Menulis untuk Hidup, Bisakah?
Posted by Lisa Febriyanti on Sep 2, 2008 in ladang bahasa, ladang baca, ladang kisah
Beberapa waktu yang lalu, ada secuplik perbincangan yang masih menggema di telinga saya hingga sekarang. Saya bercakap dengan seorang kawan seperjuangan yang sama-sama berkutat di bidang tulis menulis. Pertanyaan yang terlontar adalah, bisakah hanya dengan menulis dipakai untuk sandaran hidup?
Hmm…pertanyaan ini tidak bisa dijawab “YA” atau “TIDAK” dengan mudahnya. Ada standar dan faktor tertentu yang mengikutinya. Seperti, standar hidup macam apa yang ada di kepala masing-masing? Dan menulis untuk apa/lembaga manakah?
Faktor yang lebih penting mungkin yang kedua. Faktor pertama, bisa jadi sangat relatif. Sedangkan faktor yang kedua bisa menjadi penentu. Jika Anda menulis untuk media massa besar, maka tentu saja jawabannya menjadi cenderung “IYA”. Tetapi jika pekerjaan menulis itu dilakukan oleh kami-kami yang berjuang di wilayah freelance ini, maka mesti rajin-rajin mengejar proyek untuk bisa bertahan hidup, apalagi bagi yang sudah berkeluarga.
Beruntung sekali jika mendapatkan proyek yang berharga tinggi. Bisa sekali tepuk, maka hajat hidup beberapa bulan terpenuhi. Namun, hidup kan tak selalu seperti tokoh Untung di Donald Bebek. Kadang mesti bertahan juga dengan proyek kerja bakti tapi mampu membuat hidup terus berpendar.
Bagi saya sendiri, memang harus jujur diakui sebagian pundi-pundi didapatkan dari menulis. Mulai dari script hingga buku. Semuanya alhamdulillah pesanan. Tapi saya sadar, ke depan, tidaklah mudah untuk terus bertahan hanya dengan menulis. Pengembangan kemampuan lain yang seiring dengan dunia tulisan rasanya perlu dilakukan. Karena itu saya tidak ingin naif untuk jumawa bilang bahwa hanya dengan jualan tulisan bisa untuk sandaran hidup. Perlu serangkaian langkah-langkah pintar daripada sekadar jualan tulisan.
Bisa jadi yang dijadikan basic adalah aktivitas menulisnya. Tetapi soal kemasan, soal marketingnya, itu semua perlu terus dikembangkan dari sekadar duduk di belakang komputer. Bagaimana pengembangannya? Tentu tidak ada rumusan yang baku. Saya yakin, semua belajar dari pengalaman, baik pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain.
Bagi pekerja freelance, kata networking menjadi teramat penting untuk bertahan dengan profesi sebagai penulis. Networking bagi saya artinya tidak hanya soal memarketkan diri kepada klien atau calon klien. Networking untuk Lisa Febriyanti, berarti menjalin hubungan baik juga dengan sesama penulis atau kawan-kawan yang mempunyai otak brilian sebagai narasumber. Buat apa? Tentu saja karena tugas penulis bukan hanya menyalurkan yang ada dalam otaknya sendiri. Penulis juga masih perlu banyak belajar, baik dari sesama penulis, maupun teman-temannya yang lain. Buka wawasan agar materi tulisan tak berhenti sampai batas pemikiran diri sendiri. Tak pernah berhenti belajar, dari siapa saja.
Ujung-ujungnya, jika tulisan kita mampu berkembang untuk ranah apa saja, tentu saja portfolio kita makin banyak dan pesanan mudah-mudahan jadi lancar.
Terlepas dari pertanyaan apakah menulis bisa untuk hidup, saya pribadi lebih suka membuat pernyataan bahwa saya hidup untuk menulis. Menyitir frase ngetop milik Descartes dengan sedikit modifikasi: “Aku menulis, maka aku ada”
Selamat menulis dan terus mewarnai dunia dengan kata-kata
::ketika mulut tak lagi bisa bicara, maka tulisan yang telah kurangkai untukmu adalah monumen keabadian::
Popularity: 42% [?]

Wew…pengen suatu saat bisa meraup remah-remah rupiah dari nulis.. *kalo sekarang sih lebih ke numpahin uneg2*
cm4nk | Sep 2, 2008 | Reply
Suatu saat pasti menulis bisa dijadikan sandaran hidup, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini, tetap semangat, menyitir dari tulisan di atas “kamu menulis, maka kamu ada” (selamat menulis dan jangan biarkan otak kita mati)
sejutaasa | Sep 2, 2008 | Reply
postingan yang bagus dan sarat tantangan, bung, hehehehe
menulis, dalam pandangan awam saya, merupakan aktivitas utk mendedahkan pemikiran2 kreatif kepada publik. dari situlah sebuah perubahan dimulai. jadi ingat beecher stowe yang mampu membebaskan “budaya” perbudakan kaum negro. melalui “Gubug Paman Tom”-nya, Stowe telah membuat sejarah. nah, kini, menulis agaknya juga sudah memasuki peradaban baru. ketika dunia sudah makin dikuasai oleh kaum kapitalis, kenapa takut utk menjadikan aktivitas menulis sebg sesuatu yang menghasilkan nilai finansial, haks….
sawali tuhusetya | Sep 2, 2008 | Reply
::ketika mulut tak lagi bisa bicara, maka tulisan yang telah kurangkai untukmu adalah monumen keabadian::
matur nuwun Mbak
tomy | Sep 4, 2008 | Reply
Kenapa tidak untuk terus menulis dan menjadikan menulis yang sebuah hobi menjadi profesi?
Terus gerakkan jemari… susun huruf menjadi kata, dan satukan kata menjadi kalimat. Tetap menulis!
Aveline Agrippina | Sep 8, 2008 | Reply
setuju deh dong…
network merupakan kata kunci juga dalam hidup. secanggih apapun seseorang, tetap ada bagian yang kurang yang harus dipenuhi oleh orang lain. SMOGA…………..
lexy | Sep 10, 2008 | Reply