Rona Rona Padang

alun2padang

Setelah berharap sekian lama, akhirnya kesempatan untuk berkunjung ke kota Padang ada dalam genggaman. Meskipun in short notice, tanpa berpikir dua kali, saya menyatakan siap untuk melaksanakan tugas di ranah minang ini.

Saya sengaja memilih window seat di sebelah kanan. Kabarnya dari jendela kanan inilah nantinya pantai barat akan terlihat saat pesawat akan mendarat. Ah, benar juga. Setelah hampir 90 menit perjalanan dari Jakarta, pantai barat dengan tepian pantai yang meliuk dan deretan pohon kelapa menyapa pagi saya. Kota Padang, akhirnya bisa juga saya jejaki.

Begitu keluar dari Bandara Minangkabau, Padang Pariaman, terhampar di hadapan saya bukit barisan yang nampak hijau terang. Siang yang panas sudah menghilangkan kabutnya. Ujung-ujung tanduk yang menghiasi genting terlihat menjulang megahnya, diterpa sinar matahari yang masih sayup.

Jadwal tiga hari di Padang cukup penuh. Saya harus menemui beberapa pejabat kota. Saya sempat mengira waktu untuk pelesir sudah mesti dicoret dari agenda saya. Tapi rupanya justru karena Bapak Walikota Padang, Drs. H. Fauzi Bahar, Msi telah berbaik hati menerima kami dan justru meminta stafnya mengantarkan kami menikmati sore di Pantai Air Manis.

pantai air manis

Mendengar nama pantai disebut, saya langsung bersemangat. Mengira kaki saya akan kembali memijak pasir pantai. Namun ternyata tebakan saya meleset. Kaki saya harus bersabar untuk bertemu kembali dengan pasir pantai. Saya justru menikmatinya dengan cara unik yang lebih menyenangkan, dari sebuah teras belakang sebuah rumah mewah. Pemiliknya adalah Eric Cameron, berkebangsaan Australia yang membangun rumahnya tepat di bukit Pasir Air Manis. Dari belakang rumahnya itulah, senja jadi begitu memikat. Tanpa perlu merapatkan jaket karena angin sore pantai, saya justru dapat menikmatinya dengan duduk manis sembari berbincang dengan rekan kerja dan secangkir teh hangat di teras rumah yang sangat asri. Suatu ritual senja yang tak terlupakan.

Dari kunjungan kerja ini, sebuah info baru masuk dalam catatan saya. Pemkota Padang saat ini tengah menggodok sebuah proyek yang diberi nama Padang Bay City. Rencananya proyek ini akan berdiri di teluk Siti Nurbaya, di Pantai Barat. Mungkin termasuk proyek yang alot untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat mengingat issue tsunami di pantai barat. Namun pemkot Padang tengah menggodok semua data-data mengenai tingkat keberhasilan proyek ini. Jika proyek ini jadi dijalankan, maka sebuah wahana wisata pantai yang megah dengan kumpulan apartemen akan berdiri di sana.

Padang, ibukota Sumatera Barat ini menyajikan berbagai rona-rona wisata, baik wisata pantai maupun wisata pegunungan. Duh sayang sekali, kunjungan pertama ini, saya tidak bisa menjadi salah satu saksi indahnya kota Bukittinggi yang terkenal elok itu.

Meskipun begitu, ada satu hal yang menarik di kota Padang yang cukup mencolok mata. Angkutan umumnya, tampil trendy dengan warna-warni ceria dan kadang terdengar dentuman musik menggelegar dari dalamnya. Jika saya amati memang pengguna angkot kebanyakan anak-anak sekolah, atau anak-anak muda. Orang-orang yang lebih tua kebanyakan telah menggunakan kendaraan sendiri.

Yang tak lupa dibawa dari Padang adalah oleh-oleh makanan. Saya dan rombongan sempat mampir di salah satu resto yang rendangnya yummy banget. Restaurant Sari Raso, demikian namanya. Salah resto terkemuka di kota Padang.

Selain rendang, yang pasti jadi titipan rekan-rekan di Jakarta adalah keripik balado. Perusahaan penyedia oleh-oleh yang terkenal alah Christine Hakim dan Rohana Kudus, kedua menjual oleh-oleh dengan harga saling bersaing. Jika Chirstine Hakim telah memasang baliho besar-besar di beberapa lokasi di kota Padang, Rohana Kudus lebih memilih tidak head to head dengan pesaingnya itu. Lalu memberikan kelebihan bagi konsumennya harga yang lebih murah, karena Rohana Kudus membuka counter langsung di pabrik pembuatannya.

Ah ya, saya juga sempat mampir di sebuah toko souvernir yang lengkap nian. Namanya Silungkang, terletak di Jalan Sudirman. Koleksi songketnya cantik-cantik dengan berbagai range harga. Demikian pula dengan pilihan mukenah dengan ragam bordir yang cantik. Harga yang ditetapkan masih bisa ditawar. Ayo..coba lawan orang minang dalam menawar…

1 Comment(s)

  1. What an exotic n a romantic place to be..!!!

    indeed…pengen ke sana lagi suatu saat nanti…

    c-gate | Jul 17, 2008 | Reply

Post a Comment