Putri, Sang Scriptwriter
Posted by Lisa Febriyanti on Aug 20, 2007 in ladang baca
wrote by: Akhmad Yainal Abidin
Sebut saja namanya Putri. Walau saya baru mengenalnya beberapa waktu yang lalu, tapi dalam beberapa waktu terakhir ini kami sering menghabiskan waktu untuk saling bekerja sama dalam beberapa proyek kerja.
Putri bekerja sebagai seorang scriptwriter, profesi yang mungkin tidak banyak dikenal dan mentereng seperti manager besar sebuah perusahaan. Sebelum menekuni profesinya yang sekarang, Putri sebenarnya adalah karyawan pada perusahaan seperti pada umumnya. Berbagai profesi sudah dilakoninya selama tujuh tahun, mulai dari reporter media sampai akhirnya menjadi salah satu Public Relations Senior Officer salah satu perusahaan besar di Jakarta.
“Jika karir dan gaji yang dicari, saya sudah pernah mendapatkannya dan jika mau pun maka insya Allah selalu bisa atau ada jalan untuk itu“, kata Putri kepada saya.
“Lalu kenapa kamu meninggalkan karir dan gaji yang jadi menjadi impian banyak orang itu?“, tanya saya.
Alih-alih menjawabnya, dia malah bertanya balik kepada saya, “Antara hidup untuk bekerja atau bekerja untuk hidup, mana yang kamu pilih?“. Dan tanpa menunggu saya menjawabnya, dia pun lalu berkata, “Bekerja di Jakarta, penuh ritme dan perjuangan. Waktu rasanya seperti sangat berharga untuk dilewatkan. Dan saya butuh perubahan tersendiri dimana saya bisa memerdekakan diri saya dari segala tuntutan nggak penting di dunia ini“.
Saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat dia. Tetapi sebelum saya sempat mengutarakan pendapat saya, dia sudah melanjutkan omongannya lagi, “Saat ini, saya sudah cukup senang dengan kondisi dan ritme yang ada. Saya bisa melakukan kontrol terhadap apa yang saya lakukan dan apa yang saya inginkan. Sebagai scriptwriter independent, saya memang tidak mendapatkan gaji bulanan. Untuk itu, saya mematok target pribadi 10 sampai 15 script setiap bulannya. Untuk setiap script yang saya hasilkan, saya mendapatkan imbal hasil 1-2 juta. Cukuplah untuk membiayai aktivitas mobile saya yang suka jalan ke sana kemari itu.“
“Hmm.. 10 sampai 15 script tiap bulan? Lumayan juga tuh.. ngalahin gaji temen saya yang katanya sih manager”, timpal saya.
“Ya begitu lah. Itu kalau memang nasib lagi baik. Kalau sedang tidak baik ya tidak bisa dapet segitu. Tahu sendiri lah gimana kalau orang kerja seperti saya, kadang naik dan kadang juga turun. Tapi walau begitu, saya selalu mengusahakan ada cadangan uang di tabungan. Selain itu, sebagai investasi jika nanti saya tidak bisa produksi lagi, saya punya beberapa usaha kecil di pinggiran Jakarta, termasuk satu dua lagi lainnya di kota lain yang sering saya kunjungi. O ya.. kadang saya juga dapat order untuk jadi sub-titler beberapa film Hollywood via salah satu perusahaan yang ada di Montreal. Lumayan lah.. buat nombokin pengeluaran internet dan bensin”, ujarnya sambil tertawa manis.
”Sub-titler? Apaan tuh?”, tanya saya lebih lanjut.
”Itu lho.. translate dan tulis teks di film-film dari bahasa bahasa planet ke Bahasa Indonesia. Seperti film-film Hollywood yang diputer di Cinema 21 itu loh.. masak gak tahu seh..”, katanya bangga (seakan-akan sudah memberikan kontribusi besar pada dunia).
”Ooo.. itu toh..Maklum Non, saya kan orang udik..”, kata saya sambil tertawa sambil memandangi dia yang sedang menyeruput cappuccino yang ada dihadapannya.
note dari ladangkata: Akhmad Yainal Abidin menyebut dirinya sebagai global citizen wanna be, love reading, love writing, and (occasionally) work as (virtual ) collaborator. Saat ini bermukim sementara Karlsruhe – KA (Germany) untuk kembali meguru di Regionalwissenschaft (Regional Planning/Science) – Institut für Regionalwissenschaft (IFR), Universität Karlsruhe.
tlong kenalin dengan Mba Putri donk!!!
bagi pengalaman dn ilmunya dalam pekerjaan sebagai script writer…
thank’s bnget..
yang lain jga boleh banget ngash saran,pndapat,n masukan bt ary..
oya,,tertarik buat jdi script writer film pendek,ato jga ftv..
dh punya bnyk konsep tpi bingung nyalurin,,
thank’s banget bantuannya..
fs/email : lightofmylife_ary@yahoo.com
Ary | Nov 26, 2008 | Reply