Kembali Ke Kasongan
Posted by Lisa Febriyanti on Mar 17, 2008 in ladang pelesir

Setelah hampir luluh lantak dihujam gempa pada Mei 2006 lalu, Kawasan Wisata Kasongan kini sudah berbenah. Etalase-etalase yang sempat hancur, kini sudah terisi penuh gerabah-gerabah. Tapi ada yang sedikit berubah di sana.
Kunjungan saya ke Kasongan kali ini bukan hanya sekadar pelesir. Saya sedang berburu koleksi interior yang tradisional tapi unik, untuk menuh-menuhin rumah. Sejak berangkat, saya sudah mengincar tembikar-tembikar dengan gaya tradisional, yang kelihatan antik tapi memiliki taste seni dan harganya terjangkau. Karena itulah yang saya kenal dari Kasongan.
Melewati sepanjang jalan kawasan wisata Kasongan, saya senang, toko-toko sudah dijejali koleksi baru. Tapi saya mesti sedikit kecewa, tujuan mencari tembikar antik tak terpenuhi. Di sana, di Kasongan, kini sudah dipenuhi dengan koleksi yang lebih modern. Tembikar-tembikar itu sudah dipoles dengan modernisasi yang membuat harganya jadi melambung. Berbagai pilihan koleksi interior lainnya juga begitu. Agak sedikit kaget ketika saya menemukan lampu baca dari bahan anyaman, saya beli di Jogja dengan harga Rp22.000, di Kasongan dijual dengan harga Rp47.000. Uhhhh…ngapain jauh-jauh ke Kasongan kalau gitu.
Masih ada sih, beberapa outlet yang masih setia dengan koleksi lama: tembikar untuk alat dapur, tembikar mini untuk souvenir pernikahan. Tapi koleksinya terbatas. Akhirnya saya hanya membawa pulang sepasang patung tembikar sepasang lak-laki dan perempuan menggunakan baju adat jawa seharga Rp25.000.

Hmmm…Kasongan menggeliat ke modernisasi. Beberapa outlet, saya tahu dimiliki oleh pemodal asing, bahkan ada pula outlet yang mematok harga dolar. Yah, mungkin memang mengejar konsumen asing yang kerap datang ke kawasan itu. Gerabah-gerabah itu memang dipoles dengan indahnya menjadi koleksi kontemporer, tapi itu menaikkan harga jualnya berkali lipat. Sang pembuat gerabah mungkin tak bisa mengenyam keuntungan sebanyak sang pemoles. Tapi inilah dunia kapitalisme, yang dengan peraturannya hanya mengedepankan pasar bebas. Lalu, akankah Kasongan kembali lagi seperti dulu, sentra industri gerabah yang tradisional dan harga terjangkau?
Popularity: 32% [?]

tembikarnya lutchu banget chay…imutz. jadi pengen
vin | Mar 17, 2008 | Reply
hmmm..coba nanti kalau waktunya ada saya carikan buat mbak vina yaaa…:)
tapi gak janji ya mbak..kawatir gak bisa nepatin..
Lisa Febriyanti | Mar 17, 2008 | Reply
patung tembikar, Hm.. menarik sekali
pudakonline | Mar 20, 2008 | Reply
*komat-kamit, berdoa*
semoga sempat…semoga ada…semoga dapat…semoga semoga semoga…
hehehehe….
vin | Mar 22, 2008 | Reply
kok cuman yang laki aja? photo patung raden roro sambro nyowo gandengannya kok nggak dipasang sekalian? .. :p
mas karebet | Mar 23, 2008 | Reply
salam kenal untuk kamu…..
semoga ada waktu juga untuk mapir, kalau ada perjalanan yang menuju keblog saya….
omen | Mar 27, 2008 | Reply
salam kenal
kalau melakukan perjalan ke Bali bisa kontak saya
adiputra | Jul 5, 2008 | Reply