Giyanti: Momentum Perpecahan Kekuasaan Jawa

giyanti

Hingga abad 17, Jawa ada dalam kekuasaan Kasultanan Mataram yang berpusat di Jawa Tengah. Wilayahnya sendiri sebenarnya merambah hingga ke Pulau Madura. Dan, seperti juga sejarah yang terus berulang, perebutan kekuasaan dan intrik politik dalam Kasultanan Mataram, membuka peluang perpecahan. Apalagi saat itu VOC (baca: penjajah), sudah mencengkeramkan kakinya di tanah Jawa. Tentu saja perpecahan ini bagai terbukanya pintu lebar-lebar setelah lama mengetuk.

Kita mengenal Giyanti sebagai salah satu lipatan sejarah Nusantara. Tapi mungkin tak banyak yang tahu letak persisnya dimana atau mungkin nilai sejarah apa yang ada di Giyanti. Dalam sebuah perjalanan ke Jawa Tengah, saya sempat mampir ke tempat bersejarah itu dan mengulik sedikit kisah sejarah di baliknya.

Giyanti berkaitan dengan momentum terpecahnya kembali Pulau Jawa di tangan beberapa penguasa. Kedua bangsawan Kasultanan Mataram: Pangeran Mangkubumi dan Pakubuwono III ( yang memerintah pada saat itu) akhirnya tunduk dengan Perjanjian Giyanti yang diprakarsai oleh VOC. Perseteruan awalnya diakibatkan pindahnya Kraton Kasultanan Mataram oleh Pakubuwono II, dari Kartasura ke Surakarta karena pemberontakan orang-orang Tionghoa. Dalam perpindahan itu, bagian tanah Pangeran Mangkubumi banyak sekali dikurangi dan ini yang memercikkan api permusuhan. Kedua kubu ini pun terang-terangan menggelar perang dan perebutan wilayah. Kericuhan ini, membuka kesempatan VOC untuk masuk sebagai penengah dan mengajukan sebuah perjanjian.

Pada 13 Februari 1755, Perjanjian diadakan di Desa Giyanti, sebuah desa kecil di Kabupaten Karanganyar. Dalam perjanjian itu disebutkan pembagian kekuasaan antara kedua seteru dan tentu saja VOC ikut mendapat bagian di dalamnya. Pangeran Mangkubumi yang kemudian mendapat gelar Sultan Hamengkubuwana I mendapat setengah bagian dan berkedudukan di Jogja. Lalu, setengahnya lagi tetap dipegang oleh Pakubuwono III dan daerah pesisir tetap dikuasasi VOC tanpa gugatan.

Awalnya saya mengira perjanjian bersejarah itu dibuat di sebuah gedung ataupun sebuah tempat istimewa. Kenyataannya pada saat dibuat, Giyanti hanyalah ladang persawahan. Bahkan hingga sekarang, hanya nampak sebuah situs kecil yang tidak dikelola dengan baik. Begitu saja di tengah ladang sawah dan perumahan penduduk. Bendera merah putih yang tertancap di sana pun koyak dan memudar warnanya. Tapi tetap saja tertancap di sana.

dalam

Dalam situs itu terdapat ruang terbuka yang dipagari. Menurut juru kunci seorang penduduk yang tinggal di dekat situ, dalam ruang pagar itulah perjanjian ditandatangani. Ketika saya mengintip ke balik pagar, hanya nampak pohon beringin, batu yang diberi payung dan tentu saja ada sesaji. Ah ya, sesaji yang lain juga saya temui di dekat gerbang Giyanti.

batu

Saya juga sempat mengira bahwa di tempat ini akan saya temui naskah asli perjanjian Giyanti. Tapi dugaan saya salah besar. Selain situs di tengah sawah itu, tak ada lagi nilai sejarah yang bisa ditemukan di sana, kecuali cerita dari salah seorang penduduk di sana yang berbaik hati menghampiri.

Letak situs Giyanti ini bukan di tengah jalan. Jadi, jika ingin ke sana, dan belum tahu tempatnya, setelah memasuki kabupaten Karanganyar, bertanya pada penduduk setempat adalah langkah yang bijaksana.

Dalam literatur sejarah yang saya baca, saya belum menemukan alasan mengapa perjanjian pembagian wilayah yang amat penting ini diadakan di Giyanti. Apakah karena itu zona aman antara wilayah Pakubuwono III dengan Pangeran Mangkubumi? Bisa jadi. Atau mungkin malah Giyanti adalah titik tengah Jawa, tidak tahu juga, karena belum ada data ukuran yang akurat. (lihat peta ini)

Yang pasti, di Giyantilah sejarah Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat mulai dihitung. Untuk sebuah awal kisah besar, sayang sekali jika situs itu dibiarkan lapuk bersama sejarah.

Tautan:

Babad Giyanti

5 Comment(s)

  1. saya terkadang harus merasa jengkel pada siapa, melihat hal-hal seperti ini terjadi, dibiarkan dan tak diurus, apa yang harus kita berikan ke anak cucu jika hal-2 spt ini lambat laun hilang tak berbekas.

    eko | May 12, 2008 | Reply

  2. dengan mengenal sejarah untuk tumpuan masa sekarang dan masa sekarang untuk tumpuan besok. sejarah bukan sebuah dongeng tapi untuk inovasi ke depan, tanpa sejarah mustahil inovasi kedepan. salut………. salam kenal

    EKA PRATIWI | May 14, 2008 | Reply

  3. @mas eko: rasanya yang bisa dituding untuk seperti ini ya kembali lagi ke kepedulian pemerintah baik daerah dan pusat. tapi bisa juga loh masyarakat jika mau melalukan satu upaya kecil. saya bisanya nulis, jadilah saya coba menggerakkan lewat tulisan :)

    @Mbak Eka: salam kenal kembali mbak…ya memang sejarah pasti berulang, makanya kita harus banyak belajar dari sejarah

    Lisa Febriyanti | May 14, 2008 | Reply

  4. Menurut dunia persilatan jika terjadi suatu perseteruan antara satu atau beberapa kelompok maka tempat yang dipilih untuk melakukan pertemuan ( berunding )adalah tempat tebuka ( tanah lapang, persawahan )yang dipilih hal ini untuk memudahkan memantau kekuatan lawan dan menghindarkan diri dari sergapan lawan.
    Oke selamat merenungi sejarah tetapi jangan mengingkari sejarah

    ramdhan | Jun 23, 2008 | Reply

  5. mana photonyaaaaaaaaaaaaaa….lisaaaaa.

    ok nih web

    gunawan | Jun 26, 2008 | Reply

Post a Comment