Leburnya Dua Budaya [Pesta Imlek 2559 di Jogja]

barongsai

Pekan Budaya Tionghoa (PBT) 2008 di Jogja yang dibuka pada 7 Februari lalu, bertepatan dengan Tahun Baru Imlek, menjadi peneguh kemesraan yang telah terjalin antara masyarakat etnis Cina dengan penduduk lokal Jawa. Tak dipungkiri memang, kota Jogja yang sangat multikultural ini memiliki karakter unik. Di satu sisi, hembusan budaya Jawa kental dengan renik-renik tata krama. Namun di sisi lain, Jogja menawarkan keterbukaan bagi berbagai budaya. Tak heran, akulturasi pun mulus terjalin.

Tema yang diusung di PBT tahun ini adalah “Budaya Rakyat”. Ini merupakan satu cetusan yang memberikan ketegasan kembali bahwa budaya Tionghoa masuk dalam kategori budaya lokal. Dalam sejarahnya, sejak kedatangan Laksmana Cheng Hoo berkisar pada abad 13 silam, sudah terjadi pencampuran kebudayaan antara masyarakat pribumi dan pendatang dari Timur Jauh ini. Namun, perjalanan politik huru hara Indonesia, kemudian menciptakan jurang pemisah antara masyarakat Tionghoa yang memiliki kekuatan ekonomi besar dengan penduduk lokal. Padahal, budaya kita sendiri banyak yang dipengaruhi oleh renik-renik kebudayaan Cina.

Perubahan besar terjadi saat pemerintah Gus Dur yang membuka lebar ceruk-ceruk budaya Tionghoa untuk ikut tampil sebagai bagian dari budaya Indonesia. Salah satunya adalah dengan mengkategorikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional. Dan, di antara beberapa kota yang saya pernah kunjungi, rasanya di Jogja inilah peleburan dua etnis bisa terjalin mesra. Beberapa lokasi kampung pecinan,  dari dulu hingga kini, masih tetap terjaga kelestariannya. Tak terusik oleh budaya lokal yang juga memiliki kekuatan dan pengaruh besar bagi masyarakat. Dua diantara yang paling besar komunitasnya adalah di Ketandan dan Pajeksan. Dari beberapa literatur yang saya baca, dua wilayah ini merupakan hadiah dari Sultan Hamengkubuwono I kepada masyarakat etnis Tionghoa yang bermukim di Jogja.

Salah bukti paling akurat kemesraan etnis Tionghoa dengan penguasa  setempat adalah adanya prasasti Jawa Cina yang dibuat pada abad 20 (sekitar tahun 1940an). Prasasti ini didatangkan dari Cina dan berisi sebuah ungkapan terima kasih warga Tionghoa di Jogjakarta kepada keluarga Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang telah memberikan perlindungan bagi mereka. Diserahkan kepada Keraton pada saat hari penobatan Sultan Hamengkubuwono IX yang ke 12, pada tahun 1952.

Awalnya, prasasti hanya bertuliskan huruf-huruf Cina dan Jawa. Namun, baru-baru ini terdapat caption baru di Prasasti tersebut, yaitu tambahan arti dalam bahasa Indonesia. Penambahan ini digawangi oleh Bernie Liem, menantu salah seorang pemrakarsa dibuatnya Prasasti Jawa-Cina, Liem Ing Hwie. Saat ini bukti sejarah itu bisa dikunjungi oleh masyarakat umum di Tepas Hapitopuro, belakang Bangsal Traju Mas, persis di tengah-tengah Keraton.

kirab

Dan, Imlek 2559 ini pun masih terus mendengungkan semangat yang sama. Tak heran pada malam pembukaannya pun paduan kesenian Jawa dan Cina menjadi suguhannya. Bahkan pada kirabnya pun, paduan dua budaya ini kental terasa.

Tautan:

1. Prasasti Jawa-Cina

Post a Comment