Yuk, Nambah Kosa Kata
Posted by Lisa Febriyanti on Dec 21, 2007 in ladang bahasa, ladang baca
Menulis, tidak hanya mencoretkan kata-kata. Bagi saya, menulis itu sama seperti sebuah kegiatan berkesenian yang lain. Bisa jadi seperti pelukis yang menorehkan warna-warnanya di kanvas, seperti pematung yang memahat dengan sepenuh hatinya. Demikian pula dengan menulis, dibutuhkan goresan keindahan di dalamnya. Dalam hal menulis, keindahan itu tercipta dari rangkaian kata-kata yang dirajut.
Dan rasanya ini juga berlaku pada semua kegiatan yang berhubungan dengan tulis menulis. Dalam hal penulisan dokumen, kata-kata indah bisa jadi jarang digunakan, namun kelincahan kata bisa berpengaruh untuk mendapatkan pengertian yang sama dengan penerima informasi. Apalagi jika yang berhubungan dengan informasi yang mengajak atau persuasif, tentu dibutuhkan kata-kata yang mampu meyakinkan.
Selain itu, yang membutuhkan kelincahan kata adalah penerjemah. Pengalihan dari bahasa asing ke bahasa Indonesia bukanlah suatu hal yang gampang untuk dilakukan. Agar mendapatkan sense yang sama, maka tugas penerjemah bukan hanya menerjemahkan kata-kata, melainkan mengayunkan kata-kata itu, sehingga pembacanya juga ikut terbawa oleh arus yang memang diciptakan dari bahasa aselinya. Jika tidak, wah bisa cukup runyam juga. Naskah bisa kehilangan ruhnya, dan bahkan menjadi tidak menarik untuk dibaca, padahal bisa jadi naskah yang diterjemahkan adalah karya yang fenomenal atau mengasyikkan. Seperti yang dialami oleh sahabat saya di sini
Untuk dapat menciptakan rangkaian kata yang indah, salah satu komponen yang perlu dipenuhi adalah kekayaan kosa kata. Bagi penulis (juga penerjemah), ini hukumnya adalah wajib dan tak bisa ditawar lagi.
Terdapat berbagai macam cara memulung kosa kata. Bisa dengan membaca karya-karya sastra para pujangga atau penulis lain. Cara ini sudah sangat lazim dilakukan oleh penulis. Membaca adalah sebuah hakikat yang esensial bagi penghasil kata-kata. Di sana, dia bisa memungut berbagai kosa kata dan alur cerita. Di sana, dia bisa menajamkan daya imaginasi untuk digunakan pula dalam karya-karyanya sendiri.
Saya sendiri, selain membaca, ada satu metode yang saya gunakan untuk memperkaya kosa kata. Metode ini sebenarnya bukanlah sebuah metode baru dan membutuhkan latihan yang rumit. Kuncinya hanya satu, yaitu membaca. Ikra Iqra. Sekali lagi Ikra Iqra. Tapi kali ini bahan bacaan sengaja saya tambah satu lagi, yaitu Tesaurus Bahasa Indonesia.
Dari Tesaurus Bahasa Indonesia, saya menemukan puluhan ribu padan kata bahasa kita yang membuat saya bisa belajar bermain dengan kata-kata yang lebih indah. Saat ini yang menjadi pegangan saya adalah Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko terbitan Gramedia. Bersama tesaurus ini saya diberondong dengan lema atau entri berupa kelompok kata berikut padanannya dalam bahasa Indonesia. Jadilah banyak kata-kata baru yang masuk dalam tulisan-tulisan saya.
Sepanjang yang saya tahu, untuk tesaurus bahasa Indonesia saat ini hanya ada satu saja, yaitu tesaurus seperti yang saya punyai. Di toko buku diskon saya mendapatkannya dengan harga Rp126.000, sedangkan di jaringan toko buku ternama harganya dipatok Rp170.000.
Bagi saya, tesaurus ini seperti kitab wajib yang harus dilimiliki agar ladang saya makin menyemai dengan indahnya. (life)
foto by: icha (life)
Popularity: 29% [?]


Thank untuk tulisan ini. Lisa bener banget, buku apalagi satu buku terjemahan, mungkin akan sangat mudah jika hanya berurusan mentranslate kata-kata saja, mjd beda urusannya jk kita berkepentingan dgn mempertahankan ruh dr tulisan itu sendiri. Pasti bukan pekerjaan yg gampang…
Sekali lg, makasih tuk artikel menarik ini…
ungguls | Dec 21, 2007 | Reply
you’re welcoma mas unggul.
thanks juga untuk inspirasinya..:)
Lisa Febriyanti | Dec 21, 2007 | Reply
ikra atau iqra? ..
yainal | Dec 21, 2007 | Reply
iya, yang saya maksud iqra…tuh udah diganti. thanks ya…;)
Lisa Febriyanti | Dec 21, 2007 | Reply
menarik tulisannya dan setuju bahwa dengan membaca, kosa kata kita bertambah. dengan menulis, kemampuan kita untuk menulis juga terasah. Tesaurus Bahasa Indonesia? Pernah dengar, tapi belum punya … :”>
meity | Dec 24, 2007 | Reply
coba deh mbak dicari tesaurusnya..layak untuk dimiliki…:)
Lisa Febriyanti | Dec 25, 2007 | Reply
“Untuk menghasilkan 1 kata terbaik, sebaiknya seorang menulis membaca seluruh perpustakaan.”
*Seseorang yang bilang.
> Thesaurus beda ama KKBI gak, ya? mbak Rinurbad pernah nyarankan buat beli KBBI.
Ferry H | Jan 9, 2008 | Reply
tesaurus beda sama KBBI. tergantung sama kebutuhan penulis ingin belajar yang mana. Idealnya memang keduanya dimiliki.
kalo tesaurus adalah isinya sinomim kata, jadi lebih banyak kosa kata yang bisa kita serap di sana.
jika KBBI, isinya arti kata, ejaan dan penggunaan tanda bahasa sesuai EYD.
Lisa Febriyanti | Jan 9, 2008 | Reply
ada yg tau arti kata “anata no tame ni”???
julius | Feb 14, 2008 | Reply