Menyapa Langit yang Begitu Dekat

* secarik kisah perjalanan ke Kalimantan Tengah

icha di borneo

Borneo. Rumah bagi sejuta pohon. Begitulah yang saya lihat saat pesawat hampir melandaskan rodanya di pelabuhan udara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Jutaan pohon menghampar hingga ke kaki langit. Paduan warna hijau gelap dan cerahnya biru langit berhiaskan awan putih, sungguh suatu panorama yang jarang saya nikmati dalam beberapa perjalanan lain.

Ini kali ke dua saya menjejakkan kaki saya di tanah Borneo. Pertama kali, kota Banjarmasin yang jadi tujuan saya. Kali ini, Kalimantan Tengah siap saya arungi atas nama tugas. Berbeda dengan Banjarmasin yang merupakan bandar ramai. Tugas saya kali ini mengajak saya merasuk hingga ke pedalamanan Kalimantan Tengah. Di mana signal handphone adalah barang langka. Dimana, stasiun televisi hanya bisa dinikmati dengan parabola. Dimana masih ada desa terisolasi dan hanya menggunakan jalur sungai saja sebagai transportasinya.

Tiba di Palangkaraya, tengah hari berteman siraman sinar matahari yang garang menyambut kami. Perut sudah mulai bernyanyi. Pemandu yang juga klien kami kemudian membawa ke sebuah warung yang menurutnya terkenal di Palangkaraya. Ternyata warung itu bernama Warung Bang Jali, menjajakan sop dan sate a la betawi. Waduh, jauh-jauh ke Palangkaraya kok nyangkutnya ke masakan Betawi juga. But anyway, masuk juga beberapa tusuk sate ayam yang memang lezat itu di perut saya.

Tanpa membuang waktu, karena perjalanan masih jauh, kami langsung meluncur ke Sampit. Hujan mulai menyapa di tengah perjalanan. Saya sempat bersapaan dengan pelangi. Rona warna warni itu seperti tertempel di langit kelabu. Melengkung dengan sempurna di sana. Dan tidak hanya satu, tapi ada dua pelangi.

Normalnya perjalanan ke Sampit membutuhkan waktu empat hingga lima jam. Tapi hari hujan, dan perjalanan dalam gelap membuat waktu tempuh lebih lama. Di tambah lagi, jalan penghubung yang dipagari lahan gambut itu menoreh lubang di sana sini. Pantas saja saya tak pernah berpapasan dengan mobil jenis sedan di sini. Medan yang berat akan sulit ditempuh dengan city car.

Signal handphone sudah mulai naik turun di sini. Beruntung tiga mobil yang membawa rombongan berbekal HT. Jadilah kami bisa saling memperingatkan adanya lubang ataupun kendala di jalan dengan alat telekomunikasi yang satu itu.

Sekira pukul 10 malam, kami memasuki kota Sampit. Sudah sepi. Hanya rintik hujan yang menemani. Perut sudah waktunya diisi. Tawaran makan malam seafood, dengan udang air air tawar menggoda untuk dinikmati. Dan sekali lagi, warung yang kami singgahi bertitelkann Warung Lamongan. Nah, ini di Jawa apa di Kalimantan yah?

Masih ada tiga jam perjalanan lagi yang masih harus kami tempuh. Menembus kepekatan malam, menuju lokasi perkebunan sawit, tempat kami akan melakukan sebuah pembuatan film dokumenter atas permintaan sebuah perusahaan. Mata yang mulanya lelap, jadi terbelalak karena terantuk-antuk jalanan yang rupanya sudah bukan aspal lagi. Belum lagi jalanan berlumpur yang membuat laju kendaraan beberapa kali menyesuaikan kondisi jalan. Kanan dan kiri hanya pohon-pohon tinggi menjulang yang nampak seram di tengah malam.

Pukul dua dini hari, kami baru tiba di site. Hanya unloading barang dan beristirahat yang bisa kami lakukan. Esok, masih banyak yang harus kami lakukan.

***

Hari kedua, hari pertama saya berkenalan dengan siang di site. Di sebuah lokasi yang ada di tengah Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Signal sudah tak tertangkap sama sekali. Hanya di tempat yang lebih tinggi saja, muncul beberapa strip. Tak pelak, kami harus mengangkat handset tinggi-tinggi ke udara untuk mencari signal. Atau berdiri di tempat ketinggian.

Di hari benderang inilah, saya merepih. Di atas sana, langit biru dengan awan putih meriap-riap, seperti begitu dekat dengan tanah. Hijaunya lahan sawit menghampar seperti tak berujung. Kabarnya ada 19.000 hektar yang dimiliki site ini. Tanya sana sini, rupanya HPH di sini per hektarnya hanya sekitar 400 ribu saja. Bandingkan sama harga tanah di kota besar. Yah, mesti maklum, pengelolaan hutan berbeda dengan pembelian tanah.

Bukan di Borneo namanya jika tak menyusuri sungai. Salah satu lokasi syuting yang sudah kita tetapkan adalah sungai. Jangan bandingkan sungai di Kalimantan dengan di Jawa. Sungai di sini sangat lebar, bahkan terus melebar hingga mirip laut saja. Tak heran, di tengah-tengah sungai terdapat pulau beberapa pulau kecil.

Yang sempat kami kunjungi adalah Pulau Ujung Kupang. Pulau tak berpenghuni, berpasir putih, seperti layaknya pantai. Dihuni oleh mangrove dan beberapa binatang buas, seperti ular dan babi. Jika ingin bersantai layaknya di pantai, Pulau ini bisa jadi alternatif. Hanya saja, jangan terlalu masuk ke dalam, cukup di pinggirannya saja. Selain rawa-rawa, sebuah ular besar sempat kami temui bergelung persis di atas lokasi syuting kami.

tulisan pasir

Seminggu penuh kami di pontang panting menghadapi perubahan cuaca yang begitu cepat di site. Mengubah semua jadwal syuting. Ikan dan udang adalah santapan wajib tiap hari. Kulit pun makin legam, terpapar matahari yang garang. Berkenalan dengan penduduk asli yang ramah. Namun jangan pernah membuat janji pada mereka. Aura mistis masih begitu terasa. Asal kita niat bekerja dengan baik, tanpa bersikap kurang ajar, mereka ringan tangan membantu.

Asimilasi penduduk aseli dengan masyarakat Jawa begitu terasa di sini. Saya temui ada beberapa kosa kata bahasa Jawa yang diadopsi oleh penduduk. Seperti kata “inggih” yang berarti “iya” dalam bahasa Jawa, digunakan untuk arti yang sama di sini. Di site, komposisi pekerjanya pun terdiri dari 30% penduduk aseli dan 70% pendatang dari Jawa yang kebanyakan dari Jawa Tengah.

Pohon yang mestinya menjadi pemandangan yang bersahabat di Borneo ini, sudah banyak berkurang. Selama di sini saya berharap masih bisa melihat pohon-pohon dengan lingkar diameter sebesar pelukan saya. Tapi rupanya saya salah alamat. Ini adalah lahan perkebunan. Untuk mencari hutan besar, kita masih harus menerobos hutan perawan yang lebat. Itupun dengan mobil ranger yang sempat terperosok.

ilalang

Langit yang bergelung-gelung, jalanan off road, senyum anak-anak kecil di bibir, padang ilalang yang menguning, siang yang garang, kelincahan crew dan pekerja perkebunan yang bekerja, hawa dingin yang menjebak saat dini hari, gigitan nyamuk-nyamuk liar, suara jangkrik di malam hari, sungai yang lebar…..tak nyana..membuat saya rindu untuk datang lagi ke Borneo.

Popularity: 26% [?]

13 Comment(s)

  1. …bawa munyuk nggak? :)
    *met kembali ke peradaban*

    yainal | Nov 25, 2007 | Reply

  2. wah.. seneng, tugas sekalian jalan-jalan hehehe

    salam kenal dulu deh

    pudakonline | Nov 25, 2007 | Reply

  3. @yainal: kita sendiri dah kaya orang utan begitu kembali ke peradaban…alias itam legam…:-)

    @pudakaonline: salam kenal juga. kapan lagi bisa jalan-jalan kalo gak sambil kerja heheheh

    Lisa Febriyanti | Nov 25, 2007 | Reply

  4. kalimantan memang eksotis..

    salam kenal..

    ajissi | Dec 1, 2007 | Reply

  5. salam kenal juga…

    Lisa Febriyanti | Dec 2, 2007 | Reply

  6. Wah…kamu datang ke rumahku ya..aku di Palangkaraya. Surprise juga kamu cerita banyak tentang kalteng. Menyedihkan ya…Kalteng begitu ketinggalan dalam hal pembangunan. Lebih menyedihkan lagi aku menetap di Palangkaraya sudah 10 tahun. Tapi gak papa. Aku enjoy aja kok. Mungkin kalo ke kota besar aku malah gak bisa hidup…Ok, sukses terus ya…

    Razi | Dec 2, 2007 | Reply

  7. Asl..mbak..salam kenal ya..woww pasti berkesan skali perjalanannya sambil syuting….bukit disana nggak ada ya mbak ?

    penunggangkuda | Dec 3, 2007 | Reply

  8. @Razi: tahu gitu aku mampir tuh ke rumahmu..minta secangkir teh kalimantan yang aduuuuh wangi banget..beda ama teh di jawa yang cenderung pahit. di kalimantan kayanya wangiiii banget tuh, mau bawa buat oleh2 malah kelupaan…hehheehe

    @penunggangkuda: salam kenal juga. kebetulan di perkebunan yang saya datangi lahannya datar.

    Lisa Febriyanti | Dec 3, 2007 | Reply

  9. Goresan “Icha was here” bagus tuh, membumi….:-D

    ferry hz | Dec 11, 2007 | Reply

  10. wah enak ya jalan2 ke kalimantan nya!!
    sekarang palangkaraya udah rame lho.
    tempat belanja modern kayak mal udah ada lho….
    aku juga pernah menjelajah kalteng hingga ke perbatasan kalteng-kalbar sana.
    wuih takjub benget ama alamnya…..
    bagus.salam kenal ya.blog ku: ujungtajur.blog.com
    anas

    anas | Jan 1, 2008 | Reply

  11. salam kenal juga.

    sempat juga kemarin muter di palangkaraya. ya saya melihat ada satu mall cukup besar di depan alun-alun palangkaraya.

    Lisa Febriyanti | Jan 2, 2008 | Reply

  12. wow…keren… jujur… honestly tulisan kamu bagus… foto2mu juga …. keren…

    zie | Apr 6, 2008 | Reply

  13. thanks ya zie…

    silakan berkunjung lagi kapan-kapan…always welcome..:)

    Lisa Febriyanti | Apr 6, 2008 | Reply

1 Trackback(s)

  1. Nov 25, 2007: from Mengkomunikasikan Diri Sendiri (dan Mendapatkan Kerja) Melalui Blog, Kenapa Tidak? : Work 2.0 as Habit

Post a Comment


Comments links could be nofollow free.