mbak.
akhirnya saya menemukan jg blog sampean ini.
salam kenal dariku langitjiwa.
langitjiwa | Sep 5, 2008 | Reply
“jer basuki mawa bea”, ini sebuah idiom jawa yang dalam nilai filosofisnya, mbak icha. *walah kok jadi sok tahu saya* sayangnya idiom itu telah tereduksi maknanya. utk jadi pejabat, misalnya, main suap dan sogok-menyogok pun jadi budaya, haks…. bukan pengorbanan dalam arti yang sesungguhnya.
sawali tuhusetya | Sep 10, 2008 | Reply