Ayo Bung, Rebut Kembali!
By Lisa Febriyanti on May 20, 2008 in pelesir, dongeng
100 Tahun Peringatan Kebangkitan Nasional Indonesia

20 Mei, Kebangkitan Nasional. Saya bergabung bersama Komunitas Historia Indonesia, menjelajahi Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta di waktu malam. Merunut waktu perjuangan Indonesia menjelang kemerdekaannya. Jelajah malam ini menyimpulkan beberapa petikan dalam memaknai kebangkitan Indonesia.
Kebangkitan Indonesia ditandai dengan kebangkitan kaum intelektual di awal abad 20. Imbas dari politik etik pemerintah Hindia Belanda di bidang irigasi, edukasi dan transmigrasi, lahirlah intelektual-intelektual Indonesia yang menjadi tercerahkan atas nasib bangsanya.
Ide-ide tentang pencerahan nasib bangsa Indonesia memang datang dari para intelektual yang notabene adalah didikan Belanda. Dari sini mereka sadar, perjuangan bersenjata hanyalah sebuah perjuangan yang lokal dan temporer. Dibutuhkan sebuah organisasi yang lebih cerdas untuk bangkit.
Gerakan organisasi pertama di Indonesia sebenarnya dimotori oleh berdirinya Serikat Dagang Islam (SDI) di tahun 1905. Organisasi ini mencuatkan nama RM Tirto Adi Soerjo (TAS) sebagai salah satu pendirinya. TAS sendiri sebenarnya telah bergerak membangkitkan nasionalisme saat mendirikan surat kabar pertama di Indonesia, Medan Prijaji. TAS adalah orang pertama yang menggunakan media sebagai penggerak bangsa. SDI, pada awal berdirinya merupakan himpunan para pedagang Islam yang memperjuangkan nasibnya atas ketertindasan Belanda. SDI berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI) di tahun 1911, demi untuk lebih banyak menghimpun kekuatan. Bukan hanya dari kalangan pedagang.
1908, Boedi Oetomo (BU) pun berdiri. Dimotori para pelajar sekolah kedokteran STOVIA, Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Gerakan BU awalnya adalah sebuah perlawanan suku Jawa. Saat itu mereka belum paham bagaimana perkembangan suku-suku lain di luar Jawa.
Beberapa kontroversi yang muncul adalah mengapa Hari Kebangkitan Nasional Indonesia justru mengambil tanggal kelahiran BU sebagai penandanya. Padahal dalam sejarahnya, SI jauh lebih kuat secara politik daripada BU. Tapi di balik kontroversi itu, dua organisasi tersebut telah menumbuhkan bibit-bibit perjuangan nasionalisme di kalangan anak bangsa. Meski para pemimpin organisasi banyak yang ditekan dan bahkan dibuang oleh Belanda, namun bibit itu telah tumbuh menjadi semangat nasionalisme dan berbuah kemerdekaan Indonesia.
Melihat sejarah panjang nasionalisme Indonesia, saya mencoba berkaca di tahun-tahun sekarang. Para intelektual kita, bagaimana mereka memaknai nasionalisme saat ini. Apa itu nasionalisme?
Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. (sumber: wikipedia)
Bisakah kita sekarang yang hidup di era ini menjelaskan identitas bangsa? Sementara tekanan neoliberalisme yang menggunakan tangan-tangan pemerintah telah meruntuhkan itu semua. Apa identitas bangsa ini?
Sejarah Indonesia terbangun salah satunya melalui tangan para intelektual. Dari merekalah motor perjuangan yang membangun gerbong bagi para anak bangsa lainnya untuk menuju kemerdekaan Indonesia. Dan kini, para intelektual lebih banyak yang sibuk dengan aktualisasi dirinya sendiri.
Para kaum terpelajar sepertinya terlena dengan sistem yang bisa menempatkan dirinya di tingkatan elit tanpa melihat ke bawah. Bahwa di tangannya adalah sebuah beban tugas untuk memajukan bangsa menjadi terpinggirkan. Arus kapitalisme dan hantu neoliberalisme, membuat mereka menjadi orang-orang yang individualistik.
Kenaikan harga BBM yang sebentar lagi akan terjadi, hanya diprotes secara nyata oleh masyarakat marjinal. Dimana suara para intelektual? Hanya lewat koran-koran? Bangsa ini sedang “terjajah” oleh kapitalisme yang meluluhlantakkan semangat nasionalisme. Padahal justru nasionalisme yang terbangun dulunya membawa Indonesia ke gerbang kemerdekaan.
Identitas bangsa ini perlu diperbaiki lagi. Mau kemana bangsa ini menuju? menuju bangsa yang serba ketergantungan oleh kapital asing? atau menjadi bangsa mulia yang mampu berdiri di kakinya sendiri. Mempunyai identitas sendiri sebagai bangsa yang berbudaya tinggi dan mampu menghidupi penduduknya sendiri?
Pilihan ini ada di tangan anak bangsa sendiri. Dan para intelektual mampu menjadi motornya, jika mau. Inilah makna dari kebangkitan nasional. Merumuskan identitas bangsa dan bergerak maju bersama untuk mewujudkannya. Mewujudkan nation yang benar-benar merdeka dan memiliki identitas. Ayo bung, rebut kembali!

Jelajah Malam Kebangkitan Nasional
Jelajah Malam Kebangkitan Nasional diadakan di Museum Kebangkitan Nasional yang dulunya merupakan Gedung STOVIA. Suasana malam memberikan sedikit temaram untuk mengunjungi ruang demi ruang bersejarah yang menjadi kebangkitan nasionalisme Indonesia. Di sana, di museum yang tak banyak dikenal orang itu tersimpan berbagai koleksi dan cerita para pejuang intelektual di awal abad 20an.
Perjalanan jelajah dimulai pukul 7.30 malam dan berakhir di pukul 10 malam. Peserta menjelajahi lorong-lorong remang. Selain kisah perjuangan, museum ini juga menjadi rumah beberapa peralatan kedokteran yang pernah digunakan mahasiswa STOVIA. Di beberapa kelokan juga terdapat beberapa ruang pamer yang digunakan memajang berbagai misi nasionalisme. Sebuah perjalanan yang menarik untuk merunut sejarah.
Kontak Komunitas Historia Indonesia
Asep Kambali
KPSBI-HISTORIA
Phone: (021) 7044-7220, Mobile: 0818-0807-3636


ngrebut harga bbm?
yainal | May 22, 2008 | Reply
rasa peduli dan memiliki bangsa, kedua hal itu yg kulihat kini semakin menipis dan habis.
anak-anak kita, kini tumbuh dlm semangat kapitalisme, mencari keberhasilan hidup dlm skala materi dan duniawi, hedonisme.
menjadi tak pernting lagi kehidupan kawan, sodara apalagi orang lain. kini, yg penting adl hidupku. hidupmu itu mjd urusanmu.
begitu jg dlm skala yg lebih luas. anak2 skarang mjd apatis melihat pemerintahan yg timpang dan semrawut. toh mereka pikir, pemerintahan dipegang siapa pun, tak akan memperngaruhi hidup mereka scr individu.
satu hal lagi, mungkin krn terlalu lama di jajah, biasa tertindas, yg mengakibatkan mereka takut dan bingung jk hrs berdiri dlm barisan terdepan dan wajib memikirkan bangsa ini, biasa diberi dan diperintah oleh sang penguasa, grogi jk hrs memimpin.
jika mengharapkan kesadaran bersama menjadi satu hal yg muskil, mungkin mmg kita perlukan hadirnya seorang ratu adil yg memiliki karisma kuat, dipercaya oleh semua pihak unt menggiring kita bersama melangkah ke depan. tp apakah tuhan mmg telah menyediakan sang ratu itu unt kita?
lalu apakah yg mesti kita lakukan?
mulailah dari diri kita…
dari keluarga kita,
dari tetangga kita,
saudara kita,
sadar dan peduli akan nasib bangsa ini
demi anak cucu kita kelak…
di kota ini aku dilahirkan
dikota ini aku dibesarkan
dan dikota ini pula aku merasa bodoh…
(kekeke… panjang amat ya…)
ungguls | May 22, 2008 | Reply
bagusss..poto dan ulasannya..
aryo | May 22, 2008 | Reply
@yainal: yang direbut bukan BBMnya, ide “gila” sempat terpikir..untuk menahan arus dominasi dolar yang menentukan harga minyak, mestinya kurs kita juga diperkuat, ubah kurs ajaaaaaaaaaaaaaaa…hahahahahha
Lisa Febriyanti | May 22, 2008 | Reply
@mas unggul: nice thought..semua bermula dari hal kecil. Setitik kebangkitan membangkitkan ribuan kebangkitan lainnya dan mendorong nation kita ini menjadi lebih baik lagi
Lisa Febriyanti | May 22, 2008 | Reply
@aryo: thanks Yo…
Lisa Febriyanti | May 22, 2008 | Reply
Merumuskan identitas bangsa & bergerak maju untuk mewujudkannya
ah Mbak sering kita gamang terhadap identitas diri sendiri
tapi mari Mbak kita seiring bersama memaknai hidup ini
memaknai perjalanan hidup ini & apapun yang telah dipersiapkan hidup bagi kita
karena mungkin untuk itu kita ada *sekalian njawab komennya*
tomy | May 26, 2008 | Reply