05/16/12

Kawasan Urban yang Bertiwikrama

11 tahun terbilang. Dalam 11 tahun itu percepatan perubahan di kawasan tempatku tinggal, bak ksatria kurus yang melakukan tiwikrama. Menakjubkan. Pertama kali menginjakkan kaki di komplek perumahan tempat tinggalku sekarang, di bilangan perbatasan Ciledug dengan Serpong, hawa segar pagi masih terasa. Sesekali masih terlihat beberapa ekor kerbau lewat di depan rumah, menyeruak di sela-sela embun yang mulai berkalang tanah. Di kawasan komplek, aku termasuk penghuni awal yang berani tinggal di tengah tanah lapang yang masih belum terbangun rumah-rumah, sehingga masih punya kenangan tentang kosongnya ruang. Tinggal di kawasan pinggiran begini membuat malas untuk datang ke Jakarta Baca Selanjutnya...
Share
05/14/12

Ode to Serenity

Apa yang membuatmu merasa hidup? Helaan napas, langkah kakimu, atau desau sejuk angin di jiwamu? Semua itu membuatku merasa hidup. Ketiganya membuatku merasa bahwa aku manusia yang masih mempunyai tugas di semesta ini untuk tetap ada. Ketiganya, bukan salah satunya. Jika satu direnggut, maka dimensi kehidupan kurasakan menciut. Sejak nada kematian berdenting di sampingku, persis di sampingku, gemanya bersiar di kedalaman jiwaku.  Kehilangan seseorang dengan sangat mendadak, tanpa basa-basi, jalan kehidupanku berbelok arah. Menelikung ke lorong di saat awal dan melihat cahaya yang terang di ujungnya. Tak urung, banyak perubahan yang harus aku amini, sebagai bagian dari dimensi Baca Selanjutnya...
Share
05/6/12

Sekali Niat, Semesta Mendengar

Pagi ini, sebuah niat terukir dalam pikiranku. Menyelesaikan kisah tentang Ai, perempuan dengan HIV positif untuk dikumpulkan bersama cerpen dari para perempuan lain dan dijadikan sebuah antalogi. Niat itu aku tuliskan di status BBM: Namaku Ai, Kisah Perempuan dengan HIV Positif. Begitu status itu terunggah, sebuah BBM langsung menyapa. Dari Fira, kawan semasa kuliah. Fira: "Itu buku, Mbak?" Icha: "Bukan, Fir. Cerpen." Fira: "Mau baca dong." Icha: "Ini lagi aku edit dulu." Fira: "Okay. Ini aku lagi bantu pelatihan Kespro IPPI*, Mbak. Duh, tidak ada satu pelatihan pun yang bebas acara nangis." Icha: "Di cerpenku aku justru mau lepaskan stigma itu. Perempuan itu Baca Selanjutnya...
Share
05/5/12

Jiwa, Pilihan Hidup dan Samsaranya

kehidupanmu yang kini adalah sebuah rentang untuk memperbaiki kehidupanmu yang lalu Selembar nyawa selalu baru dan satu, tetapi jiwa adalah energi yang telah hidup sejak masa lampau. Itu yang aku percaya. Terlepas dari institusi keyakinan (yang disebut agama) yang aku anut, aku percaya bahwa jiwa yang ada dalam diriku telah berkelindan pada masa-masa lampau. Jiwa yang kini menjadi penghuni tubuhku adalah percikan energi yang terus berdialektika mencapai moksanya, mencapai titik paling kulminasi lalu berpulang ke rumah abadi dan bercahaya gemilang di sana. Bukan sebuah kebetulan jika pada orang-orang tertentu, jiwaku ini menjadi mudah erat, bahkan pada perjumpaan pertama sekalipun. Baca Selanjutnya...
Share
01/17/11

Pohon Jambu yang Menyimpan Suara Kecil

Ketika kau masih kanak-kanak, kemana resah kau sembunyikan? art nouveau style tree Sejak kanak-kanak, banyak resah yang terangkum dalam hatiku. Resah a la kanak-kanak yang tersimpan sendiri dan tak bisa diungkapkan. Ringan saja, misalnya tentang kenapa perempuan banyak bermain dengan boneka? Kenapa papa dan mama harus bekerja?Kenapa aku harus mengaji? Hanya cuplik resah tentang banyak pertanyaan, ketika aku tak tahu bagaimana harus bertanya dan mencari jawabannya. Aku tumbuh dalam keluarga besar. Dua rumah yang disajikan satu. Ada 13 orang dan 3 generasi yang tinggal di dalamnya. Generasi nenek, generasi orang tua dan anak-anak. Dalam pertumbuhanku, aku tak banyak ingin tahu Baca Selanjutnya...
Share
01/11/11

Atas Nama Asmara

Pada suatu waktu yang disebut malam
Aku menebar kecemburuan pada bulan yang boleh mencapai kirana
Aku merepih pada embun yang boleh memeluk daun
Sesekali panas hatiku pada dua cicak yang bercumbu tanpa malu

Atmaku terburai, renik-renik dijumput waktu yang tak kupunyai
Ditingkahi siluet senyummu di tiap-tiap partikelnya
Jika ini memang samsaraku, atas nama asmara, aku ingin meminta maaf karena ingin memilikimu…tanpa batas waktu.

Share
01/4/11

Taman, Pagi Ini…

Kekosongan adalah keberadaan ilalang Ada aktivitas baru yang sekarang kulakukan tiap pagi. Setelah alarm berbunyi, aku memaksa tubuh menyapa pagi. Menyeruput satu gelas besar air putih, membuka pintu, lalu membiarkan sisa-sisa embun melesak ke dalam pernapasanku. Aku duduk di pojok beranda. Ujung ubinnya bersentuhan dengan batu-batu putih dan tanah yang jadi penghuni taman. Di sana, tempat favorit baruku. Tiap pagi, aku mencuri waktu sekira lima belas menit untuk duduk diam di sana. Membolehkan pagi membuka mataku lebih lebar, agar aku bisa memandangi hijau rumput, pucuk-pucuk daun, rekah bunga kamboja, meliuknya sansiviera, dan bunga jalanan berwarna ungu yang entah dinamai Baca Selanjutnya...
Share