[Tea on The Table] Bahasa Universal Teh

teh cina

Teh, minuman yang mendunia. Karena itu saya sebut memiliki bahasa universal. Meskipun diracik dengan cara yang berbeda, namun pucuk daun teh tetap sebagai bahan utama. Bahasa universal itu berbunyi: kehangatan.

Pada sebuah sore, dingin dan gerimis. Saya memutuskan untuk keluar sejenak dari rumah. Ingin menuntaskan pekerjaan di temaram sore dengan suasana yang beda dengan meja kerja saya di rumah. Saya memutuskan untuk menyesap green tea hangat di sebuah kafe sembari menekuri pekerjaan saya di desktop.

Begitu air hangat yang bercampur rebusan daun-daun teh meluncur di tenggorokan, selarik rasa yang menenangkan membuat saya merasa sangat nyaman. Apalagi di tengah rintik hujan saat itu. Bisa jadi ini sebuah sugesti, karena tujuan awal saya sebelumnya memang hanya ingin keluar dari area yang sama dalam bekerja. Tapi setelah segelas green tea tandas saya reguk , terpetiklah sebuah pemikiran untuk menelusuri minuman ini helai demi helainya. Dan waktu senggang pun saya gunakan untuk mencuplik data mengenai teh, minuman favorit saya. Bukan tentang proses pembuatannya, namun pada sebuah budaya global yang dibumbui kekayaan lokal.

Mari saya mulai dengan arti teh bagi masyarakat dunia.

Pernah saya dengar ungkapan, saat ini teh adalah minuman yang paling diminati di dunia setelah air putih. Ini berarti teh mampu mengalahkan pesona kopi yang juga jadi favorit banyak orang.

Di Indonesia, mulai dari warung kecil, restaurant, kafe hingga rumah tangga, minuman ini tetap menjadi populer. Teh sudah menjadi keseharian bagi masyarakat kita. Baik untuk diri sendiri maupun sebagai jamuan tamu.

Di negeri asalnya, China. Sepertinya tak ada hari tanpa teh. Begitu pula dengan Jepang. Bahkan di kedua negara ini upacara minum teh memiliki filosofi tertentu untuk menghasilkan rasa teh yang mantap.

Di negara Eropa, Inggris lah yang paling mengagungkan teh. Keseharian mereka dimulai dengan teh hangat di tiap paginya. Selain, Inggris, Amerika dan Rusia pun hingga saat ini menganggap teh sebagai salah satu komoditi yang menguntungkan.

Lalu, negeri jiran kita, Malaysia. Teh di tanah Melayu ini, memiliki kekhasan yang sering dicari banyak orang ketika menjejakkan kaki negara Siti Nurhaliza ini.

Ah, satu lagi negara Asia yang mampu meracik teh dan menjadikan teh salah satu menu sehari-hari, India. Racikan teh India memang sedikit berbeda dengan teh dari berbagai belahan dunia lainnya.

Kisah tentang budaya minum teh dari berbagai negara akan saya sajikan kemudian dalam sebuah seri artikel. Namun, sebelumnya saya ingin memaparkan terlebih dahulu tentang sejarah singkat penemuan teh.

Tunggu di tulisan saya selanjutnya.

Popularity: 25% [?]

3 Comment(s)

  1. aku suka teh tarik … enak deh

    meitymutiara | Feb 11, 2008 | Reply

  2. minimal 2 gelas gede, pagi dan sore… teh tubruk atau kocak alias teh hijau, uhhh.. mantabbbz….

    ungguls | Feb 12, 2008 | Reply

  3. teh pahit dan gula jawa…hmmm tiada tara.
    aku biasa nyebutnya, ‘wedangan’.

    vin | Feb 20, 2008 | Reply

1 Trackback(s)

  1. Oct 9, 2008: from | Telapakkaki dot com

Post a Comment


Comments links could be nofollow free.