Glonggong

Glonggong

 

 

 

 

Judul : GLONGGONG

Penulis : Junaedi Setiyono

Penerbit: Serambi

Terbitan perdana: Juli 2007

Penulisnya pandai memilih judul. Begitu kesan pertama yang saya dapat dari buku ini. Judulnya singkat dan menggugah pertanyaan. Apa itu Glonggong? Glonggong adalah nama tokoh utama dalam buku ini. Seorang priyayi rendahan yang terbuang dan berusaha mencari jati dirinya. Dia hidup di era perang monumental, Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.

Danukusuma adalah nama aseli sang tokoh, namun justru tenggelam dengan nama panggilannya: Glonggong. Nama ini diperolehnya karena kesukaan dan keahliannya bermain perang-perangan menggunakan glonggong (batang daun pepaya). Inilah nilai lebih buku ini, mampu mengangkat jenis permainan kuno yang banyak dilupakan masyarakat kita. Sungguh membumi.

Ayah kandungnya ikut berperang dan meninggalkan keluarganya. Ibunya yang kemudian disunting bangsawan keraton, perlahan menjadi gila dan disingkirkan masyarakat. Yang diingat perempuan itu hanya menembang dan menembang setiap hari. Glonggong seperti tumbuh melawan dera dalam kungkungan feodalisme Jawa.

Perkenalannya dengan orang-orang dari kalangan ningrat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan hulu dari hidupnya. Lalu mengalir dalam sebuah peran penjaga keamanan atau centeng mereka. Kekagumannya pada Pangeran Diponegoro ikut membuat cabikan-cabikan dalam kehidupannya. Pecahan-pecahan mengenai siapa jati dirinya pelan mulai terungkap. Meski kemudian meninggalkan luka baginya.

Kisah Glonggong yang berlatar belakang Perang Jawa ini, dilihat dari sisi sang tokoh yang hidupnya dilingkupi banyak kelak kelok. Meski sebagai lakon, tidak seperti di film-film, Glonggong yang ini banyak mengalami kekalahan dalam hidupnya. Namun justru di situlah letak ketegarannya menghadapi kehidupan. Di saat kebobrokan dan intrik-intrik politik yang berseliweran saat perang, cara-cara para bangsawan yang tak hendak kehilangan posisi nyamannya lalu bekerja sama dengan kompeni, Glonggong tetap kukuh dengan jati dirinya, dengan janji setianya pada Pangeran Diponegoro.

Novel karya perdana Junaedi Setiyono ini tidak hanya bertutur tentang liku-liku hidup sang tokoh, namun mengingatkan kembali sebuah kisah sejarah yang jangan sampai dilupakan oleh generasi bangsa ini. Meskipun, fakta sejarah tidak disajikan secara detail namun hanya sebagai setting waktu dan latar belakangnya saja.

Tutur bahasanya mudah dimengerti. Plotnya tak jauh dari kisah Glonggong sendiri, sebagai tokoh sentral. Sedangkan tokoh-tokoh yang lain terkesan hanya numpang lewat. Kondisi psikologis peran pembantu tak begitu ditampakkan. Novel ini seperti dibungkus terlalu cepat. banyak di awal, namun berakhir dengan begitu cepat. Sehingga kaitan-kaitan di awal pun lenyap menghampar.

Glonggong adalah pemenang harapan I Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Junaedi Setiyono lahir di Kebumen, 16 Desember 1965. Buah tangannya lebih banyak cerpen dan puisi yang telah dimuat di berbagai media. Junaedi saat ini mengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Popularity: 9% [?]

2 Comment(s)

  1. rajin menulis yah? pantes jadi editor bagus tulisannya ^^ met sukses n met kenal yah

    olfix | Nov 6, 2007 | Reply

  2. salam kenal jugah…makasih dah berkunjung..sering-sering mampir yahh :-)

    Lisa Febriyanti | Nov 6, 2007 | Reply

Post a Comment


Comments links could be nofollow free.