Suroboyo, Cuk!

bambu runcing

Ah..Surabaya. Tak ada kota seperti Surabaya. Maksud saya bukan topologi kotanya atau juga keadaan geografisnya. Surabaya sih sama dengan kota-kota metropolitan lain, dengan segala permasalahannya, dengan segala kemajuannya. Tapi khas nya itu loh, yang membuat saya berani bilang there’s no city like Surabaya.

Salah satu yang khas dari Surabaya adalah dialeknya. Letak geografisnya di pesisir, membuat Surabaya menjadi tempat akulturasi budaya. Dan yang lebih mengedepan adalah kasarnya orang-orang di pesisiran. Dalam langgam bahasa Jawa, dialek Surabaya selalu diiringi dengan  logat yang keras dan kasar. Letaknya pada penekanan kata saat pengucapannya.

Beberapa kata dalam bahasa Surabaya, tidak ditemukan dalam bahasa Jawa (baca: Jawa Tengah) yang lebih halus. Nah, karena saya adalah hasil kawah candradimuka Surabaya, saya sering merasa kesulitan jika dihadapkan dengan bahasa Jawa. Dalam hal mengerti dan memahami, sebagian besar bukan merupakan kesulitan.  Tapi dalam hal berbicara bahasa Jawa tiba-tiba percaya diri jadi luruh. Menyadari bahwa logat Surabaya adalah keras dan sedikit ngotot. Khawatir jika yang diajak bicara merasa punya perasaan bahwa saya marah, padahal ya memang begitu adanya :). Karena pada dasarnya, arek-arek Suroboyo bukan berkiblat pada basa basi seperti yang banyak ditemui di kebudayaan Jawa. Tegas dan keras. Itulah Surabaya.

Hasil berkelana di jagad maya, saya menemukan beberapa kosa kata bahasa Surabaya yang khas dan tidak ditemui di bahasa Jawa Tengah-an.

  • “Pongor, Gibeng, Santap, Waso (istilah untuk Pukul atau Hantam);
  • “arek” berarti “anak” (bahasa Jawa standar: bocah);
  • “mari” berarti “selesai”;(bahasa Jawa standar: rampung); acapkali dituturkan sebagai kesatuan dalam pertanyaan “wis mari tah?” yang berarti “sudah selesai kah?” Pengertian ini sangat berbeda dengan “mari” dalam Bahasa Jawa Standar. Selain petutur Dialek Suroboyoan, “mari” berarti “sembuh”
  • “ladhing” berarti “pisau” (bahasa Jawa standar: peso);
  • “dhukur” berarti “tinggi” (bahasa Jawa standar: dhuwur);
  • “thithik” berarti “sedikit” (bahasa Jawa standar: sithik);
  • “temen” berarti “sangat” (bahasa Jawa standar: banget);
  • “pancet” berarti “tetap sama” ((bahasa Jawa standar: tetep);
  • “iwak” berarti “lauk” (bahasa Jawa standar: lawuh, “iwak” yang dimaksud disini adalah lauk-pauk pendamping nasi ketika makan, “mangan karo iwak tempe”, artinya Makan dengan lauk tempe, dan bukanlah ikan (iwak) yang berbentuk seperti tempe);
  • “mene” <e pertama diucapkan pepet> berarti “nanti” (bahasa Jawa standar: mengko);
  • “ndhek” berarti “di” (bahasa Jawa standar: “ing” atau “ning”; dalam bahasa Jawa standar, kata “ndhek” digunakan untuk makna “pada waktu tadi”, seperti dalam kata “ndhek esuk” (=tadi pagi),”ndhek wingi” (=kemarin));
  • “nontok” lebih banyak dipakai daripada “nonton”;
  • “yok opo” (diucapkan /y@?@p@/) berarti “bagaimana” (bahasa Jawa standar: “piye” atau *”kepiye”; sebenarnya kata “yok opo” berasal dari kata “kaya apa” yang dalam bahasa Jawa standar berarti “seperti apa”)
  • “peno”/sampeyan (diucapkan pe n@; samp[e]yan dengan huruf e seperti pengucapan kata meja) artinya kamu
  • “jancuk” ialah kata kurang ajar yang sering dipakai seperti “fuck” dalam bahasa Inggris; merupakan singkatan dari bentuk pasif “diancuk”; variasi yang lebih kasar ialah “mbokmu goblok”; oleh anak muda sering dipakai sebagai bumbu percakapan marah
  • “waras” ialah sembuh dari sakit (dlm bahasa jawa tengah sembuh dari penyakit jiwa)
  • “embong” ialah jalan besar / jalan raya
  • “nyelang” arinya pinjam sesuatu

(sumber: dari sini)

Kosa kata dan dialeknya inilah yang membuat Surabaya menjadi berbeda dari yang lainnya. Ada di pulau Jawa, menggunakan bahasa Jawa, tapi dengan dialek dan aksen yang berbeda. Ngono loh Suroboyo, Cuk!

3 Comment(s)

  1. selamat datang di negeri jancukarta.. :)

    yainal | May 15, 2008 | Reply

  2. [ilat jawa tengahku wis kaku mergo kakean ngomong jancuk] ha ha ha
    itu foto bambu runcing atawa foto geger non ?

    eko | May 16, 2008 | Reply

  3. arek suroboyo CUK (cuakep unik kuerennn)

    onok maneh, chay. kata ‘pol’ sing artine ‘nemen’

    :D

    vin | May 16, 2008 | Reply

Post a Comment