Jogja, Labuan Rindu yang Tak Pernah Sepi
By Lisa Febriyanti on Jan 5, 2008 in seni dan budaya, dongeng

Hari ini saya kembali menjadi saksi selaksa ragam hembus napas kota Jogja. Sebuah kirab budaya yang digelar pada 5 Januari 2008 ini menyajikan geliat berbagai komunitas yang ada di Jogja. Kirab ini kiranya menjadi sebuah launching tema kota ini di tahun 2008, yaitu kota pariwisata berbasis budaya. Hmm iyalah, Jogja gitu loh, sudah bukan hal baru lagi dikenal sebagai kota tujuan wisata, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Jogja, siapa yang tidak rindu pada kota yang “dilahirkan” pada 7 Oktober 1756 ini? Saya yakin, hampir semua pengunjung yang pernah menjejakkan kaki di kota ini selalu rindu untuk datang kembali. Atau mungkin mereka yang pernah menjadi bagian dari kota ini, dimanapun sekarang merantau, selalu rindu pada hangatnya Jogja.
Apa yang ditawarkan Jogja? Bagi saya, Jogja tak pernah mati. Renik-renik budayanya sangat beragam. Kerlip-kerlip modernitasnya juga sangat terbuka bagi semua orang. Penduduknya ramah, meski panas menyengat selalu menyapa. Belum lagi saat ini, Jogja menawarkan berbagai ragam makanan unik yang bukan hanya memanjakan lidah untuk dinikmati saat berkunjung, namun juga selalu dinanti sebagai oleh-oleh bagi kerabat. Berjubelnya tempat wisata yang seakan tak pernah bosan untuk disapa kembali. Belum lagi nuansa seni dan budaya yang kental membuat kota ini selalu punya cerita.
Tiap kali ke Jogja, saya selalu mendapatkan komentar dari teman-teman. “Wah, enak ya bisa bolak balik ke Jogja”, “Aduuuuuuh, aku ikut dunks, kalo ke Jogja”, “Bawain aku oleh-oleh bakpia yaaaaa..” dan banyak lagi komentar mengindikasikan sebuah keinginan untuk berada di kota ini.
Saat ini, yang sedang mewabah di Jogja adalah angkringan yang menyajikan makanan a la trotoar: kopi, gorengan, sego kucing. Angkringan ini sebenarnya adalah “barang lama” Jogja yang sekarang banyak dikemas menjadi “baru”. Salah satu yang menggunakan variasi baru adalah angkringan Lek Man yang lokasinya di dekat Stasiun Tugu. Lek Man menambahkan bara arang dalam kopi yang disajikannya. Menjadikan kopinya terkenal dengan nama Kopi Josssss. Dinamakan demikian karena saat bara itu dicemplungkan di kopi panas menimbulkan bunyi josssssssssss. Salah satu keunggulan angkringan adalah harganya yang murah meriah. Angkringan sungguh mengangkat budaya lokal Jogja yang senang ngopi dan harga murah.
Sebagai kontrasnya, wabah baru Jogja adalah menjamurnya berbagai club dan diskotik yang dipadati oleh anak-anak muda Jogja. Hampir tiap weekend, club-club ini selalu menampilkan ragam tema acara. Dan sejauh yang saya amati, club-club itu tak pernah sepi pengunjung.
Di luar itu, tempat wisata, restoran lesehan dengan sajian tradisional menu sambal, fasilitas pendidikan juga masih dijubeli masyarakat. Waktu musim liburan, jalanan Jogja dilintasi berbagai kendaraan berplat luar kota. Malioboro yang selalu jadi pusat wisata kota pun tumpah ruah oleh masyarakat.
Jogja, labuan rindu yang tak pernah sepi.
tautan:
foto-foto Kirab Budaya Jogja bisa dilihat di sini


ada setangkup rasa rindu padamu…
ungguls | Jan 6, 2008 | Reply
jogya …. oh, aku rindu di perantauan
eko | Jan 7, 2008 | Reply
I Love jogja
vankojo | Jan 7, 2008 | Reply
Angkringan, obsesiku padamu….
Ferry H | Jan 9, 2008 | Reply
my heart draws to jogja
wow…baca postingan ini, bikin kangenku sama jogja tambah2 (biar dikata diriku arek suroboyo)
lam kenal y mbak
blogx boleh daku link kan?
maaci
vina | Jan 15, 2008 | Reply
silakan..
salam kenal juga. sekarang aku yo lagi nang suroboyo:)
Lisa Febriyanti | Jan 15, 2008 | Reply
oh, ya…di mana?

stay di sini r main ajah?
vin | Jan 16, 2008 | Reply
saya lahir dan besar di surabaya, ortu juga masih di surabaya. ini lagi pulang ke rumah ortu di daerah wonokromo
Lisa Febriyanti | Jan 16, 2008 | Reply
ooo…ternyata kita satu kampung

yok opo kabere rek?
eh, btw, aq butuh info ny…nginep seminggu di jogja ala backpakcer butuh brp biaya? n tempat nginep yg ok di mana?
thanx before
vin | Jan 16, 2008 | Reply
rinduku padamu Jogja
minie | Jan 16, 2008 | Reply
Mbak Lisa blogmu apik tenan. Boleh aku ikutan nge-link juga? Matur nuwun
aura | Jul 15, 2008 | Reply