Cinta dan Vredeburg

sebuah prosa cinta yang berdiri di atas landasan sejarah

vredeburg depan

Siang belum usai ketika laki-laki itu membawa perempuan yang dicintainya memasuki gerbang Vredeburg. Dia tahu, sebentar lagi, gerbang itu sudah tertutup untuk umum. Itulah mengapa tanpa mengindahkan siang yang garang, ia korbankan kulitnya memerah dihujam sinar matahari, demi untuk mengumbar isi hatinya.

Perempuan dalam dekapannya itu diam menurut. Tak mengerti mengapa harus benteng ini tempat dituju. Dia menanti dengan degup tak berharmoni.

“Inilah Vredeburg. Monumen Cinta,” laki-laki itu membuka percakapan. Setelah mereka merasuk ke dalam halaman luas. Di bawah patung bapak bangsa. Tangannya membentang, menyapu udara.

Perempuan itu mengernyitkan dahi. Yang dia tahu ini adalah sebuah bekas benteng kolonial. Bagaimana mungkin laki-laki ini bisa bilang monumen cinta. Apakah di matanya, benteng ini nampak seperti Taj Mahal?

“Monumen cinta?” tak urung sebuah tanya keluar juga dari mulut perempuan itu.

“Yah…karena semua sejarah benteng ini adalah lambang dari sebuah perasaan. Sebuah perasaan yang sudah kumiliki untukmu. Cinta……….,” laki-laki itu menjawab lirih.

“Cinta? Buatku?”

Ia tergugu. Tapi tak ingin membuncah. Ia ingin dengar cerita tentang monumen cinta ini terlebih dahulu. Karena yang ia tahu, warna buram benteng ini, bukanlah warna cinta. Yang ia hapal, atmosfir benteng ini kelam. Dan itu bukan aura cinta.

“Tahukah kau kapan benteng ini dibangun?” laki-laki itu mulai bercerita. Sambil tangannya menyeret perempuan itu berjalan mengelilingi area dalam benteng. Menyusuri blok demi blok, melewati jendela abu-abu, melewati sepinya sebuah bangunan tua.
Perempuan itu merunut kilasan sejarah. Ia tak pernah tahu kapan benteng ini ada. Hanya bisa dipastikan, pada jaman penjajahan Belanda lah benteng ini berdiri. Ini jelas terlihat dari namanya. Persisnya? Ia menggelengkan kepala.

“Setelah seluruh bangunan Keraton Jogja nan megah itu lengkap dibangun. Berkisar tahun 1787, benteng ini pun jadilah. Benteng ini ada karena Keraton Jogja ada. Seperti dirimu yang terus tumbuh dengan begitu mempesona. Setelah aku tahu ronamu utuh, maka aku pun ada”.

Ah..perempuan itu pun tersipu.

“Daya tarik Keraton itu begitu menggunung. Hingga membangkitkan keinginan pihak Belanda membangun sebuah benteng untuk membendung pesona itu. Jika saat itu Belanda membangun benteng sebagai pengamat langkah-langkah Keraton Jogja. Aku…aku pun ada di sana. Mengamatimu. Menjagamu. Tapi bukan untuk tujuan menjajah seperti Belanda itu. Aku hanya ingin menjagamu dari berbagai serangan dari luar.”

Perempuan itu memandang takjub laki-laki di depannya. Analoginya sungguh tak pernah disangka. Keberadaan benteng ini dijadikan sebuah perumpamaan rasanya. Bahwa ia ada, laki-laki itu pun ada.

Tak terasa, laki-laki itu sudah menuntunnya makin merasuk ke dalam. Ia tahu hendak dibawa kemana dirinya. Di sebuah tangga, naik menuju ujung benteng. Dimana ia bisa leluasa melihat panorama sekitar benteng. Terdapat beberapa bangku semen di sana. Laki-laki mengajak sang kekasih untuk duduk merapat dengannya. Tapi, semilir sejuk angin menggoda perempuan itu menyerbu ke tembok pinggir benteng.

tembok benteng

Dari sana, nampaklah persimpangan yang tak pernah sepi. Titik 0 kota kelahirannya, Jogjakarta. Angin memainkan rambutnya. Nakal mengayun-ayun ujungnya hingga menyentuh wajah. Laki-laki yang menunggu dalam diam, tak sabar menghampiri.

Perempuan itu membebankan seluruh berat tubuhnya di tangan yang ditempelkannya di dinding benteng. Matanya jauh menerawang panorama di depannya. Lalu, laki-laki itu mendekapnya dari belakang.

“Masih tidak percaya bahwa benteng ini adalah monumen cinta?”

Perempuan itu tersenyum. Samar sebuah keraguan nampak di sana. Lelaki pun tahu, ia masih butuh banyak usaha untuk meyakinkankan.

“Benteng ini dulu pernah diberi nama Rustenberg. Artinya, tempat peristirahatan. Tak mengertikah dirimu, bahwa cinta adalah sebuah labuhan, sebuah tempat peristirahatan nan nyaman dan damai. Seperti fungsi yang pernah diemban oleh benteng ini. Dan dirimulah tempat labuhanku itu. Tempatku bersahabat dengan nyaman dan damai”.

Perempuan membalikkan badan, tak berkedip memandang lelaki.

“Lalu, benteng ini berganti nama menjadi Vredeburg?” ia bertanya.

“Iya. Vredeburg adalah sebuah penyempurnaan. Setelah seluruh komponen bangunan lengkap, benteng ini diubah namanya menjadi Vredeburg. Artinya benteng perdamaian. Meskipun artinya tak cocok pada waktu itu. Karena fungsinya adalah menjadi pengawas gerak Keraton Jogja. Di salah satu bagiannya bahkan ditempatkan sebuah meriam, yang siap mengkoyak bangunan Keraton jika penghuninya berani berputar haluan dari penjajah. Bagiku, nama benteng perdamaian itu adalah sebuah persembahan cinta. Inilah damai yang kurasakan. Vredeburg…aku damai bersamamu.”

Sepoi angin meniup lagi. Kali ini menghempas anak-anak rambut lelaki, menyentuh pipinya. Cekatan tangan sang perempuan menyingkirkan anak rambut yang menggangu itu. Namun gerakan tangannya terhenti, dicekal oleh sentuhan sang lelaki pada jari-jarinya.

“Benteng ini, berganti-ganti penghuninya, sesuai dengan sejarah merah perjuangan bangsa. Mulai dari VOC, pemerintah Belanda, Tentara Jepang, Brigade Inggris hingga kembali ke tangan tentara nasional kita. Tapi ada satu hal yang pasti. Sejak awal, benteng ini berdiri di tanah milik Sultan. Dan kau tahu ini adalah sebuah penanda monumen cinta juga,” lelaki menempelkan ujung jari perempuan di pipinya.

“Aku tak mengerti,” perempuan berkata malu. Takut tindakan laki-laki dilihat orang lain.

“Hatiku. Sejak awal, sejak aku dilahirkan, sudah digariskan untuk menjadi milikmu. Meskipun dalam perjalanannya, hati ini ditempati oleh berganti-ganti orang, tapi selalu kembali kepada pemiliknya, yaitu kau.”

Kata-kata itu meronakan pipinya. Mungkin memang picisan sekali. Tetapi perempuan itu tahu, lelakinya bukanlah seorang perayu. Ketika ia berkata, bukanlah sebuah retorika gombal yang ia cetuskan. Ia tahu kesungguhannya.

“Ceritakan lagi tentang benteng ini,” pintanya.

“Baiklah, tapi maukah kau duduk bersamaku di situ. Angin ini, terlalu kencang,” ujar lelaki menunjuk ke bangku semen, beberapa meter dari mereka berdiri.

bangku bangku

Tanpa jawaban perempuan itu menyurut, melangkah bersama lelaki itu ke bangku semen yang tetap kosong. Di sanalah mereka berdua duduk. Dan kembali meluncurlah alunan kata dari lelaki.

“Benteng ini berbentuk segi empat. Tiap sudutnya, diberi ruang pengawas. Di sekelilingnya dibangun parit sebagai pelindung. Benteng ini berdiri di atas tanah seluas 2100 meter persegi. Kau tahu apa artinya untuk sebuah monumen cinta?

Perempuan itu menggeleng.

“Segi empat, sebuah keseimbangan. Seperti cintaku imbang tak berpihak. Lalu parit itu menggambarkan perlindungan terhadap benteng cintaku. Menutup berbagai kemungkinan gangguan yang datang dari luar. Dan angka 21. Tanggal itu adalah tanggal saat aku mengenalmu”.

“Bagaimana bisa begitu pas?” Perempuan itu terhenyak.

Lelaki hanya tersenyum. “Tunggu, aku belum selesai. Kemudian pada tanggal 9 Agustus 1980, benteng ini  menjadi pusat informasi dan pengembangan budaya nusantara. Kau ingat ada apa di tanggal 9 Agustus tahun lalu?

“Hmmm…kau memintaku menjadi kekasihmu,” jawabnya tersipu.

“Ya..aku senang kau masih ingat. Dan sekarang tanggal berapa?”

“16 April”.

Digamitnya jari-jemari perempuan itu, lalu kembali meluncur kalimat-kalimat dari bibir keringnya.

“Di tanggal yang sama di tahun 1985, pemerintah melakukan pemugaran untuk kelestarian benteng ini. Dan di tanggal ini, aku juga ingin memugar cinta kita, menjadikannya lestari. Di sini, di benteng Vredeburg, sebuah monumen cinta, aku ingin engkau menjadi pelengkap hidupku selamanya, menjadi sahabatku dan kekasihku dalam semua kisah sedih dan bahagiaku, menjadi ibu untuk anak-anakku, menjadi orang yang mendampingiku hingga roh ini lepas dari badan kasar,” tanpa jeda lelaki itu berkata.

Seperti 1000 kunang-kunang bertebaran di sekelilingnya. Kalimat itu berpendar indah di gendang telinganya, lalu menyelusup pelan ke rongga dadanya. Tanpa diperjelas lagi, perempuan itu tahu apa yang dikatakan lelaki itu. Tapi ia seperti tersirap kalimat-kalimat itu.

“Maukah kau menikah denganku?” Lelaki memperjelas.

Sekian menit perempuan itu masih tergugu. Lalu sekelebatan bongkah-bongkah cinta dari lelaki itu berloncatan di depannya. Menghampar begitu saja tanpa diminta. Sekian detik ia mencoba mengeja, mencari sebuah ujung untuk memberi jawaban. Dan ditemukan jawaban itu.

“Ya………….,” katanya sambil mendekap lelaki. Sudah tak peduli apakah nanti ada orang yang melihat atau tidak. Lelaki seperti mendekap bahagia yang tak terkira, namun teringat sesuatu. Dilepaskan pelukan itu.

“Masih ada lagi,” ujarnya.

“Ada lagi? Apa?” Benak perempuan bermain, kejutan apa lagi yang akan diterimanya.

“Pada tanggal 23 November 1992, benteng ini selesai pemugarannya dan kemudian secara resmi dikenal sebagai Museum Benteng Jogjakarta”.

“Dan kau ingin kita menikah pada tanggal itu?” perempuan menebak.

“Ya…di sini. Di benteng Vredeburg. Monumen Cinta,” ujarnya sambil tersenyum senang, sang perempuan tahu maksudnya.

“Ya…aku mau di sini…di Monumen Cinta,” perempuan kembali memeluk.

Dadanya sudah tak tertahan membuncah. Kini dia percaya, di atas sebuah sejarah perjuangan yang selalu berwarna merah, Vredeburg adalah monumen cinta…sang lelaki dan perempuan terkasihnya……

tautan:

1. Museum Benteng Vredeburg (GudegNet)

2. Museum Benteng Vredeburg (Wikipedia)

Popularity: 15% [?]

11 Comment(s)

  1. Cantik, Cha. Bikin penasaran di awal cerita dan tuntas di akhirnya.
    Gayamu menghubungkan data dan cinta kayak Dan Brown…:-D

    ferry hz | Jan 9, 2008 | Reply

  2. waaaa.. lama jg gak ke vredenburg. nice writing.

    keongmalas | Jan 10, 2008 | Reply

  3. gambarnya keren ;)

    minie | Jan 16, 2008 | Reply

  4. thanks ya ;)

    Lisa Febriyanti | Jan 16, 2008 | Reply

  5. cantik.. pengen kek lelaki itu.. pengen bisa nulis kek gitu.. luvly writing ^_^

    keujanandaripagi | Jan 24, 2008 | Reply

  6. Ichaaaaaaaaaaaaaa…., cantik!
    Nulis buku dung Chaaaaaaaaaaa, aku pasti beli :-)

    Dan siapa kah lelaki beruntung itu? Tahukah aku akan dirinya? hehehehe, ngorek2 mode on :-D

    ima | Feb 19, 2008 | Reply

  7. eh ima dah mampir ke sini…..

    hihihihi…pengen nulis tapi selalu terhalang sama konsistensi dan disiplin..uhhh susahnya bisa disiplin nulis..:)

    laki-laki itu adalah sebuah prosa….hehehehe…

    Lisa Febriyanti | Feb 20, 2008 | Reply

  8. Cha kal blh tau di verdebrug to di daerah mana…aku ank jogja tapi dah lama gak plg kampung…maklum di rantau di negeri seberang….

    kris | Mar 1, 2008 | Reply

  9. vrederbug ada di malioboro, depan kantor pos..

    salam dari kampung halaman :)

    Lisa Febriyanti | Mar 1, 2008 | Reply

  10. salut…bravo…!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    aryo | May 22, 2008 | Reply

  11. Wah..mskipun ak g knal km..gilee..krya yg gooD..!!
    Mju trus..kmbAngkn krya” yg lain..jgn hnya brHnti d stU..
    JKa crtamu tU adlh nyta..sngGuh Tuhan Maha Besar..^_~

    Kaka | Jun 1, 2008 | Reply

Post a Comment


Comments links could be nofollow free.