The Neka Art Museum, Ubud-Bali

inside the museum

Ubud, salah satu muara budaya di wilayah Bali. Di sinilah bermacam gallery dan workshop kesenian dibangun. Bukan itu, saja, di lokasi yang berjarak kira-kira 45 menit dari Denpasar ini menyimpan satu museum karya seni yang bercirikan Bali. The Neka Art Museum, demikian museum itu dikenal.

The Neka Art Museum adalah rumah bagi ratusan koleksi lukisan maupun karya seni lainnya yang dibuat oleh seniman berbagai negara, namun memiliki satu ciri, yaitu berbicara tentang misteri Bali yang eksotis. Adalah Suteja Neka yang telah berinisitaif mendirikan museum ini. Neka, bukanlah seorang seniman murni, namun darah seniman mengalir deras dalam tubuhnya. Kecintaannya terhadap dunia seni di Bali itulah yang justru menumbuhkan niatnya menjadi “pelindung” karya-karya dari seniman lokal maupun internasional yang berbicara tentang Bali.

Dalam museum ini terbagi menjadi beberapa space berdasarkan koleksinya. Gedung pertama, Balinese Painting Hall, terletak di depan dan berisi kumpulan lukisan dan karya seni lainnya yang bercerita tentang Bali. Mulai dari kisah pewayangan, epic Ramayana dan Mahabharata hingga almanak unik yang menjadi penuntun kehidupan sehari-hari. Warna coklat tua yang dominan dalam karakter wayang bali begitu terasa di ruangan ini. Selain wayang, lukisan-lukisan tentang Bali dengan ciri khas dari Ubud, Batuan serta lukisan tradisional Bali dipajang di hall ini.

Bergeser ke ruangan berikutnya adalah koleksi dari Arie Smit, seniman berdarah Belanda yang juga telah banyak membantu Suteja Neka dalam mewujudkan berdirinya museum itu. Koleksi Arie Smit yang kaya warna dan komposisi banyak menampilkan panorama Bali nan eksotis.

bingkai di arie smit

Masih di hall yang sama, berbeda lantai, merupakan tempat bagi para seniman muda yang pernah difasilitasi oleh Arie Smit dalam berkarya di tahun 1960.

Hall selanjutnya, Photography Archive Center adalah tempat disimpannya kumpulan foto Bali dalam hitam putih di tahun 1930-1940 yang dibuat oleh Robert Koke (Amerika). Foto-foto banyak bercerita tentang kehidupan sehari-hari di Bali. Foto-foto yang lebih modern kemudian ada di sana sebagai dokumentasi berbagai kegiatan yang melibatkan The Neka Art Museum.

Bagi saya, ada sebuah spot kecil yang sangat mengesankan, yaitu sebuah ruang yang diperuntukkan bagi koleksi I Gusti Nyoman Lempad. Di kalangan seniman, siapa tak kenal Nyoman Lempad. Beliau adalah seniman Bali yang paling besar di eranya. Karyanya unik, yaitu berupa sket yang digambar langsung dengan tinta, lalu nuansa merah dan keemasan memberikan percikan yang hidup karyanya. Sketnya begitu detail dan hidup, dimensinya begitu terasa meskipun kumpulan karyanya kebanyakan hadir dalam bingkai-bingkai kecil.

Contemporary Indonesia Art Hall saat saya ke sana sedang dihuni oleh karya-karya Abdul Aziz, yang begitu alami menggambarkan wajah-wajah dan kehidupan di Bali. Karya-karya Affandi pun terlihat dipajang di museum ini.

Wuih..suatu pengalaman menarik menjejak di museum ini. Dengan bangunan khas Bali, museum ini dengan kesederhanaanya mampu menjadi pelipur dan pengisi jiwa dengan karya-karya seni yang fenomenal. Tak terbayang bagaimana usaha yang dilakukan oleh Suteja Neka dalam berburu koleksi untuk museumnya. Koleksinya tergolong susah dicari dan dapat dipamerkan dalam kondisi yang masih terjaga. Yang lebih salut lagi, Suteja Neka sendiri setahu saya tidak menghasilkan sebuah karya seni yang fenomenal, namun museum ini merupakan masterpiecenya untuk melindungi dan semakin mengangkat dunia seni dan budaya Bali

tautan:

1. Foto-foto kunjungan ke The Neka Art Museum

2. The Neka Art Museum official Website

3. Museum Neka Gelar Pameran Abdul Aziz

Post a Comment


Comments links could be nofollow free.