Museum Affandi: Monumen Sang Maestro
Posted by Lisa Febriyanti on Jan 28, 2008 in ladang budaya, ladang pelesir

Saya menganggap Affandi adalah salah satu seniman besar yang narsis. Begitu banyak karyanya yang bertitelkan self potrait. Namun kenarsisannya itu membuahkan sebuah ruang pajang yang cantik dan memang layak bagi seniman sekaliber Affandi: Museum Affandi di Jogjakarta.
Berdiri di sebelah barat sungai Gajah Wong, museum ini dulu awalnya rumah tinggal Affandi dan keluarganya. Lalu Affandi berkeinginan membuat sebuah ruang untuk memajang koleksi-koleksinya. Maka dibuatlah galeri. Hingga kini telah ada tiga galeri dalam museum ini.
Galeri I, bagi saya bentuknya paling unik. Atapnya mengikuti bentuk daun pisang. Kabarnya ini terinspirasi saat Affandi pernah menggunakan daun pisang sebagai penahan hujan, di situ terpetiklah ide untuk membuat ruang dengan bentuk daun pisang. Total jumlah lukisan yang dipajang di museum ini adalah 50. Dua kali dalam setahun, lukisan yang dipajang diganti secara bergiliran. Selidik punya selidik harga lukisan Affandi berkisar antara Rp600 juta sampai Rp4,5 miliar. Selain lukisan, beberapa barang pribadi, seperti mobil dan sepeda milik Affandi juga dipajang di sini.

Galeri II digunakan sebagai aula dan Galeri III digunakan sebagai ruang pajang koleksi keluarga Affandi. Selain tiga buah galeri pajang, museum ini juga mempersilahkan pengunjungnya mengintip bekas kediaman pribadi Affandi, berupa bangunan kayu berlantai dua. Lantai bawah digunakan sebagai ruang bersantai yang sekarang digubah menjadi cafe. Lantai atas adalah kamar pribadi Affandi. Kami hanya bisa melihatnya melalui jendela kaca. Hmmm..bagi saya adalah ruang tidur yang muram. Dijejali dengan barang-barang seni. Ornamen matahari rupanya menjadi favorit Affandi. Bulatnya terlihat di beberapa karya maupun dekorasi museum ini. Lantai kayunya yang sederhana menambah muram ruangan itu. Patung anubis dari kayu seakan menjaga ruangan yang kini kosong.

Dari ruangan ini, jika melayangkan pandang lepas ke arah luar, dalam pandangan sejajar terbentang Jl. Laksda Adi Sutjipto (Jalan Solo). Jika diarahkan ke bawah akan nampak kolam renang keluarga. Dan sebuah ruang pajang kecil di dekatnya. Kami pun menyusur ke sana. Rupanya ini adalah ruang pajang milik Didit, salah satu cucu mendiang Affandi.
Memasuki ruangan ini, saya merasakan sebuah aura mistis yang dalam. Entah mengapa, ruangan ini menjadi bergetar ketika saya jelajahi. Saya hanya mampu duduk memandangi deretan coretan dasyat milik Didit tapi tak mampu menterjemahkan aura yang mengelilingi. Ini juga yang kemudian membuat saya memisahkan diri dari rombongan dan memilih menghirup udara segar di pinggir kolam.
Kunjungan ke museum Affandi saya akhiri dengan sebotol minuman segar gratis di cafe. Minuman ini bisa didapatkan dengan menukarkan tiket masuk. Museum ini adalah sebuah monumen kehidupan pelukis besar yang pernah dimiliki Indonesia. Hidup, berkarya dan berpulang semuanya tersirat di museum ini.
Sebelum beranjak meninggalkan museum, saya berpamitan pada mendiang di depan pusaranya yang juga diletakkan di salah satu sudut museum ini. Monggo Pak…..
Tiket masuk: Rp20.000/orang
tambahan Rp10.000 jika ingin mengabadikan dengan foto.
Tautan:


deket rumah, ku suka model atap museumnya, berbentuk daun, dan kaya goa…
ungguls | Jan 29, 2008 | Reply
sering sekali aku melewatinya
tapi entah kenapa sampai saat ini tak juga pernah mengunjunginya
tapi dari postingan ini aku bisa tahu sedikit tentangnya
tomy | Jan 29, 2008 | Reply
Mbak minta ijin nyontek kata2nya buat komen di tulisanku. itu loh yang ’semua kata di dunia diciptakan untuk merangkai keindahan’
matur nuwun
tomy | Jan 29, 2008 | Reply
ingat affandi, ingat makanan kesukaan maestro ini : tempe dibalut koran dan dibakar, enak kali ya ?
eko magelang | Jan 29, 2008 | Reply
@ mas unggul: rumahnya sebelah mana sih?
@ tomy: hehehehe makasih nama saya dimunculin juga di situ:)
@ eko: weeeeeh baru tahu tuh..korannya ikut kemakan gitu?
Lisa Febriyanti | Jan 29, 2008 | Reply
apa iya Affandi narsis, hanya karena banyaknya motif ’self portrait’? wuahh.. sepertinya ga gitu deh.. Menurut cerita, motif wajah diri adalah yang paling mudah, murah, dan ‘ready to use’ setiap saat, manakala hasrat pelampiasan emosi berkarya tak terbendung. Untuk observasi obyek lain butuh tetek-bengeknya yang dapat menghambat ekspresinya. Sedangkan banyak wajah diri yang dipajang, katanya sih paling mudah untuk melihat perkembangan gaya, style, teknik melukis Affandi dari masa ke masa. Museum kan bukan gudang peninggalan barang kuna, tapi juga menjadi tempat pembelajaran, pendidikan masyarakat luas, kira2 gitu dehh…
watugunung | Apr 22, 2008 | Reply
semoga suatu saat aku bisa kesana ya
^_^
efris | Apr 28, 2008 | Reply