SERUMPUN SAPA

Aku berdansa bersama bulan, gemulai diiring embun yang menerawang di udara

Aku berlomba bersama matahari, meliat memacu diri

Aku merajuk pada pelangi, bermanja melabuhkan resah yang merepih

Aku melangut pada hujan, dalam tetes airnya dan gemuruh suaranya

Aku berbisik pada angin, untuk menyampaikan pesan pada cinta yang terkebiri

Aku genggam bara api, kumpulan perih yang tak juga mau pergi

Aku bersetubuh dengan alam…dengan kata-kataku….

(Lisa Febriyanti-petani ladangkata)

serumpun sapa dipersembahkan untuk senyum, salam dan sapa dari pengembara yang singgah di ladangkata

Laki-Laki Malaikat

dark-angel-21114Dia, laki-laki malaikat. Dan, kini terbang melayang di sekitarku. Aku bertanya, berapa mach yang sudah ditempuhnya? Dia berbisik, tepat di telingaku….selaksa. Laki-laki malaikat dengan mata penuh cinta menghembusiku dengan nyanyian langit yang menggetarkan.

Laki-laki malaikat, menyertai langkahku kini. Dia bicara. Tentang dunia yang tidak aku kenal, tentang mimpi yang membumbung namun tak juga jauh dari tempatku berpijak, tentang bintang yang pernah disinggahinya. Sayap lebar mengepak bersamaan dengan kerling godanya. Lalu ia pun menyusur di jejak yang sama denganku kini.

Seperti tak ingin dia melepas, laki-laki malaikat menebar serbuk-serbuk kasih diselubungku. Menjeratku dengan indahnya. Tak terbantahkan. Aku tergagap dalam putaran rasa yang ia persembahkan. Indah sekaligus membuatku menggigil.

Seperti tak pernah lelap, laki-laki malaikat berkitar di telingaku, di kepalaku, di bibirku, di lentik jariku, di legam kulitku, di lebar langkahku, di pijar mataku. Dia di sana, terus di sana. Tak tersiah sekejab pun dari fragmen takdirku.

Laki-laki malaikat mendekap hidupku, menawarkan senampan harapan. Memperkokoh kepalan tanganku yang mengangkasa menantang kehidupan. Menghangatkan lewat pendar-pendar cahayanya.

Runtutan waktu yang terus berjalan, laki-laki malaikat tak lekang. Mengiring tak terpisahkan pada langkah, pada keputusan, melekat pada senyum, menghambur pada duka, mendekap kisi-kisi indah yang hanya dirasakan hati. Lalu mengingini menjadi tak tertangkis.

Gemetar tangan ini ingin menyentuhnya, memeluknya dan mendekap hingga jiwa ini luruh jadi debu, lalu terlahir kembali. Tapi dia laki-laki malaikat dengan selapis dimensi yang berbeda. Ketika dia melayang dengan indahnya, aku hanya menapak bumi. Ketika dia berkilau dengan cahaya, aku bergumul dengan debu. Ketika dia abadi, aku melalui reinkarnasi. Dia laki-laki Malaikat…..

Bisa kah kau turun sebentar dari dimensimu?

(untuk kesekian kali menonton film City of Angel tanpa pernah bosan)

“Aku lebih memilih sekali saja menghirup rambutnya, sekali saja mengecup bibirnya, sekali saja menyentuh tangannya, daripada menjalani keabadian tanpa pernah merasakannya. Sekali saja.”

(Nicolas Cage sebagai Seth dalam City of Angels)

#1: Sandya

mimi_yinyang

Ronce sudah kulepas, rambut panjang sepunggungku telah pula aku urai. Aku menatap wajahku sendiri di cermin bulat dengan  cita sifon berwarna putih yang menjuntai. Aku bahagia, aku tahu itu. Mata di cermin itu juga mengatakannya. Aku sangat bahagia. Ini adalah sekumpulan keajaiban yang diletakkan di pangkuanku. Potongan-potongannya menguarkan cahaya perak yang hangat menyentuh kulitku.

Dari cermin yang sama, terpantul oleh mataku satu sosok, sumber kebahagiaanku. Ia bulan yang turun  dari langit, mempertaruhkan keabadian yang dimilikinya demi menyuntingku. Bulan yang datang tiba-tiba di malam-malamku yang dingin, memberi cahaya dari matanya, lalu semua hariku dipenuhi kata-kata darinya. Begitu saja. Tanpa bisa kutolak.

Aku masih memerhatikannya dari cermin. Berdiri di samping tempat tidur yang ditaburi plumeria putih.  Ia melepas satu persatu kancing baju putihnya, pelan dan matanya terfokus pada kancing yang ia dorong melalui selarik lubang. Resam tubuhnya elok, seakan tiap gerak yang ia lakukan tak ada yang sia-sia. Semuanya punya tujuan dan dalam komposisi yang sangat tepat, tak pernah berlebihan maupun kekurangan. Di  mataku, semua geraknya adalah tarian yang dipersembahkan dengan sangat indahnya. Bukan gemulai, tetapi begitu kokoh dan pasti. Seluruh tubuhnya menyanyikan aroma taksu yang mungkin hanya dipersembahkan bagi linga sariraku.

Laki-laki dalam cermin itu diperkenalkan padaku di sebuah senja berwarna merah. Tinggi dan kulitnya rata-rata milik Mongoloid. Pada perjumpaan pertama, matanya begitu murung, mengalahkan muramnya senja. Aku tak tahu apa yang menggilas sinar kehidupannya dari sana, tetapi yang kutahu apapun itu adalah sebuah jurang yang mendorongnya terlalu dalam. Pada perjumpaan pertama, aku tak merasai pijar yang bergelora, hanya merasakan satu tarikan sulur dari taksunya.  Serasa dekat. Jiwanya serasa pernah kutemui di kehidupan lalu, entah kapan. Hanya itu saja.

Nyaris tiga tahun lalu, senja jadi saksi perkenalan kami. Hari-hari berikutnya, seperti semesta telah mengaturkan semuanya. Ada saja hal-hal yang bisa kami diskusikan bersama, ada saja hal-hal yang mencuatkan kata “Aha!”, lalu ketika hariku tak ada kata-kata darinya, aku terbungkus rasa yang kehilangan yang mendalam. Kemudian kutahu, itu dinamai rindu.

Selengkapnya

Bangun dari Hilang

__rise_of_the_planets___by_7urKemana perginya semua yang hilang dari diri kita? Apakah menguap begitu saja, tanpa sisa? Apakah ada satu ruang di otak kita yang masih bisa menyimpan itu semua?

Rasanya yang terakhir ini terasa benar. Seberapa penuh otak kita menampung, masih tetap ada ruang yang di sela-selanya, untuk menyimpan yang hilang. Tersimpan rapat dan akan muncul jika ada pemantiknya.

Aku sedang menekuri kembali banyak hal yang hilang dalam diriku. Tak hanya tentang segala kenangan, tetapi juga sikap-sikap diri yang hilang karena digerus hal-hal baru yang datang. Aku mencari identitas lama yang positif dan seperti lenyap oleh banyak perubahan. Hal yang hilang itu dan kurasai benar kehilangannya adalah kekuatan diri. Betapa seringnya kini aku mengeluh dan rapuh. Padahal banyak orang yang bilang, “kau lebih kuat dari yang kau kira. Kau sudah bisa sampai di titik ini.” Tetap saja, ketika benturan datang, aku seperti terhempas. Buruknya, selalu merasa jadi sendirian, sementara, masih ada orang-orang istimewa menanti dengan terbuka. Aku, yang selalu ripuh dengan anganku sendiri, mestinya tak lagi terseok karena masih ada pelangi berkah di balik mendung kelabu.

Kita, adalah manusia yang berkelindan mencari dirinya. Berkiblat dari pikirannya. Dan kadang pikiran-pikiran itu menyesatkan. Selalu, dibutuhkan pemantik untuk kembali ke jalannya (diambil dari novel ILUMINASI). Aku temukan pemantik itu, pada percikan keajaiban yang datang, pada kata-kata yang dialamatkan dan pada ruang-ruang yang dibuka lebar. Terlebih pada kasih yang mestinya dari dulu kutahu pasti telah ada padaku dan tak pernah hilang.

Aku tahu, aku bisa. Aku tahu, aku tak pernah sendiri. Tak pernah ada manusia yang begitu kesepiannya hingga untuk bicara pun tak lagi bisa. Selalu ada kawan, selalu ada kasih, selalu ada jalan untuk kembali pada hal-hal yang mestinya terus tergenggam. Semoga.

Ini seperti energi, tak akan bisa mati, hanya bisa diganti dan diubah dalam bentuk yang berbeda…

When the day is long and the night, the night is yours alone,
When you’re sure you’ve had enough of this life, well hang on
Don’t let yourself go, ’cause everybody cries and everybody hurts sometimes
(Everybody Hurts, R.E.M)

Yan

kotak_pandora

yan,
ada rekam jejak yang menggores tebal
pada sulur-sulur waktu lalu
labirin yang begitu saja terhampar
meliuk di jalan labuh
hitungan angka yang kau ungkit
terlalu lama buat resam tubuh
melenakan aku pada gumuk
membumbung tinggi
lepas sentuh

renjana tak lagi berbahasa
meretas kubu tanpa himpitan kurva
kau yang meredam beku
dalam dingin alaska minus sepuluh
aku yang tergugu pilu
diguyur gemuruh hujan tanpa sambut
kubuku bersinar saat bumimu melesak
tak ada lagi fusi
tlatah bersuara beda
dalam harap rasa yang tak jadi sampah

bisakah kotak pandora ini kita kemasi?

yan,
suara membahana di depan
kita semua berhak bahagia, bukan?

(desember ketika hati kau tampar beku alaskamu)

Telah Lahir: ILUMINASI

Telah lahir, novel ILUMINASI oleh Lisa Febriyanti pada 4 Desember 2009, pukul 08:35

iluminasi1


Manusia dengan kode genetik yang terus mengalami perkembangan unik dalam tubuhnya, berderap selangkah dengan pencarian makna kehidupan dan jati diri yang lebih mendalam. Kekuatan itu didapat dari penyatuan energi tubuh dengan energi alam.

Novel ini bercerita tentang sekumpulan manusia yang memiliki beragam kekuatan. Ardhanareswari, perempuan introvert menyimpan kekuatan yang diteruskan dari generasi ke generasi dalam keluarganya, terbenam dalam jejak DNA dan dikekalkan dalam sebuah pendulum warisan. Ia tak pernah tahu “kekuatannya” itu karena keluarga yang merawatnya tak pernah memberitahunya. Hingga ia bertemu Shaman, pemuda yang mengajaknya berkenalan dengan kelompok White Light (perkumpulan manusia yang memiliki kekuatan diri—telepati, pyrokinesis, menguasai mesin, meniupkan angin dingin, hingga bergerak sangat cepat). Mereka berkelindan dan terkoneksi untuk menjawab pertanyaan tentang makna hidup di balik kekuatan yang mereka miliki. Ardhanareswari, ditakdirkan sebagai manusia istimewa yang mampu memberikan jawaban itu…

Ardhanareswari, White Light, dan Pure Black bertemu dalam konflik panjang yang tidak pernah berhenti. Tetapi takdir tetap harus dijalani.

Apa kata mereka tentang ILUMINASI?

1. Novel ini bukan hanya sanggup mengeksplor realitas cerita yang begitu liat gamit-menggamit antara konflik tokoh, ketegangan suasana, kerumitan motif, dan penjelajahan-liar spiritual; namun juga memberi wadah olah imaji bagi pembacanya.
Membahasakan persoalan fisika-metafisika, lompatan kuantum, linga sarira, pecat-sukma yang lazimnya rumit sulit dideskripsikan dalam bahasa awam (ordinary), namun dengan tangkas dan cerdas (didukung kekayaan terminologi, perlambangan dan tuturan bahasa Indonesia yang cantik) penulis mampu menjerat rasa penasaran pembaca dari awal hingga akhir cerita. Menurut saya, novel ini tak cukup berhenti di “Iluminasi” saja, masih diperlukan “eksplorasi-eksplorasi” berikutnya. (Darminto M. Sudarmo, penulis, wartawan dan peminat seni humor).

2. “Iluminasi” akan membawa Anda pada sebuah penjelajahan dan perenungan tentang dimensi lain dari eksistensi manusia lewat sebuah kisah seru manusia-manusia unordinary. Mungkin saja Anda sendiri adalah bagian dari mereka. Who knows? Temukan jawabnya dalam novel ini. (FX Rudy Gunawan – Novelis)

3. I really love and value this novel. Iluminasi adalah bukti kekuatan imajinasi dalam menembus batas ruang dan waktu.” (Syafruddin Azhar, penikmat sastra)

4. “Di era materialisme sekarang ini, pesan tentang spiritualistas adalah oasis yang mengademkan, yang menjadi objek pencarian oleh para Ordinary. Lisa telah sukses menuliskan kegelisahan spiritualnya ke dalam sebuah novel new age yang renyah, dan tetap penuh dengan pesan yang mendalam tentang masa depan kemanusiaan. Membuat saya jadi ingin menulis novel untuk mengupas satu demi satu pesan-pesan yang disampaikan dalam novel ini.” (ES Noorsabri, peminat new age)

5. “Novel yang seru dengan adegan pertempuran dari masing-masing karakter yang begitu dahsyat. Membaca naskah novel ini seolah-olah melihat visual-visual yang nyata pada panel-panel komik.” (Erwin Prima Arya, Montir Komik)

catatan: cover di atas terdiri dari kuping kiri, back cover, front cover dan kuping kanan