SERUMPUN SAPA

Aku berdansa bersama bulan, gemulai diiring embun yang menerawang di udara

Aku berlomba bersama matahari, meliat memacu diri

Aku merajuk pada pelangi, bermanja melabuhkan resah yang merepih

Aku melangut pada hujan, dalam tetes airnya dan gemuruh suaranya

Aku berbisik pada angin, untuk menyampaikan pesan pada cinta yang terkebiri

Aku genggam bara api, kumpulan perih yang tak juga mau pergi

Aku bersetubuh dengan alam…dengan kata-kataku….

(Lisa Febriyanti-petani ladangkata)

serumpun sapa dipersembahkan untuk senyum, salam dan sapa dari pengembara yang singgah di ladangkata

Kau Matahari dan Aku Bumi

Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (WS Rendra)

sunshine_6

Kau adalah matahari. Pembongkar kesadaranku akan hidup. Sinarmu, terik memercik, menyilaukan, mampu membuatku buta pada banyak hal. Sekaligus, cahaya itu yang menjadi terang dalam gelapku. Solarmu adalah tenaga kehidupanku, pemberi energi abadi. Duhai, bintang pusat galaksi bima sakti, kau adalah pusat mikrokosmosku.

Aku adalah bumi. Belajar bersabar menunggumu di tiap-tiap fajar. Dan ketika malam tiba, aku termangu pada bulan, menantikan pantul sinarmu di permukaan bulan. Ketika senja datang membawa resahku, aku percaya, kau tak pernah hilang ditelan ufuk.  Kau hanya berkitar pada realitas dan sejatimu yang lain. Dan aku rela menanti pada sejati yang aku percayai. Rotasiku mungkin tak sesempurna lingkaran. Ia adalah elips, mengambil jarak terdekat dan terjauhnya, bergantian, untuk memberimu ruang, untuk memberiku jarak. Tapi percayalah,  aku adalah bumi, berotasi padamu untuk keabadian.

Lalu cakrawala. Di zona itu keberanian diuji. Berani melepasmu untuk menjumpaimu lagi. Akankah kau terlambat datang? Akankah ujian itu menghilangkan keberanianmu untuk datang lagi  esok? Matahari, tempuhlah ujianmu, bumimu memiliki ujian kesabaran untuk menunggu. Di sanalah letak arti penantian.

Kau matahari dan aku bumi. Kita berjarak 148 juta kilometer. Berapa jarak hati kita?

Kau matahari dan aku bumi. Membutuhkan waktu 8 menit sinarmu mencapaiku, tapi prominensa mu menjulur tak berkesudahan.

Kau matahari dan aku bumi. Perjuangan kehidupan yang lebih dari kata-kata. Semoga.

Daun yang Menikmati Karma

Hari ini aku melihat selembar daun jatuh ke bumi
Bergerigi pada pinggirnya
Warnanya masih hijau
Melayang pelan diiring angin
Ia berbisik pada angin
“Inilah karmaku dan aku menerimanya sebagai takdirku.”
Angin tak menjawab
Ia hanya mengiringi

Daun luruh
Masih hijau
Menyentuh bumi
Ia menyapa bumi,
“Izinkan aku melesak, memburai dan nadir.”
Bumi tak menjawab
Ia hanya menerima

Daun meringkuk di tanah
Ia tahu sebentar lagi kehidupan direnggut darinya
Ia rela melewati karma lebih cepat
Ia membaca dialektika pohonnya
Ia menerima antithesisnya
Ia tersedak dan melonggarkan renggutnya pada tangkai pohon
Dalam detak kehidupannya yang tinggal sedikit
Ia hanya ingin tersenyum, menunggu samsaranya.

Hari ini aku melihat selembar daun jatuh ke bumi

Ada Berapa Wajah dalam Dirimu?

Ada berapa wajah dan jiwa yang kita punya? Apakah seseorang memiliki konsistensi untuk tetap menunjukkan satu wajah atau jiwa sepanjang hidupnya?

topeng1

Kerap kali aku melihat kawan, sahabat yang aku rasa kenal betul tiba-tiba menjadi seseorang yang berbeda, dalam ruang yang berbeda. Aku kira sudah sepenuhnya kenal siapa diri mereka, tetapi dalam ruang yang berbeda, terjadi perubahan. Wajah mereka berbeda, seperti juga jiwanya. Layaknya, mereka seseorang yang baru aku kenal. Inikah adaptasi atau memang tak ada seorang pun yang memiliki satu wajah atau jiwa sepanjang hidupnya?

Lalu, aku melihat diriku sendiri. Apakah tanpa aku sadari, aku pun memiliki perubahan yang demikian? Lisa Febriyanti di satu tempat, berbeda dengan Lisa Febriyanti di tempat lainnya?

Pertanyaan yang lebih jauh lagi, aku, kami, kita, apakah hanya menggunakan topeng sosial, bertingkah sesuai kondisi atau adakah alasan pembenarannya yang lain?

Manusia. Makhluk digdaya yang kuat seperti topan, gemulai seperti angin dan mampu bergerak seperti air. Manusia selalu dalam dialektikanya. Bertumbuh secara fisik, bertumbuh secara intelektual, berkembang dengan pengamalannya dan belajar dari semua hal yang datang padanya. Inikah penyebab perubahan?

Manusia. Dilahirkan untuk hidup secara sosial. Terikat pada keberadaan orang lain. Menggantungkan dirinya pada fungsi orang lain. Yang satu ada untuk memberikan makna bagi yang lainnya, meskipun bukan pada kondisi yang sepenuhnya kita inginkan. Apakah ini yang membuat mereka memiliki banyak wajah. Wajah di tiap kondisi. Jiwa di setiap situasi.

Lalu, jika ada banyak wajah dalam diri, dimana letak kesejatian?

Apakah frasa “Tak ada yang sejati selain perubahan” juga berlaku bagi jiwa?

Catatan: tulisan ini  hanya sebuah latihan kecil untuk mengamati dan menulis lagi, setelah aku mengalami writer block belakangan ini.

Ode untuk Rintik Hujan

raining

Jika,
Kesiur angin tak menerbangkan mega di bentang langit
Apakah kau akan tetap datang?

Kalau saja, matahari tak surut menjantang
Sudikah kau menghujam bumi?

Jika, dan hanya jika
Aku adalah telaga tanpa tepi yang tak mengenal daratan
Beranikah kau menitipkan satu rintikmu di telagaku?

Nyatanya,
Kau datang pada satu ruang sahara
Meluruhkan segala ketidakmungkinan
Dan aku bernyanyi diantara rintikmu
Sebuah Ode untuk Rintik Hujan

ILUMINASI, the Grand Launching

undangan grand launching

You’re all invited…lets meet there!

GRAND LAUNCHING ILUMINASI dan 7 novel spektakuler kawan-kawan seangkatan di Penerbit Kakilangit Kencana: Minggu, 7 Maret 2010, Ruang Anggrek Lt. 2, Istora Senayan, pk 16.00-18.00 WIB…undangan bagi semua, diskusi bagi semua….ditunggu kehadirannya…