perempuan pemberani
Posted by Lisa Febriyanti on Aug 14, 2007 in ladang inspirasi, ladang kisah
catatan dari pentas teater nyai ontosoroh, 13 agustus 2007
Potret perempuan selalu tak pernah bosan untuk dicermati. Meskipun dari generasi yang lalu-lalu sudah berdengung dengan kencangnya peran perempuan yang makin merambah ke ranah publik, namun eksistensi perempuan yang mampu menjalankan peran ganda dan bersuara selalu dilirik orang. Apalagi jika perempuan itu berangkat dari ketertindasan lalu bangkit dan berbicara. Seru, pastinya!
Nyai Ontosoroh, karakter ciptaan Pramoedya Ananta Toer dalam masterpiecenya Tetralogi Pulau Buru adalah salah satu dari sekian perempuan yang berkarakter kuat. Berangkat dari ketertindasan perempuan era tahun 20an, ditambah dengan nilai kebangsaan sebagai pribumi yang dibuat sangat marjinal oleh penjajah, sosok perempuan satu ini menjadi representasi perlawanan di jamannya.
Bagi yang belum tahu tentang Nyai Ontosoroh, biar saya ceritakan singkat tentang siapa dia. Nama aselinya adalah Sanikem, kembang desa Tulangan, Sidoarjo. Ayahnya, Sastrotomo adalah borjuis kecil yang ingin mendapatkan posisi di pemerintahan dengan berbagai cara. Kisah Sanikem kemudian bermula ketika dialah yang dijadikan bargaining untuk menaikkan posisi ayahnya. Sanikem diantarkan menjadi gundik atau nyai seorang pembesar Belanda bernama Herman Mellema agar ayahnya bisa naik jabatan.
Sanikem, 14 tahun saat itu, begitu dendam mendapati kenyataan dia dijadikan seorang nyai. Dendamnya berbuah hebat. Oleh Herman Mellema, Sanikem tidak hanya dijadikan nyai. Sanikem dibekalinya dengan pelbagai adab Eropa, manner Eropa, membaca dan menulis dalam bahasa Belanda dan Melayu. Sanikem yang tak kenal bau sekolah bangkit. Semua lini dikuasainya dengan sukses. Pengetahuan hukum, ekonomi, peradaban saat itu ludes dilalapnya. Jadilah dia Nyai Ontosoroh yang berkapabilitas tinggi, melebihi perempuan pribumi lain di eranya. Berjajar dengan perempuan Eropa yang bisa mereguk keilmuan. Nyai Ontosoroh justru berdiri memimpin perusahaan Herman Mellema yang mulai melempem diterpa persoalan pribadi. Bahkan, dengan berani membentak, melawan dan membuat keputusan untuk rumah dan perusahannya sendiri.
Tak berhenti di situ. Dendamnya akan ketertindasan membangkitkan kesadaran untuk tidak diam dikangkangi hak-haknya. Harus selalu ada perlawanan. Tak peduli orang Eropa manapun jika ingin menjarah haknya, dilawannya. Meskipun daya perlawanannya harus tunduk dengan hukum Eropa, tapi yang paling penting adalah dia melawan! “Kita telah melawan, nak. Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya” itu kalimat yang keluar dari mulutnya atas kekalahannya.
Perempuan dan keberanian. Kekuatan yang hebat. Nyai Ontosoroh dan perempuan-perempuan lain yang bangkit dari ketertindasan sudah membuktikan, bahwa gender adalah sebuah kata sifat. Dalam kata kerja gender bukanlah sebuah halangan. Satu hal yang saya bisa ambil dari Nyai Ontosoroh adalah penolakannya terhadap keterpurukan kondisi. Gambaran jati diri sebagai seorang NYAI yang dianggap tak bermoral dan hidup serumah tanpa ikatan perkawinan, yang justru dibuat oleh masyarakatnya sendiri, dilibas habis olehnya.
Ditinggalkan jauh-jauh rasa ketergantungannya. Di tengah, ketertindasan fisik dan psikologi, dia tak berdiam diri. belajar, mengeruk pengalaman dan mempraktekkannya untuk stand still di tengah arus jaman.
Perempuan pemberani bukan hanya Nyai Ontosoroh. Saya yakin, seyakin-yakinnya, jutaan perempuan di negara ini juga telah berani berkiprah. Berani membekali dirinya sendiri dengan berbagai asupan ilmu, pengalaman dan teknologi untuk maju. Salut saya untuk perempuan-perempuan itu. Terlebih lagi, mereka tak meninggalkan dunia domestik yang dibebankan olehnya, urusan keluarga dan rumah tangga yang harus dikelolanya.
Perempuan itu hebat, kawan. Potensinya menggelegar jika diasah. Kini, hampir semua profesi dijamahnya. Mereka ada dimana-mana. Anda (bagi perempuan) mungkin adalah salah satunya. Selamat berkarya, perempuan Indonesia.
1 Trackback(s)
Post a Comment