Pergilah Ke Mana Hati Membawamu
By Lisa Febriyanti on May 4, 2008 in buku dan baca
![]()
Penulis: Susanna Tamaro
Penerbit: Gramedia, tahun 2006 (cetakan keempat)
Buku ini saya sebut sebagai sebuah memoar tentang perjalanan hidup. Sebuah pengakuan yang begitu jujur dan mendalam. Sebuah desah jiwa yang dengan susah payah disingkap sang lakon utama sendiri, seorang perempuan tua bernama Olga yang menyadari bahwa hidupnya tak lama lagi di dunia ini.
Memoar ini tercipta karena Olga ingin bicara pada cucunya, yang sedang pergi ke Amerika. Ingin berbagi percikan pengalaman hidupnya pada cucu yang mungkin tidak ditemuinya lagi. Di tengah sakitnya, dari hari ke hari Olga seperti menulis sebuah jurnal berbentuk surat yang ingin nantinya dibaca oleh sang cucu.
Yang menjadi menarik adalah kejujuran Olga dalam bertutur lewat surat-suratnya. Dia bercerita tentang bagaimana kekecewaan hidup, kebahagiaan hidup serta kegagalan hidup yang ia kecap, sebagai perempuan, anak dan seorang ibu. Kematian tragis Ilaria, anak Olga, memberikan torehan yang dalam dalam hidupnya. Menjadikannya secara tidak langsung menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga anaknya. Apa yang dia lukiskan adalah sebuah kegelisahan jiwanya yang tak mampu ia ungkapkan pada siapapun. Termasuk sebuah rahasia besar tentang laki-laki bernama Ernesto, laki-laki pertama dan terakhir yang mampu membuatnya jatuh cinta. Bahwa Ilaria bukan anak suaminya, tapi anak Ernesto menjadi sebuah rahasia hidup yang justru mendorong kematian Ilaria. Olga seperti perempuan yang ditempa oleh takdir bernada berbeda dengan suara hatinya, namun tak pernah meratap. Yang dia lakukan adalah bertahan dan hidup.
Olga menyadari hubungan dengan cucunya juga tidak berlangsung mulus. Olga mengibaratkannya sebagai suatu fase yang berbeda, “Di saat kulit kerangmu mulai terbentuk, kulit kerangku mulai pecah-pecah. Kau tidak tahan menghadapi air mataku dan aku tidak tahan menghadapi hatimu”. Sebuah analogi tentang perbedaan yang menyangkut daya tahan pada hidup.
Selain bercerita tentang suara-suara yang tertanam dalam jiwanya, Olga juga bercerita tentang bagaimana hari-hari yang dilaluinya tanpa cucunya. Sebagai seorang perempuan tua yang hidup sendirian. Di rumah yang sudah ia tinggali selama bertahun-tahun. Hanya pada tetangganyalah ia banyak menggantungkan harap. Tapi dia tetap tak ingin dikasihani. Dia hanya ingin mengungkap. Tak ingin sebuah iba. Dia hanya ingin agar ketika cucunya pulang nanti dan ia sudah meninggal, tak ada yang bisa ia tinggalkan untuk sang cucu, kecuali surat berharga yang ia tulis. Sebuah nasihat apik menutup buku ini, seperti sebuah kesimpulan dari kisah perjalanan panjang hidup seorang perempuan yang terkungkung dalam dinding takdir namun tetap bersikukuh dengan dirinya sendiri. Olga menulis, “Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil, janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apapun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening dan dengarkan hatimu. Lalu ketika hati itu bicara, beranjaklah dan pergilah ke mana hati membawamu”.
Membaca buku ini, saya banyak menemukan catatan kecil tentang filsafat kehidupan. Sebuah nota tentang perjalanan hidup yang saya rasakan, namun sukar untuk mengemukakannya. Dan Susanna Tamaro berhasil mengaduk-aduk dan menempatkannya pada permukaan. Konsep tentang langgam hati perempuan, tentang cinta seorang perempuan, tentang penemuan diri sendiri, tentang kehidupan yang dijalani perempuan, membuat buku yang terlihat sederhana dalam plot ini, menjadi kaya makna dan refleksi.
Susanna Tamaro, dalam kehidupan pribadinya adalah seorang anak perempuan yang orang tuanya bercerai dan hidup dalam asuhan neneknya. Kisah hidup pribadinya ini banyak memberikan semburat rona pada karya yang pertama kali diterbikan di tahun 1994 dan memperoleh penghargaan ” Donna Citta di Roma”. Tamaro juga menghasilkan puluhan buku dan beberapa diantaranya juga memperoleh penghargaan internasional, seperti Heads in Clouds, novel pertamanya yang memperoleh penghargaan Elsa Morante Prize dan Just For One Voice (1991) yang memperoleh penghargaan International PEN Prize. Saat ini Tamaro aktif dalam Yayasan Tamaro, bentukannya, yang bergerak di bidang kemanusiaan dan pendidikan.


trus nasib sirius gimana?
yainal | May 5, 2008 | Reply
cover-x bagus
vin | May 5, 2008 | Reply
Eh, indah banget resensi kamu, cara menyajikannya enak. Bikin aku ingin baca.
Hmm, diary seorang nenek untuk cucunya, tau ga Cha, aku rajin ngeblog, banyak yang di set private, salah satu tujuannya adalah, untuk oleh2 anak cucuku kelak, hehe.. Karena bagaimanapun perihnya hidup, selalu ada filosofi yang bermanfaat untuk di jadikan bahan refleksi.
Uh, jaid pengen baca nih.. TFS ya..
Tina | May 6, 2008 | Reply
Ah…. review yang bagus! I very very very like it! Jadi pengen ngibrit ke Gramedia nih, mo beli ah…
And thanks for share it!
Aveline Agrippina | May 6, 2008 | Reply