Singapore Sight (4): In the edge of Marina Bay

merlion.jpgBulan sudah terbit. Purnama di Singapura. Sinarnya berpendar indah. Bulan itu bagai lampu spot yang menerangi kehidupan malam di Singapore. Dan bulan purnama itulah yang menemani malam terakhir saya di Singapura, berbaur dengan kerumunanan visitor yang menyesap kelap kelipnya malam. Singapura membiru indah, menarik-narik saya untuk tak segera menyudahi malam ini.

Taxi yang membawa saya dari chinatown meluncur melewati gedung-gedung tinggi. Inilah Singapura. Dengan lahan yang sempit, gedung dan rumah-rumah dibangun vertikal. Jarang sekali saya melihat kompleks perumahan seperti di daerah pinggiran Jakarta. Hidup di apartemen bukanlah sesuatu yang terdengar mewah di Singapura.

Taxi saya sudah berhenti. Di depan sebuah atraksi kota yang indah tertimpa lampu-lampu. Merlion Park. Patung singa berekor ikan itu mencurahkan air dari ujung mulutnya. Di seberang sana sungai yang dikenal dengan sebutan Marina Bay membentang panjang, beberapa taxi boat lalu lalang berisi penumpang yang ingin menyesap keindahan Singapura dari sungai.

Merlion Park adalah salah satu landmark di Singapura yang wajib dikunjungi oleh pelancong. Sekadar untuk mengambil gambar dan kongkow di sekitar Merlion Park yang nyaman.

Dari literatur yang saya baca, nama Merlion diambil dari paduan Mermaid dan Lion. Icon Singapura punya cerita legenda tersendiri bagi penduduk Singapura. Sang Nila Utama, pangeran dari Sumatera sedang mencari tempat baru untuk dibangun. Dia pun mendarat di Tumasek (nama sebelum Singapura), lalu melihat seekor binatang yang disebut sebagai singa. Sejak itu, Sang Pangeran pun kemudian menamakan tempat itu Singapura dan membangun kota di sana.

Marina Bay, tak hanya punya Merlion Park untuk dikunjungi. Tepat di sisinya yang lain, sebuah gedung unik berbentuk duren, karena atapnya seperti kulit duren. Ini bukan gedung biasa. Gedung itu bernama Esplanade Theater on Bay.

Saya sempat menengok ke dalamnya. Gedung ini memiliki bentuk bangunan yang artistik, namun elegan. Concert hall nya mampu menampung hingga 2000 orang. Selain theater, gedung ini juga menaungi mall, food stall dan perpustakaan besar yang berisi beragam literatur tentang seni. Ini semua membuat Esplanade menjadi gedung pusat kesenian yang mewah dengan gaya minimalis yang sangat modern.

Sayangnya waktu saya ke sana tak ada pertunjukan seni yang sedang digelar. Saya tak bisa berlama-lama di sana. Selain karena jam sudah mulai larut, masih ada satu tempat lagi yang ingin saya kunjungi. Masih di bawah bulan purnama.

Sebenarnya saya bisa menyusuri sungai menggunakan taxi boat, namun teman-teman lebih suka menelusuri jalan-jalan malam di Singapura dengan berjalan kaki. Tujuan kami berikutnya adalah Clarke Quay.

Clarke Quay adalah sebuah tempat hiburan malam yang diperkaya dengan berbagai cafe dan food stall. Sudah hampir tengah malam, saat saya tiba di sana. Tetapi, Clark Quey tetap semarak. Kebanyakan yang datang bule-bule dari belahan negara Barat. Letaknya memanjang di tepi sungai. Clarke Quay seperti sebuah kompleks makanan. Ada sekitar 60 ruang makan yang ditata dengan interior beragam yang bisa dipilih. Selain tempat makan, di kompleks itu saya melihat beberapa kantor yang menyempil di tengahnya. Wah, beruntung sekali yang bisa berkantor di tempat ini.

Ingin sih mencoba beberapa menunya, tapi rupanya perut kami sudah terlalu kenyang tadi, jadilah kami hanya menjelajahi dan memperkaya pandangan mata saja.

Clarke Quay berbenteng gedung dan hotel mewah, rentetan makanan di tepi sungai, irama musik berdentam (kadang ada lagu dari band Indonesia) sungguh menjadi tempat yang pas untuk menghabiskan malam terakhir saya di Singapura.

Oya, ada satu atraksi lagi yang bisa dicoba di sini, namanya G-max Reverse Bungy. Prinsipnya seperti bungy jumping tapi dimulai dari bawah. Penggunanya duduk di kursi dan diberi pengaman, kemudian dilontar ke atas dengan tali yang bisa melar, sehingga penggunanya bisa terpelanting naik turun. Ketinggian maksimal yang bisa dicapai sejauh 60 meter dengan kecepatan hingga 200 km/jam. Sekali naik, Anda ditarik SGD40, jika ingin dibuat videonya, tinggal tambah lagi SGD10. Sekali naik bisa tiga orang langsung. Sungguh permainan yang memacu adrenalin.

Night life di Singapura ini menjadi salah satu daya tarik pelancong di Singapura. Di Jakarta, barisan cafe semacam itu bisa ditemui di Kemang. Andai saja sungai-sungai di Jakarta bersih dari sampah dan bau, mungkin saja saya akan bisa menemui Clarke Quay a la Jakarta yang tak kalah menariknya.

Popularity: 29% [?]

5 Comment(s)

  1. oleh-olehnya??? :D

    venus | Sep 5, 2007 | Reply

  2. ada neeh…kulit duren a la esplanade theater..mau? :-D

    Lisa Febriyanti | Sep 6, 2007 | Reply

  3. wah yang udah menjelajah singapur neh..pengen dunk..hiks..hiks..dulu sempat kesana cuman mampir doank,sekilas mata, sekejap hati..:(

    choirul | Sep 30, 2007 | Reply

  4. rugi dunks kalo ke sing cuma mampir doang…sekejab hati lagi….ibarat cuma melirik doang yahhh…

    Lisa Febriyanti | Sep 30, 2007 | Reply

  5. mau dunk info lengkap hotel yg murah2

    sherly | Aug 3, 2008 | Reply

Post a Comment


Comments links could be nofollow free.