Kehilangan Terbesar

hilang

“Saat kehilangan sesuatu berarti mendapatkan sesuatu”

Ya memang….dunia ini tidak sempurna. Tidak juga bagi kesedihan, kehilangan dan dera. Apalagi untuk sebuah kebahagiaan. Jadilah hukum alam berkata, kehilangan adalah sebuah proses mendapatkan. Demikian sebaliknya, mendapatkan adalah bagian dari kehilangan. Betapa ringannya jika saya bisa selalu menggenggam falsafah ini dalam menjalani telikung hidup. Agar tidak membuat tamak pada realitas dan menyadari hakikat diri sebagai manusia yang memiliki titik nadir pada suatu masanya.

Dalam literatur kehilangan yang terjadi di hidup saya, yang paling menghantam bukan soal materi atau sesuatu yang bisa dihitung. Ada satu hal yang membuat jiwa menjadi surut dan saya kategorikan sebagai kehilangan terbesar dalam hidup: KEHILANGAN SENYUM.

Ketika orang-orang terkasih saya tak lagi tersenyum, ketika sahabat saya tak lagi menyungging senyum dan ketika saya kehilangan alasan untuk tersenyum, adalah kehilangan terbesar yang tercatat dalam buku hidup saya. Bagi saya, harga sebuah senyum bernilai selaksa suka. Jika sebuah saja hilang, seperti jiwa ini terbetot dan menyakitkan. Sungguh sebuah kehilangan yang dalam…

Ah, tapi katanya di tiap kehilangan, ada rentetan pembelajaran yang galibnya membuat jiwa makin dewasa. Atau mungkin menjadi sebuah proses lepasnya renik ego dalam diri. Di saat kehilangan, kita jadi meringkuk seperti bayi yang tak punya kuasa. Menyadari bahwa sekuat apapun jiwa dan diri, setiap hidup tak pernah lepas dari kehilangan. Bahwa cerita di dunia ini bukan hanya celoteh kita, tapi ada celoteh lain yang harus didengarkan, dipenuhi dan dijalankan. Tak lain demi harmonisasi.

Sayangnya…kehilangan bukan hanya soal normatif, ia juga bicara tentang perasaan. Meskipun begitu kuatnya rasio ini berpijak bahwa satu kehilangan akan tergantikan dengan perolehan yang lain, tapi kenapa begitu sulit merelakan yang hilang…..

::beri saya satu alasan untuk tersenyum::

akhir cinta abadi by nidji

akankah kau melihatku
saat ku jauh
akankah kau merasakan
kehilanganku

jiwaku yang telah mati
bukan cintaku
janjiku s’lalu abadi
hanya milikmu

*) aku pergi dan takkan kembali
akhir dari cinta yang abadi

akankah kau melihatku
di akhir nanti
jiwaku yang telah mati
bukan cintaku
janjiku s’lalu abadi
hanya untukmu

aku pergi dan takkan kembali
air mata untuk yang abadi
aku pergi ke alam yang suci
akhir dari abadi cintaku

aku pergi ke alam yang abadi
akhir dari cinta yang abadi

(may PA rest in peace,170808)

Popularity: 10% [?]

5 Comment(s)

  1. Wew,inspiring,tapi ada satu hal yg ingin saya tanyakan mbak:
    Kehilangan selalu diartikan dengan sesuatu yang negatif,dan ketika itu menyenangkan,kita menyebutnya “pembebasan”,
    padahal bukankah esensinya sama? yg berbeda hanyalah “rasa” ketika kehilangan/keterbebasan itu datang..
    Benar-benar hanya permainan kata?? :-)

    yup…sejatinya terletak dimana kita menempatkan kehilangan itu…..katanya begitu..tapi saat ini saya sendiri masih susah meletakkan sebuah kehilangan menjadi sebuah “kebebasan”…mungkin butuh waktu…

    cm4nk | Aug 25, 2008 | Reply

  2. duh duh duh cah ayu, kok sampe kehilangan senyum, ada apa gerangan ?

    dicolong maling mas hehehehe…

    ekomagelang | Aug 25, 2008 | Reply

  3. Kehilangan untuk diganti dengan yang lebih baik… *senyum lagi dunk* :D

    crink crink…..:))

    Agung Mojosari | Aug 27, 2008 | Reply

  4. pemikiran yang mendalam :D
    kita selalu dipermainkan perasaan; penolakan & kemelekatan…selalu datang & pergi. Biarkan terus berputar dalam keabadian asal Mbak Lisa tidak kehilangan senyuman :mrgreen:

    matur suwun mas. sedang ada yang nyimpen senyum saya tapi belum dikembalikan tuh :p

    tomy | Sep 1, 2008 | Reply

  5. apapun alasannya tentang kehilangan…???
    memang benar bagaimana kita menanggapinya…
    tetapi tetaplah tersenyum meskipun itu berat sekali…

    setyo | Sep 1, 2008 | Reply

Post a Comment


Comments links could be nofollow free.