Pelajaran Pelangi
Posted by Lisa Febriyanti on Aug 28, 2008 in ladang kisah

Pada suatu sore, selarik pelangi berbisik kepada saya.
“Kenapa kalo kita sendiri yang masak, makanan itu rasanya selalu enak? seamburadul apapun rasa yang ada?”
Lalu saya pun bertanya, “Emangnya kamu masak apa, duhai Pelangi?”
Dia menjawab lugas, tanpa banyak jeda yang diambilnya, “Kebahagiaan”.
Ah…dia selalu bisa saja begitu. Saya masih mengejarnya, “Dan tak peduli apa kata orang, meskipun masakan itu terlalu asin?”
“Itulah esensinya…agar orang lain merasakan asinnya”, Pelangi sore mengakhiri kalimatnya.
Ya ya….itulah dia. Lengkung pelangi yang belum sempurna. Diramu dari paduan gerimis dan seberkas sinar yang tak kentara. Tersamar di balik mega. Tak banyak mata telanjang yang mampu melihatnya.
Percakapan singkat dengan pelangi sore itu memberikan cipratan kecil pada otak saya. Kebahagiaan, sebuah kata sederhana, namun sekian deret maknanya. Apa yang dibilang pelangi sore itu menyentak kesadaran saya bahwa kebahagiaan selalu dimaknai berbeda bagi tiap orang. Bagi saya nilai kebahagiaan terletak pada kekayaan jiwa. Mungkin bagi orang lain berbeda. Dan dalam hidup, kita ditantang untuk merumuskannya dalam dialektika yang menggemakan nyanyian merdu. Meski belum tentu juga semua telinga terpuaskan dengan dentumnya.
Tapi diantara segala perbedaan itu, pada hakikatnya, tiap hembusan napas manusia di dunia ini mendamba kebahagiaan. Mereka bahkan mungkin rela mencarinya pada relung, pada palung, hingga pada tepian dunia. Tapi pelangi sore itu kembali lagi mengajarkan kepada saya, bahwa kebahagiaan bukan dicari, tapi diciptakan. Karena itulah dia lahap saja menyuap kebahagian yang telah dimasak dengan caranya sendiri. Tak perlu mengitari dunia untuk mengenyamnya. Ia racik kebahagian itu dari tangannya sendiri. Boleh jadi rasanya memang amburadul seperti yang dia bilang, tapi itulah kebahagiaan bagi dirinya.
::terima kasih pelangi sore, inilah waktumu untuk melahapnya (280808)::
catatan: saya memang penggemar berat pelangi…pengagum warna-warni indahnya yang terbias pada mendung
pic by icha, langit berpelangi kalimantan tengah
Popularity: 14% [?]

“kebahagiaan bukan dicari tapi diciptakan”, setuju sekali !!!! (ini juga bagian dari filsafat manusia) betul gak ya???
sejutaasa | Aug 29, 2008 | Reply
Betul sekali mbak lisa, kebahagiaan bukan untuk dicari, tapi diciptakan. dan kebahagiaan yang sesungguhnya menurut saya adalah membuat orang lain bisa bahagia dan tersenyum dengan apa yang kita perbuat. Pelangi, Indah hadirmu mengusir sepi…
Agung Mojosari | Aug 29, 2008 | Reply
Disaat aku mencipta kebahagiaan, luka lama itu masih terasa.
Diasaat aku merasakan kebahagiaan, air mata masih menetes meski sesekali.
Entah apa artinya ini. Tapi semoga ini adalah kebahagiaan yang sesungguhnya, dan air mata ini adalah air mata kebahagiaan. Dan semoga juga rasa perih yang terkadang masih terasa, adalah umpama bumbu masakan yang terlalu asin/pedas/manis.
Semoga kebahagiaan ini akan semakin indah disetiap harinya, seperti cantiknya pelangi difoto itu
Surprise … surprise … akhirnya Lisa bisa komen juga dipostinganku. Mohon maaf lahir & bathin, semoga kita bisa sama-sama menjalani ibadah puasa di Ramadhan ini dengan segala keikhlasan dan kekhusyu’an. Dan semoga juga, Ramadhan ini akan membuat kita menjadi lebih baik. Amin.
meity | Aug 30, 2008 | Reply
Kita terlalu memberi syarat pada hidup kita padahal pelangi selalu setia menyapa kita dg indahnya
tomy | Sep 1, 2008 | Reply