Para Perempuan Itu….

srikandi

Di era perang pra kemerdekaan, tentu kita mendengar tentang Cut Nyak Dien, Christinan Martha Tiahahu. Lalu, di era kebangkitan nasional, Indonesia mengenal R.A. Kartini, Dewi Sartika yang memiliki semangat membahana memajukan bangsanya. Lebih maju ke depan, ada S.K. Trimurti, veteran pejuang tahun 1945 dan banyak mendedikasikan hidupnya di dunia perburuhan. Ah..para perempuan itu…

Beberapa waktu terakhir ini, saya banyak menandaskan waktu dengan membaca buku-buku epik dan sejarah (fiksi maupun non fiksi), terutama sejarah Jawa dan kehidupan Keraton di Jawa. Ada sepenggal kisah perempuan yang mencuat di sana dan cukup menarik bagi saya.

Pada awal tulisan, saya menyebutkan tokoh-tokoh perempuan di medan laga pertempuran, baik secara fisik maupun psikologis, dan kemudian menorehkan nama mereka sebagai pejuang Indonesia pada masanya. Kisah perempuan yang saya catat baru-baru ini ibarat nota tak berjudul dan masih sepenggal-penggal.

Saya comot pertama kali melalui karya YB Mangunwijaya. Dalam trilogi Roro Mendut-nya, di salah satu sequel berkisah tentang sang tokoh (Lusi Lindri) hyang menjalani peran sebagai pengawal Amangkurat dari Kerajaan Mataram Islam.

Sudah menjadi kebiasaan di istana Mataram, pengawal pribadi raja adalah para perempuan-perempuan pilihan. Mereka bahkan dipilih dan diawasi oleh Ibu Suri sendiri. Mereka bekerja sebagai pelindung pribadi raja. Tak jarang mereka juga melakukan tugas rahasia. Mereka memiliki hak untuk menghukum seseorang yang dinilai membahayakan keselamatan Raja. Bayangkan, selembar nyawa Raja yang sangat berharga itu ada dalam lindungan sekumpulan perempuan.

Sebuah manuskrip lainnya tentang prajurit perempuan, saya temukan pula dalam sebuah buku Prajurit Perempuan Jawa yang disusun oleh Ann Kumar. Buku ini disusun berdasarkan catatan aseli dari seorang prajurit estri pengawal Mangkunegara I. Meski tak banyak mengungkap bagaimana kehidupan para prajurit estri ini, namun dalam manuskrip disebutkan kedudukan prajurit ini bahkan lebih tinggi dari selir Raja. Mereka tidak boleh diambil isteri oleh Raja sendiri, namun biasanya mereka akan dijodohkan dengan para bangsawan Istana.

Saya menyelidik sedikit ke Wikipedia dan menemukan satu kecocokan tentang peran prajurit estri ini. Disebutkan, Mangkunegara I yang juga dikenal dengan Pangeran Sambernyowo memiliki satu kompi prajurit perempuan pilihan yang mengiringi berperang melawan musuh-musuhnya.

Tak ada catatan sejarah tentang nama mereka. Bagaimana mereka menempa diri dan hingga batas apa wewenang mereka sebagai prajurit perempuan. Tapi sebongkah kisah ini, bagi saya merupakan catatan menarik mengingat patriarkhi Jawa yang umumnya menyudutkan perempuan di wilayah domestik.

catatan: gambar diambil dari cover majalah Andong edisi 4 tahun 2007

2 Comment(s)

  1. perempuan = ibu = bunda? dan juga, surga itu kan di kaki ibu..

    reply: iya..sedari kecil sudah diajari surga di telapak kaki ibu. tapi tulisan di atas tidak bermaksud ke arah sana. nanti deh kalo pas hari ibu, aku tulis tentang ibu, bunda, mama, mami, emak, umi, mom atau apalah panggilannya, namun punya tugas dan kekuatan yang tidak ringan…atau bahkan banyak yang bilang laki-laki belum tentu bisa menggantikannya…hehehehhe

    yainal | Jul 22, 2008 | Reply

  2. banyak sekali sebenarnya wanita yang berjiwa ksatria & menjadi prajurit,bahkan banyak pula menjadi tokoh besar tempat berkonsultasi dan untuk memperoleh restu kemenangan perang seperti Ratu Kalinyamat & Dewi Kili Suci

    reply: heheheh perempuan, bisa jadi apa saja yang dia mau sebenarnya…berperan jadi ibu, bapak, pimpinan politik, pejuang, atau memilih tak mengambil peran sama sekali dan hanya melewatkan hidup sesuai galibnya…

    tomy | Jul 28, 2008 | Reply

Post a Comment