[Candi Sukuh] Erotisme Pada Candi

gerbang

Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur ternyata memiliki peninggalan yang masih kokoh berdiri di daerah Jawa Tengah, tepatnya di lereng Gunung Lawu. Menariknya, candi ini dikatakan sebagai candi yang paling erotis di seluruh dunia. Mengapa?

Perjalanan ke Candi Sukuh saya tempuh dari arah Karanganyar. Naik ke lereng Lawu, mengambil arah yang sama dengan Tawangmangu. Lokasi tepatnya di Kecamatan Sukuh. Cukup mudah mencarinya, karena candi ini sudah menjadi identitas bagi warga Kabupaten Karanganyar.

Karena berdiri di tempat ketinggian, udara segar segera menyapa saya ketika menjejakkan kaki di situs Sukuh ini. Sebuah bangunan candi berbentuk punden gapura menyambut saya pertama kali. Sebuah tangga menuju ke atas tertahan oleh pagar selebar dua orang berhimpitan. Saya yakin dulunya ini adalah pintu masuk menuju ke bangunan atasnya. Saat saya ke sana, pagar itu terkunci. Tapi yang menarik adalah di lantai persis pada gapura itu terdapat lingga dan yoni yang berhadapan. Lingga dan yoni adalah representasi dari alat kelamin laki-laki dan perempuan. Sering pula disepakati sebagai lambang kesuburan.

Letaknya persis di pintu masuk ini dan begitu nyatanya membuat masyarakat sering menyebutnya sebagai candi tabu. Padahal, bisa jadi menurut budaya Jawa yang sarat akan lambang, penempatan lingga dan yoni itu sebagai pengusir bala bagi yang ingin masuk ke dalam candi.

ly

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, lingga dan yoni di gapura dulunya sering dijadikan sarana untuk menguji kesucian perempuan dengan melangkahi simbol itu. Jika kain kebaya yang digunakannya robek berarti perempuan itu menjaga kesuciannya, namun jika kain kebayanya terlepas, maka perempuan itu dipercayai telah kehilangan kesuciannya. Ah patriarki…

Gapura ini ternyata hanyalah sebuah pengantar menuju ke bangunan candi yang letaknya lebih tinggi. Karena pagar tertutup, maka saya mengambil jalan naik ke tangga di sebelah gapura tersebut. Terbentang sebuah teras yang cukup lapang. Membalikkan badan, maka akan terlihat panorama kabupaten Karanganyar dari ketinggian. Beruntung cuaca cerah saat itu. Tanpa halangan kabut yang biasanya sudah turun di siang hari, saya bisa memandang lepas ke lembah yang hijau dan rumah-rumah a la pedesaan.

Sebuah gerbang nampak lagi beberapa meter di depan. Gerbang ini hanya seperti pagar setinggi pinggang, dijaga oleh dua dwarapala yang sudah compang camping bentuknya. Dan di depan sana lagi nampaklah bangunan candi yang bentuknya hampir sama seperti gapura di bawah tadi namun lebih besar dan lebih tinggi. Rupanya inilah bangunan intinya.

inti

Sebelum mendekati bangunan inti, bertebaran obelisk dan relief-relief yang beberapa di antaranya juga sudah tidak utuh lagi. Menurut cerita, di sinilah upacara ruwatan yang merupakan tradisi Hindu konon diadakan.

Saya berbegas memasuki bangunan inti dan naik ke puncak yang paling atas. Lorong tangga sempit hanya cukup untuk satu badan orang dewasa itu terasa begitu dingin. Dan di atas, bertebaran sesaji dengan bunga setaman yang masih segar. Masyarakat Karanganyar memang hingga kini masih banyak yang percaya dengan aliran Kejawen dan mistis. Tak heran, candi ini pun masih digunakan untuk ritual-ritual tertentu.

Mengenai julukan erotis, selain perlambangan lingga dan yoni di pagar, juga nampak pada relief-relief yang tersisa. Tapi sepertinya sudah tak banyak lagi. Mungkin karena terlalu vulgar, makanya relief itu tak ada lagi. Ah sayang sekali. Mestinya itu dipandang sebagai sebuah budaya dan bisa menceritakan tentang kondisi dan pesan yang ingin dibuat saat candi dibangun. Menurut kawan yang mengantar saya ke Candi Sukuh, dulu ada sebuah patung berbentuk laki-laki sedang memegangi alat kelaminnya yang sedang ereksi di kawasan candi ini. Patung itu juga sudah tak ada lagi.

Candi Sukuh ini melihat tahun pembuatannya, yaitu 1437 M, merupakan candi Hindu termuda di Indonesia. Dibangun pada era kejatuhan Majapahit yang didesak oleh bala tentara Islam Kesultanan Demak.

Sebenarnya ada satu candi lagi yang juga merupakan peninggalan Majapahit, tak jauh dari lokasi Candi Sukuh. Dikenal dengan nama Candi Cetho. Sayang sekali, waktu pelesir saya di lereng Lawu ini terbatas. Sehingga harus melewatkan candi itu.

Meski hanya beberapa jenak, namun Gunung Lawu telah memberikan saya sebuah hadiah panorama indahnya. Turun dari situs Candi Sukuh, saya melewati hamparan kebuh teh yang hijau bergunung-gunung di daerah Kemuning. Pemda Karanganyar rupanya belum mengeksplorasi panorama kebun teh ini seperti layaknya di Puncak yang sudah begitu ramai oleh kegiatan tea walk. Hanya terlihat beberapa rombongan saja yang mampir menikmatinya.

teh

Tapi bagi saya, Lawu sudah banyak bercerita, tentang panorama, tentang aura mistisnya yang hingga sekarang tetap menjadi pusat kegiatan spiritual di Pulau Jawa dan tentu saja tentang sejarahnya.

Tautan:

1. Candi Sukuh di Wikipedia

2. Candi Sukuh di Kabare Solo

Popularity: 46% [?]

4 Comment(s)

  1. sayang ya reliefnya sdh pada rusak…

    duluuu… di malam2 ttt, sering dijadikan ajang cari pasangan menemani dinginnya malam, kejadiannya msh disekitar candi ini juga… tp, ga tahu lg, apakah hal itu msh berlangsung hingga sekarang atau tidak…

    ungguls | Feb 26, 2008 | Reply

  2. masih dingin dan menggairahkan ya mbak ?

    eko | Feb 26, 2008 | Reply

  3. sebuah bukti peninggalan kehebatan arsitek juga filosofi leluhur :D
    saya malah belom pernah kesana hiks :cry:
    kapan2 kalo jalan2 diajak ya Mbak

    tomy | Mar 3, 2008 | Reply

  4. keren bangetzz sukuh……belum di Cethonya, tapi sayang ana takut dengan ketinggian. tapi bener 2 keren dah buat Sukuh, musti bangga dong punya warisan budaya seperti Sukuh dan Catho….. tentang sukuh, pastinya dingin buangetzzzzz uh kabutnya….. tapi pas Di Cetho serasa berada di negeri di atas awan….

    reply: duhhhhhhhh pengen ke cetho. kemarin ndak sempat mampir ke sana….

    neli | May 23, 2008 | Reply

Post a Comment


Comments links could be nofollow free.