Secangkir Kopi Sejuta Cerita Jogja: Blandongan
By Lisa Febriyanti on Jan 22, 2008 in pelesir
Tiap kali ke Jogja, saya tak lupa untuk mampir ke Blandongan. Ini adalah sebuah tempat nongkrong a la Jogja dengan sajian khasnya, kopi tubruk dan kudapan ringan yang murah meriah. Sebuah ruang istimewa dengan keremangan yang tak terganti oleh kilap-kilap lampu kota.
Warung kopi Blandongan letaknya tak jauh dari pusat kota Jogja (sebenarnya sudah masuk ke wilayah Bantul). Jika Anda sudah menemukan Ambarukmo Plasa (Amplas), maka sudah tak lama lagi Anda bisa menemukan warung kopi Blandongan. Di seberang Amplas ada sebuah jalan kecil (Jalan Sorowadjan, Banguntapan), nah tinggal berbelok masuk ke situ dan telusuri jalan itu hingga menemukan rel kereta api. Tak jauh dari rel itu, di sebelah kiri jalan warung kopi Blandongan yang tak pernah sepi ada di sana. Daerah ini juga dikenal dengan sebutan Gowok.
Meski saya bukan peminum kopi, tapi nongkrong di sana bagi saya sangat inspiratif. Di sanalah Anda bisa melihat cah jogja bercengkrama dengan beragam gayanya yang santai dan sederhana. Tak jarang beberapa di antara mereka datang berombongan kemudian memainkan alat musik sederhana. Tetapi bukan untuk mengamen, namun hanya untuk didengarkan bersama.

Kopi Blandongan disajikan dalam gelas kecil dan disertai tatakan. Harganya hanya Rp1500 per gelas. Tatakan adalah salah satu atribut budaya minum kopi di Jawa.Tatakan, selain berfungsi sebagai alas gelas, juga sebagai tempat menyeruput kopinya. Asumsinya dengan ruang yang lebih lebar, maka uap panas dari kopi cepat memudar. Tinggal tuang kopi panas ke tatakan, tunggu sebentar, lalu sesap kopi itu dari tatakan.
Dengan disajikan di gelas kecil. Rasa kopinya kental dan langsung bikin mata melek. Saya pernah mencoba beberapa sesapan dan memang benar, kentalnya pas untuk ukuran kopi hitam. Saya tidak berani banyak minum kopinya karena kondisi tubuh saya memang tidak bersahabat dengan kopi. Tapi, itu tak mengurangi kecintaan saya pada tempat ini.
Biasanya di Blandongan, saya memesan satu bungkus nasi dan es teh manis yang segar. Berhubung di sana tak mungkin dihabiskan hanya satu jam, kudapan ringan berupa macam-macam gorengan pun mengalir kemudian di meja.
Hanya saja siap-siap di Blandongan untuk kaget mendadak. Serangan kaget datang dari udara dan dari darat. Dari udara, deru pesawat yang hendak mendarat dan dari darat adalah teriakan pengantar kopi. Khusus teriakan ini harap dimaklumi karena tak ada nomor meja di Blandongan. Ketika Anda pesan secangkir kopi tak bisa langsung diambil kopinya. Anda tinggal menunggu pengantar menyajikannya di meja Anda. Karena tak ada nomor meja, maka pengantar akan meneriakkan sajian yang dibawanya. Jika Anda merasa pesan, langsung saja tunjuk tangan atau teriak balik bahwa itu pesanan Anda.
Datanglah agak sore. Karena semakin larut, warung kopi ini makin ramai dan bisa jadi sudah tak ada tempat duduk yang kosong. Meskipun warung kopinya luas, tapi di atas jam sembilan malam biasanya sudah penuh. Mau nongkrong, mau kencan, mau diskusi, mau cuma sekadar menghilangkan jenuh, Blandongan wae……


nggowok ini tempat mainku masa kecil dulu…
Jogja, awas kau…, jk ku kesana besok, aku pasti akan mblandong bersamamu…
ungguls | Jan 22, 2008 | Reply
sengaja mau manas2in mas unggul
Lisa Febriyanti | Jan 22, 2008 | Reply
dan Icha berhasil… yukz…
ungguls | Jan 23, 2008 | Reply
Woii….
Ajak dong….
ferry hz | Jan 27, 2008 | Reply
ayoooooooooooo..kapan? kamunya sibuk mulu Fer:)
Lisa Febriyanti | Jan 27, 2008 | Reply
Waaa, jadi kangen dengan blandongan
ya ya, tiap seminggu sekali, aku sempatin nongkrong ditempat ini, umm, walo sederhana, suasananya menggigit… minimal dua jam untuk berbagi cerita di tempat ini, dengan secangkir susu jahe, dan sebungkus kacang kulit.
chynta | Feb 25, 2008 | Reply
kapan baliknya…ayo ngeblandong hehehehehe
Lisa Febriyanti | Feb 25, 2008 | Reply
ma’ NYUZZZ…………….Cak Drun
kiting | Jul 16, 2008 | Reply