Ayo Bung, Rebut Kembali!

100 Tahun Peringatan Kebangkitan Nasional Indonesia

mkn1

20 Mei, Kebangkitan Nasional. Saya bergabung bersama Komunitas Historia Indonesia, menjelajahi Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta di waktu malam. Merunut waktu perjuangan Indonesia menjelang kemerdekaannya. Jelajah malam ini menyimpulkan beberapa petikan dalam memaknai kebangkitan Indonesia.

Kebangkitan Indonesia ditandai dengan kebangkitan kaum intelektual di awal abad 20. Imbas dari politik etik pemerintah Hindia Belanda di bidang irigasi, edukasi dan transmigrasi, lahirlah intelektual-intelektual Indonesia yang menjadi tercerahkan atas nasib bangsanya.

Ide-ide tentang pencerahan nasib bangsa Indonesia memang datang dari para intelektual yang notabene adalah didikan Belanda. Dari sini mereka sadar, perjuangan bersenjata hanyalah sebuah perjuangan yang lokal dan temporer. Dibutuhkan sebuah organisasi yang lebih cerdas untuk bangkit.

Gerakan organisasi  pertama di Indonesia sebenarnya dimotori oleh berdirinya Serikat Dagang Islam (SDI) di tahun 1905. Organisasi ini mencuatkan nama RM Tirto Adi Soerjo (TAS) sebagai salah satu pendirinya.  TAS sendiri sebenarnya telah bergerak membangkitkan nasionalisme saat mendirikan surat kabar pertama di Indonesia, Medan Prijaji. TAS adalah orang pertama yang menggunakan media sebagai penggerak bangsa. SDI, pada awal berdirinya merupakan himpunan para pedagang Islam yang memperjuangkan nasibnya atas ketertindasan Belanda. SDI berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI) di tahun 1911, demi untuk lebih banyak menghimpun kekuatan. Bukan hanya dari kalangan pedagang.

1908, Boedi Oetomo (BU) pun berdiri. Dimotori para pelajar sekolah kedokteran STOVIASoetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Gerakan BU awalnya adalah sebuah perlawanan suku Jawa. Saat itu mereka belum paham bagaimana perkembangan suku-suku lain di luar Jawa.

Beberapa kontroversi yang muncul adalah mengapa Hari Kebangkitan Nasional Indonesia justru mengambil tanggal kelahiran BU sebagai penandanya. Padahal dalam sejarahnya, SI jauh lebih kuat secara politik daripada BU. Tapi di balik kontroversi itu, dua organisasi tersebut telah menumbuhkan bibit-bibit perjuangan nasionalisme di kalangan anak bangsa. Meski para pemimpin organisasi banyak yang ditekan dan bahkan dibuang oleh Belanda, namun bibit itu telah tumbuh menjadi semangat nasionalisme dan berbuah kemerdekaan Indonesia.

Melihat sejarah panjang nasionalisme Indonesia, saya mencoba berkaca di tahun-tahun sekarang. Para intelektual kita, bagaimana mereka memaknai nasionalisme saat ini. Apa itu nasionalisme?

Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. (sumber: wikipedia)

Bisakah kita sekarang yang hidup di era ini menjelaskan identitas bangsa? Sementara tekanan neoliberalisme yang menggunakan tangan-tangan pemerintah telah meruntuhkan itu semua. Apa identitas bangsa ini?

Sejarah Indonesia terbangun salah satunya melalui tangan para intelektual. Dari merekalah motor perjuangan yang membangun gerbong bagi para anak bangsa lainnya untuk menuju kemerdekaan Indonesia. Dan kini, para intelektual lebih banyak yang sibuk dengan aktualisasi dirinya sendiri.

Para kaum terpelajar sepertinya terlena dengan sistem yang bisa menempatkan dirinya di tingkatan elit tanpa melihat ke bawah. Bahwa di tangannya adalah sebuah beban tugas untuk memajukan bangsa menjadi terpinggirkan. Arus kapitalisme dan hantu neoliberalisme, membuat mereka menjadi orang-orang yang individualistik.

Kenaikan harga BBM yang sebentar lagi akan terjadi, hanya diprotes secara nyata oleh masyarakat marjinal. Dimana suara para intelektual? Hanya lewat koran-koran? Bangsa ini sedang “terjajah” oleh kapitalisme yang meluluhlantakkan semangat nasionalisme. Padahal justru nasionalisme yang terbangun dulunya membawa Indonesia ke gerbang kemerdekaan.

Identitas bangsa ini perlu diperbaiki lagi. Mau kemana bangsa ini menuju? menuju bangsa yang serba ketergantungan oleh kapital asing? atau menjadi bangsa mulia yang mampu berdiri di kakinya sendiri. Mempunyai identitas sendiri sebagai bangsa yang berbudaya tinggi dan mampu menghidupi penduduknya sendiri?

Pilihan ini ada di tangan anak bangsa sendiri. Dan para intelektual mampu menjadi motornya, jika mau. Inilah makna dari kebangkitan nasional. Merumuskan identitas bangsa dan bergerak maju bersama untuk mewujudkannya. Mewujudkan nation yang benar-benar merdeka dan memiliki identitas. Ayo bung, rebut kembali!

mkn2

Jelajah Malam Kebangkitan Nasional

Jelajah Malam Kebangkitan Nasional diadakan di Museum Kebangkitan Nasional yang dulunya merupakan Gedung STOVIA. Suasana malam memberikan sedikit temaram untuk mengunjungi ruang demi ruang bersejarah yang menjadi kebangkitan nasionalisme Indonesia. Di sana, di museum yang tak banyak dikenal orang itu tersimpan berbagai koleksi dan cerita para pejuang intelektual di awal abad 20an.

Perjalanan jelajah dimulai pukul 7.30 malam dan berakhir di pukul 10 malam. Peserta menjelajahi lorong-lorong remang. Selain kisah perjuangan, museum ini juga menjadi rumah beberapa peralatan kedokteran yang pernah digunakan mahasiswa STOVIA. Di beberapa kelokan juga terdapat beberapa ruang pamer yang digunakan memajang berbagai misi nasionalisme. Sebuah perjalanan yang menarik untuk merunut sejarah.

Kontak Komunitas Historia Indonesia

Asep Kambali

KPSBI-HISTORIA

Phone: (021) 7044-7220, Mobile: 0818-0807-3636

kang_asepk@yahoo. com, komunitashistoria@ yahoogroups. co

http://kpsbi- historia. blogdrive. com

10 Comment(s)

  1. ngrebut harga bbm?

    yainal | May 22, 2008 | Reply

  2. rasa peduli dan memiliki bangsa, kedua hal itu yg kulihat kini semakin menipis dan habis.

    anak-anak kita, kini tumbuh dlm semangat kapitalisme, mencari keberhasilan hidup dlm skala materi dan duniawi, hedonisme.

    menjadi tak pernting lagi kehidupan kawan, sodara apalagi orang lain. kini, yg penting adl hidupku. hidupmu itu mjd urusanmu.

    begitu jg dlm skala yg lebih luas. anak2 skarang mjd apatis melihat pemerintahan yg timpang dan semrawut. toh mereka pikir, pemerintahan dipegang siapa pun, tak akan memperngaruhi hidup mereka scr individu.

    satu hal lagi, mungkin krn terlalu lama di jajah, biasa tertindas, yg mengakibatkan mereka takut dan bingung jk hrs berdiri dlm barisan terdepan dan wajib memikirkan bangsa ini, biasa diberi dan diperintah oleh sang penguasa, grogi jk hrs memimpin.

    jika mengharapkan kesadaran bersama menjadi satu hal yg muskil, mungkin mmg kita perlukan hadirnya seorang ratu adil yg memiliki karisma kuat, dipercaya oleh semua pihak unt menggiring kita bersama melangkah ke depan. tp apakah tuhan mmg telah menyediakan sang ratu itu unt kita?

    lalu apakah yg mesti kita lakukan?
    mulailah dari diri kita…
    dari keluarga kita,
    dari tetangga kita,
    saudara kita,
    sadar dan peduli akan nasib bangsa ini
    demi anak cucu kita kelak…

    di kota ini aku dilahirkan
    dikota ini aku dibesarkan
    dan dikota ini pula aku merasa bodoh…

    (kekeke… panjang amat ya…)

    ungguls | May 22, 2008 | Reply

  3. bagusss..poto dan ulasannya..

    aryo | May 22, 2008 | Reply

  4. @yainal: yang direbut bukan BBMnya, ide “gila” sempat terpikir..untuk menahan arus dominasi dolar yang menentukan harga minyak, mestinya kurs kita juga diperkuat, ubah kurs ajaaaaaaaaaaaaaaa…hahahahahha

    Lisa Febriyanti | May 22, 2008 | Reply

  5. @mas unggul: nice thought..semua bermula dari hal kecil. Setitik kebangkitan membangkitkan ribuan kebangkitan lainnya dan mendorong nation kita ini menjadi lebih baik lagi

    Lisa Febriyanti | May 22, 2008 | Reply

  6. @aryo: thanks Yo…

    Lisa Febriyanti | May 22, 2008 | Reply

  7. Merumuskan identitas bangsa & bergerak maju untuk mewujudkannya
    ah Mbak sering kita gamang terhadap identitas diri sendiri
    tapi mari Mbak kita seiring bersama memaknai hidup ini :D
    memaknai perjalanan hidup ini & apapun yang telah dipersiapkan hidup bagi kita

    karena mungkin untuk itu kita ada *sekalian njawab komennya*

    reply: mantapppppppppp mas tomy. saya bilangnya ini konsep auratis. kembali pada diri sendiri terlebih dahulu, sebelum bergerak maju…ayoooooooooooooo :p

    tomy | May 26, 2008 | Reply

  8. Tiba2 saya temukan onggokan semaian mutiara di dangau sini. Meski disemai setahun lalu, namun aromanya serasa baru kemarin; tetap segar, heroik, patriotik. Sudah saatnya tampil “Kartini-Kartini” kekinian, yg tidak hanya mem-’follow up’ gerakan moral emansipasi wanita, tapi juga ‘emansipasi warga negara’ (baca: warga tengahan dan pinggiran, warga menangan dan kalahan, marginal and elite. etc.) *Halah emboh, rek… Tuambah bengong awak peno, he he he… Rek ayo rek….*

    Ki Dhalang Sulang | May 16, 2009 | Reply

  9. memang benar yang kmu katakan.negara ini harus beruba.ibaratkan luka negara ini tidak mengering.bahkan berangsur-angsur basah lalu infeksi.hanya dari diri kita sendiri yang harus memulai untuk mengeringkan melalui sel sel dalam tubuh negara.

    ASEP NUGROHO | May 26, 2009 | Reply

  10. MENGGUGAT HARI KEBANGKITAN NASIONAL

    Oleh Dasman Djamaluddin (http://dasmandj.blogspot.com/)

    SAYA diundang oleh rekan saya Kepala Museum Kebangkitan Nasional, Edy Suwardi menghadiri seminar menyambut Hari Kebangitan Nasional, Kamis, 16 Juni 2010, di Jakarta. Seminar yang diselenggarakan sangat menarik karena kehadiran Prof Ahmad Mansur Suryanegara, pakar Sejarah Islam dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Di samping itu ada pula Asvi Warman Adam, Sejarawan dari LIPI.

    Berpenampilan bersahaja, pakaian dan rambut rapi, warna rambut sudah memutih, maklumlah sudah berusia 74 tahun, Ahmad Mansur Suryanegara meragukan Hari Kebangkitan Nasional dikaitkan dengan Sejarah Budi Utomo 20 Mei 1908. Menurut Ahmad Mansur Suyanegara, Gerakan Budi Otomo adalah gerakan lokal, hanya diperuntukkan untuk suku Jawa, apakah harus dikatakan sebagai kebangkitan nasional? Bahkan suku lain tidak diizinkan masuk ke dalam gerakan tersebut. “Saya ingin kita mengevaluasi Hari Kebangkitan Nasional tersebut,” tegas Ahmad Mansur

    Sebagai pakar Sejarah Islam, Ahmad Mansur Suryanegara juga menyinggung keberadaan suku Minangkabau yang dikatakannya sebagai penggerak aliran komunis di Indonesia. Disebutkannya beberapa nama, seperti Tan Malaka. “Namun demikian,”ujarnya lagi “banyak juga Suku Minangkabau menjadi pemuka Agama Islam, seperti Hamka,” tambahnya.

    Saya pribadi menyambut baik gagasan Ahmad Mansur Suryanegara ini sebagaimana pendapat Asvi Warman Adam yang juga mengatakan jika menulis G.30.S tanpa PKI. Menurut saya ini merupakan sumber-sumber yang mengajak bangsa ini lebih kritis melihat suatu permasalahan, sekaligus mengajak untuk menelusuri lebih jauh sejarah bangsa, tidak sekedar meng “Iya” kan atau sebaliknya. Sudah saatnya para sejarawan menggali hal-hal atau penemuan-penemuan baru yang jika keliru bisa diperdebatkan lagi, sehingga kita tidak terpaku kepada pendapat para ahli dari luar negeri semata-mata. Tidaklah mungkin kita percaya seratus persen dengan pendapat para ahli luar negeri yang sedang mengkaji masalah bangsa Indonesia, di bandingkan dengan para ahli dari dalam negeri sendiri yang adalah bangsa Indonesia sendiri.

    Ya, pada saatnya pula kita harus berbicara mengenai keterbatasan Saya ingin menggaris bawahi mengenai suku Minangkabau yang juga dikategorikan sebagai pemberontak dan disebut pula oleh Ahmad Mansur Suryanegara, yaitu Ahmad Husein, Pemimpin PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Hal ini saya bantah, karena sebelum meninggalnya, saya dua kali bertemu Ahmad Husein. Dia mengatakan, bahwa PRRI adalah pemberontak, itu tidak benar. “Kami bukan pemberontak,”ujarnya. “Kami hanya melakukan koreksi total kesenjangan antara pemeintah pusat dan daerah, selain mengingatkan Presiden Soekarno tidak terlalu dekat dengan Partai Komunis Indonesia,” tegas Ahmad Husein yang waktu itu sudah sakit-sakitan di kursi rodanya.

    Kembali mengenai keterbatasan ini, saya ingin mengutip pernyataan Dr.Alfian (alm), salah seorang sejarawan Indonesia yang terkenal pada masanya. Di dalam sebuah pengantar buku:”Meluruskan Sejarah karya B.M.Diah,” Alfian mengatakan bahwa sesuai dengan tuntutan profesi keilmuannya, para ahli sejarah tentu berusajha keras untuk bersikap obyektif dalam menulis karyanya. Sungguh pun begitu, ujarnya, jauh di lubuk hati dan alam pikirannya, mereka mengetahui betul bahwa mustahil bagi siapa saja, betapa pun pintar dan ahlinya, untuk menghasilkan tulisan sejarah yang dapat dikatakan betul-betul obyektif dan sempurna. Sebuah tulisan sejarah memang dapat dikatakan, ditinjau dari segi mutu dan sebagainya, lebih obyektif dan lebih sempurna dari karya-karya lainnya. Tetapi tulisan tersebut tidaklah dapat dikatakan sebagai sesuatu yang final atau sebuah karya tanpa kelemahan dan kekurangan sama sekali. Di samping banyak tulisan sejarah yang buruk dan tidak bermutu, biasanya ada sejumlah karya yang dinilai baik dan berkualitas tinggi.

    Bagaimana pun juga, tegas Alfian, para ahli sejarah sendirilah yang pertama-tama mengakui bahwa tidak ada tulisan sejarah yang betul-betul sempurna, dan juga betul-betul lurus.

    “Itulah antara lain sebabnya mengapa sejarah merupakan salah satu bidang studi yang bagaikan sumur penelitian yang tak pernah kering atau lahan pengkajian yang tak pernah habis. Dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, berbagai ahli datang menimba atau menggarapnya, dan dari situ lahir karya-karya sejarah baru memperkaya khasanah yang sudah ada yang terus membesar,” jelas Alfian.

    Dasman Djamaluddin | Jun 21, 2010 | Reply

Post a Comment