Tunggal

Pada suatu hari kau merasa terasing. Seperti engkau tak lagi mengenali benda-benda di sekitarmu, dan makhluk-makhluk di dekatmu tak lagi berbahasa yang sama. Udara yang kau hirup terlalu sesak, bumi berlebihan panasnya dan langit selalu berwarna kelabu. Kau merasa tak kenal lagi pada rumahmu, pada tempat itu, pada ruang tempatmu bangun tadi. Kau mencari sesuatu yang kau kenali agar kau merasa ada. Tetapi tanpa kata, tanpa bahasa yang bisa kau mengerti. Dan kau gelisah bukan main. Kau yang menganggap dirimu sendiri manusia yang paling cepat beradaptasi menjadi gelisah dalam perubahan. Kakimu yang biasanya ringan melangkah bersama bayanganmu, sekarang terpaku, tersaruk dan ikut dirundung Baca Selanjutnya...

Selfie

Musuh terbesar adalah kacamata ego yang melihat hanya pada diri sendiri, melewatkan kepentingan bersama, lalu merasa berhak tak mengikutsertakan orang lain dalam frame berpikirnya. Ini adalah selfie akut (Status Facebook Lisa Febriyanti, 1 April 2014) Pagi tadi aku tepekur tentang selfie. Sebuah kata yang sedang trend, dilakukan mulai dari politisi, selebritis hingga anak-anak. Awalnya kata itu tak terlalu menarik bagiku, karena terus terang aku tak terlalu suka melakukannya, meskipun jujur pernah aku mengambil gambar diriku sendiri dalam jarak dekat karena ingin tahu bagaimana tampangku saat itu atau ikut orang yang sedang selfie, atas nama kemeriahan dan semua orang ingin tampil Baca Selanjutnya...

Bakti Hati

setiap hati adalah padang kurusetra
savana bagi dharma dan angkara
kebaikan dan keburukan
terpantul-pantul pada permukaan

setiap hati adalah jendela
memandang jeda
membentangkan asa
dan menengok jiwa

setiap hati adalah tabir
yang bertakbir pada kidung takdir
doa-doa ketika mimpi tersingkir
catatan hari yang terukir

setiap hati punya bakti
menyulam diri sejati

surabaya, agustus, 2013

Road Warrior di Desa Tertinggi di Jawa

Waktu adalah abadi ketika kita menyimpannya di dalam hati Sebagai road warrior, disyaratkan memiliki kelenturan menghadapi segala ruang. Road warrior adalah orang-orang yang telah menetapkan dalam hati, bahwa jalanan juga rumah, tempat belajar dan menemukan arti diri. Di beberapa akun social media, aku menyertakan sebutan ini di profilku, karena dalam pemahamanku hanya road warrior yang paham dan mencatat dalam hati mereka, kenyamanan adalah dimana waktu berhenti berdetak, ketika semesta menyampaikan pesannya lewat angin, dimanapun kaki dijejakkan. Beberapa waktu lalu, bersama suami dan kawan-kawan road warrior lainnya, aku menyambangi Dieng. Niat awal hanya ingin mengintip Baca Selanjutnya...

The Truth of You

Kadang, bahkan diri sendiri, sulit menemukan definisi yang tepat atau menyatakan apa yang kita rasakan. Keriuhan pikiran, lalu lintas hal-hal yang terjadi di depan mata, kerap juga mengaburkan rasa yang sesungguhnya. Jujur terhadap diri sendiri kemudian lebih banyak diganggu oleh elemen-elemen pencitraan diri di mata orang lain. Lalu, dimana letak jati diri kita yang sesungguhnya? Yang tak tergoyahkan oleh simpang siurnya atmosfir? Jawaban sederhana yang makin kuyakini hari ini adalah: di nurani. Tetapi, dimana nurani sesungguhnya bersemayam? Beberapa waktu lalu, bersama tim Semut Creative, aku melakukan tugas dokumentasi untuk klien tetap kami, The Source of Body, Mind and Soul Baca Selanjutnya...

Tertawa Kala Susah, Menangis Waktu Bahagia

A short thought. Kita mungkin tak bisa menghitung berapa kali tertawa atau beberapa kali menangis. Tawa dan tangis adalah bagian dari kemelekatan kita pada emosi, pada hal-hal yang terjadi di luar kita dan sudah menjadi galibnya manusia. Banyak diantara kita yang telah hapal dengan segala alasan untuk menangis dan tertawa. Menangis saat sedih dan tertawa saat bahagia. Kita membiarkan definisi umum itu hidup dalam diri kita. Jika sedih, maka menangislah dan tanda bahagia kemudian didedahkan dengan tertawa. Tetapi, pernahkah kita berpikir, di luar dari definisi umum itu, kita punya pilihan sendiri untuk menunjukkan kapan kita harus tertawa atau menangis? Atau bahkan memilih untuk Baca Selanjutnya...

Liturgi Rindu

sepotong rindu terdampar di palung jiwa
mendadak, tanpa fatwa
pada sebuah wajah yang pernah mengobarkan nyawa
dan kupuja bagai dewa

lalu, kaki terbelit pada jejak-jejak tanpa suara
tergulung-gulung melintasi samsara
tempat dimana sembilu dan sakinah bermuara
berderai pada samudera lara

sepotong rindu ini berkisah tentangmu
tetapi ia meriwayatkanku
sepotong rindu ini mencerabih tiap sel mu
tetapi ia merawikan ritmisku

sepotong rindu purba ini sebuah ibadat pagi
mencantumkan namamu menuju aku yang hakiki

Bantul, Mei 2013