Berita oh Berita

Biasanya selepas Subuh saya kembali terlelap, tapi tidak pagi ini. Mungkin karena  semalam tidur lebih awal. Lalu, televisi pun jadi kawan menanti matahari benderang. Sebuah acara berita saya pilih. Yah menurut saya,  itu pilihan terbaik sebelum memulai hari.

Dan, dari satu segmen ke segmen lainnya, dari satu berita ke berita lainnya, yang tertangkap indera saya adalah berita pembunuhan berantai, kasus incest dimana sang anak menghamili ibunya sendiri, razia miras oleh salah satu ormas Islam radikal, tawuran warga dengan mahasiswa yang berawal dari kasus kriminal menjadi rasial, dan serentetan berita yang berkaitan dengan politik, kasus suap anggota DPR dan Jaksa.

Hmmm, kok ini membuat saya jadi pesimis memulai hari. Baru saja melek mata suguhan berita kriminal dan intrik politik sudah terpampang. Itu pun dari hari ke hari, isi berita televisi didominasi kriminalitas dan intrik politik. Belum lagi acara khusus kriminalitas siang hari di beberapa televisi. Yang bagi saya justru membuat makan siang  jadi tidak lezat lagi.

Lah, tapi apa mau dikata ya? Katanya media punya peran agenda setting. Begitu powerfull nya, sehingga media secara general mampu membuat sebuah issue menjadi realitas yang penting bagi masyarakat. Pilihan berita dan angle pemberitaan menjadi panduan bagi masyarakat akan informasi di sekitarnya.

Kriminalitas, disorder behavior, dunia politik yang penuh intrik, kekerasan di masyarakat, Inikah realitas yang mendominasi masyarakat kita? Betapa mengerikan….

Eh..eh..sedikit bergeser bersama matahari, ada sih warna-warna lain, berita selebritis alias infotainment, yang sudah bergaya investigasi a la detektif.  Selalu mau tahu urusan orang, hingga ke hal-hal tidak penting sekalipun, namun dibuat seakan-akan publik berhak tahu….

Oala berita….berita…….

Popularity: 9% [?]

6 Comment(s)

  1. itulah realitas..
    dan meski dibumbui hal yang kadang nggak enak dan sepahit apapun itu.. adalah pengalaman rasa yang bisa menjadi bekal dalam menjalani hari..

    hmmm…kadang ya….kita sendiri harus bisa menciptakan realitas itu….bisa gak ya?

    yainal | Jul 28, 2008 | Reply

  2. Realitas yang kejam…
    kapan manusia bisa sadar?

    mungkin nanti jika dia telah mampu “belajar” akan sesuatu…

    Aveline Agrippina Tando | Jul 29, 2008 | Reply

  3. tak pernah aku menonton berita tv tanpa membuat hati terluka
    ..para koruptor yang melenggang bebas..
    ..sementara di bagian negeri ini anak2 mati kelaparan..
    yah selalu saja ada luka baru yang tertoreh di atas luka lama yang belum sempat sembuh *halah*
    apa kabar Mbak Icha?

    > kabar saya selalu mencoba luar biasa di dalam hidup saya yang biasa-biasa ini…:p

    tomy | Jul 31, 2008 | Reply

  4. Bukan salah televisi sepenuhnya mbak..itu adalah hukum ekonomi,dimana media televisi menganggap ‘kebanyakan’ masyarakat kita doyan dengan berita dan sensasi murahan -dan itu benar adanya-..jelas ada yg salah,tapi salah siapa??bukan salah siapa-siapa..
    *fiuhh..sangat tidak mencerahkan*

    hehehe..mungkin kalau memang diri kita sudah menyadari letak ketidakbenarannya, dari diri kita sendiri dulu kali ya yang mencoba untuk menyesuaikan dengan nilai-nilai yang kita anggap baik…

    cm4nk | Aug 1, 2008 | Reply

  5. maksud hati menambah informasi dan mendapat hiburan dengan nonton tv…eh lha kok dapatx ‘pelajaran berharga’ :)

    vin | Aug 11, 2008 | Reply

  6. saya sarankan jangan nonton tipi pagi, mendingan jalan-2 pagi, menghirup sejuknnya udara ngayogjokarto.

    ekomagelang | Aug 12, 2008 | Reply

Post a Comment


Comments links could be nofollow free.