Dongeng Klasik: Nagasasra dan Sabuk Inten

baca

 

 

Inilah sebuah masterpiece anak bangsa, sebuah kisah dongeng tanah jawa yang ditulis dalam bentuk fiksi berlatar belakang cerita silat yang dirangkai dengan sangat mengagumkan oleh sang maestro, S.H. Mintarja.

 

 

Nagasasra dan Sabuk Inten merupakan salah satu dari sekian karya S.H. Mintarja yang kesemuanya berlatarbelakang sejarah tanah Jawa dan mengedepankan sepak terjang para pemerannya dalam olah kanuragan. Nagasasra adalah sebuah keris berlambang naga dengan warna keemasaan. Sedangkan Sabuk Inten juga sebuah keris berlekuk 11 dengan warna keperakan bak permata. Keduanya adalah lambang supremasi yang diperebutkan oleh berbagai golongan. Dalam cerita ini, siapa pun yang menjadi pemegang kedua keris tersebut, akan memiliki kekuatan tak terhingga yang membuat tunduk semua orang. Kelebihan dan perebutan dua benda berharga inilah menjadi inti cerita. Dan seorang lakon pun diciptakan dengan nama Mahesa Jenar, mantan prajurit Kesultanan Demak yang kemudian mengabdikan dirinya di luar istana.

Kisah klasik ini saya dengar pertama kali dari seorang kawan. Maklum saja, kisahnya sendiri ditulis sebagai cerita bersambung di harian Kedaulatan Rakyat pada tahun 1966 dan kemudian dibukukan di tahun 70-an sebanyak 28 jilid. Kelincahan S.H. Mintarja menaburkan benih-benih sastra dalam cerita silat merupakan menu utama yang menjadikan kisah ini tak lekang dengan waktu.

Di awal tahun, saya berkesempatan untuk membaca ceritanya dalam bentuk buku sebanyak tiga seri. Seri pertama sudah tuntas saya baca dalam hitungan tak lebih dari 48 jam. Kini tinggal menunggu seri berikutnya. Dalam terbitan terbaru ini (ternyata diterbitkan kembali di tahun 2005) dibentuk dalam kemasan luks dengan hard cover. Yang membuat saya berdecak lagi adalah kertas di dalamnya bukan seperti kebanyakan buku biasa sekarang yang menggunakan kertas HVS atau kertas coklat, tetapi menggunakan jenis kertas art paper yang banyak digunakan untuk majalah dan terbitan bergengsi lainnya. Ini jelas sasarannya adalah para kolektor.

Meski dibuat lebih dari 30 tahun lampau, bahasa dan alur ceritanya tak berkesan ketinggalan jaman. Masih enak untuk dinikmati. Tak terasa, begitu mengalir, bahkan rasa kantuk yang menyerang pun tak menghentikan saya membalik halaman demi halaman.

Mahesa Jenar, sang lakon seakan menemani saya dalam setiap kalimatnya. Terlebih itu, latar belakang sejarah dan pesan moral dengan analogi golongan hitam dan putih menjadi serapan yang berarti bagi saya.

Tautan:

1. Ruang Baca Tempo: Sepak Terjang Para Pendekar

2. S.H. Mintarja Telah Tiada


13 Comment(s)

  1. ceritanya emang keren. thanx untuk link-nya. :)

    vin | Jan 21, 2008 | Reply

  2. you’re welcome mbak :)

    dah tamat ya?

    Lisa Febriyanti | Jan 21, 2008 | Reply

  3. Siip Cha…
    Matursuwun….

    ferry hz | Jan 21, 2008 | Reply

  4. eh..bro ferry…makasih ya atas kunjungannya..aku lagi rajin ngerumat rumah ini neeeh…:)

    Lisa Febriyanti | Jan 21, 2008 | Reply

  5. Ini mmg cersil roman sejarah terbaik yg pernah dibuat anak bangsa. Aku sendiri sdh membaca tamat lebih dr 7 kali seumur hidupku.

    Selamat, Cha… kau memegang buku hebat ini.

    ungguls | Jan 21, 2008 | Reply

  6. pantesan mas unggul mumpuni banget bikin cersil :)

    ditunggu lembayung majapahitnya ya mas…

    Lisa Febriyanti | Jan 22, 2008 | Reply

  7. Api Di Bukit Menoreh… gw banget! :D

    sabs | Jan 22, 2008 | Reply

  8. sayangnya kisah itu tak tuntas. Pak Mintarja keburu meninggal sebelum menamatkannya :(

    Lisa Febriyanti | Jan 22, 2008 | Reply

  9. Ini salah satu kisah karya pak SH Mintardja yang aku suka, bahkan aku mengenalnya ketika Sanggar Pritivi membuatnya dalam sandiwara radio..keren abies…

    Eh, cha akhirnya aku main lagi kesini,
    masih boleh kan?

    dewa | Jan 26, 2008 | Reply

  10. boleh banget…sering-sering kalo bisa…;)

    Lisa Febriyanti | Jan 27, 2008 | Reply

  11. aku senang mendengarnya kala ditampilkan dalam ketoprak :D
    kalo bukunya dah pernah baca tapi blom kelar

    tomy | Jan 28, 2008 | Reply

  12. keren abiez….!!

    Mahesa Jenar yang notabene adalah tokoh fiksi
    bisa digabungkan dengan tokoh-tokoh aktual seperti
    Ki Ageng Pengging atau Kebo Kenanga bapak kandung Den Mas Karebet atau Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, Kebo Kanigoro, Sunan Kalijogo….wuiihhhh….

    Baca novel bersambung yang lain dari S.H Mintarja
    judulnya agak lupa…ceritanya di jaman pemerintahan Sultan Hadiwijaya…sudah tamat juga aku yang itu
    kalo Api di bukit menoreh….gak ngikutin…
    kepanjangan…

    Mahir | Feb 1, 2008 | Reply

  13. makasih yaaa…
    klo ga ada link ini.,.,.,.

    tugas skolah ga bakal slesei dehhh…

    makasih skali lagi!!!
    (aq juga suka critanya…punya seri lengkapnya di rumah… hehehhe)

    vita | Jul 20, 2008 | Reply

Post a Comment