Bekerja dan Berjibaku

BEKERJA  dan BERJIBAKU, kadang tidak selalu ada dalam satu bundel. Ada kalanya bekerja berkiblat hanya pada hitungan berapa rupiah yang akan jadi timbal baliknya. Kala yang lain, bekerja hanya sebagai sebuah keharusan kebutuhan hidup. Mau gak mau, suka atau tidak suka, pekerjaan harus dilakoni demi bertahan hidup.

Berjibaku, bukan hanya menuntut sebuah pekerjaan dilakoni. Namun, menuntut sebentuk hati untuk ikut berperan di dalamnya. Berjibaku adalah sebuah bentuk yang  sedikit lebih ekstrim dari idiom terkenal “bekerja dengan hati”. Mengikutsertakan sebuah daya juang tinggi dalam menyelesaikan tugas yang diemban.

Ini lebih mudah dilakukan jika jenis pekerjaannya adalah hal-hal yang kita sukai. Yang jadi masalah adalah kita kadang menerima sesuatu hal yang tidak sesuai dengan jalan hati, namun mengusahakan untuk berjibaku agar dalam proses maupun hasilnya bisa sesuai . Wah, itu bukan segampang seperti mengeluarkan kata.

kerja

Dari hasil renungan saya belakangan ini, memang terasa betul bedanya antara bekerja demi kejar setoran dengan bekerja menggunakan semangat jibaku. Ketika kejar setoran, saya kehilangan ruh dari content pekerjaannya. Membuat saya menjadi banyak kehilangan mood maupun konsentrasi. Meskipun sekuat tenaga menyelesaikan sesuai jadwal, namun kesulitan datang pada saat proses pengerjaan.

Saat itu yang saya rasakan adalah betapa beratnya pekerjaan itu. Beban yang dipikul membuat kepala hampir pecah. Terutama karena sulitnya berkonstrasi. Lebih rentan terhadap renik-renik persoalan yang ditimbulkan dari pekerjaan tersebut.

Berbeda ketika mendalami sebuah pekerjaan karena saya suka. Dan kalau kemudian ada rejeki yang mengikuti di belakangnya adalah menjadi sebuah nilai tambah, berapapun itu. Seluruh jiwa rasanya ikut berperan menuntaskannya. Meski harus berjibaku, terasa ringan dan senang hati melakukannya.

Saya membedakan kedua jenis pekerjaan ini sebagai urusan perut dan yang lainnya sebagai aktualisasi. Jika saya sudah termasuk dalam jajaran orang yang bisa memilih dengan leluasa jenis pekerjaan yang datang, alias untuk urusan perut tidak terlalu khawatir, mungkin hidup saya bakalan cerah ceria dan hingga sekarang belum bertambah uban. Tapi hidup ini bukan tentang apa yang kita sukai, tapi juga menguji kita dengan mendatangkan apa yang tidak kita sukai. Jadilah, saya mencoba bekerja sembari menumbuhkan semangat berjibaku agar dalam proses pengerjaannya, kata-kata stress tak keluar dari mulut saya dan kemudian saya bangga dengan hasilnya, karena tiap tetes keringat dan pendaran bulir otak saya ikut di dalamnya.

5 Comment(s)

  1. hmm.. puncak?

    mas karebet | Apr 6, 2008 | Reply

  2. yup betul, bet…:p

    pas lagi berjibaku dengan deadline ituuuuuuu…

    Lisa Febriyanti | Apr 6, 2008 | Reply

  3. semangat yg bagus :) semoga aq jg bisa kek gitu.

    merdeka!!!

    vin | Apr 7, 2008 | Reply

  4. mencerahkan sekali Mbak :D
    saat kadang semua terasa stagnan atau yang datang justru bukan yang kita harapkan.. ah bukankah itulah hidup? tidak hanya menguji tapi juga menyibakkan suatu yang lain dibalik tiap adegan yang tergelar.
    wah ngomong apaan tuh kok gak nyambung :D
    bagiku, juga dalam bekerja, waktu adalah ilmu, adalah penyingkapan. aku tak mau jadi pemburu karena sejatinya pemburu adalah padang gersang bagi kasih sayang

    tomy | Apr 14, 2008 | Reply

  5. hmm… :roll:
    *ngiri*

    kangtutur | Apr 22, 2008 | Reply

1 Trackback(s)

  1. Apr 7, 2008: from (Bekerja dan Berjibaku bersama) Klien dan Pekerja Independen : Work 2.0 as Habit

Post a Comment