Posted by Lisa Febriyanti on Aug 31, 2007 in ladang sapa | 103 Comments
Aku berdansa bersama bulan, gemulai diiring embun yang menerawang di udara
Aku berlomba bersama matahari, meliat memacu diri
Aku merajuk pada pelangi, bermanja melabuhkan resah yang merepih
Aku melangut pada hujan, dalam tetes airnya dan gemuruh suaranya
Aku berbisik pada angin, untuk menyampaikan pesan pada cinta yang terkebiri
Aku genggam bara api, kumpulan perih yang tak juga mau pergi
Aku bersetubuh dengan alam…dengan kata-kataku….
(Lisa Febriyanti-petani ladangkata)
serumpun sapa dipersembahkan untuk senyum, salam dan sapa dari pengembara yang singgah di ladangkata
Posted by Lisa Febriyanti on Jul 1, 2009 in ladang inspirasi, ladang kerja, ladang kreasi | 4 Comments
Syahdan, Bandung Bondowoso yang telah gagal dalam percobaan pertamanya memikat Roro Jonggrang dengan 1000 candi, kini telah bereinkarnasi di tahun 2009. Ruh Bandung Bondowoso telah merasuk ke tubuh pemuda matang bernama Boni. Sosok pemuda yang sudah tak perlu memendam ingin lagi, karena semua inginnya sudah bisa terpenuhi dengan menjentikkan jari. Tapi ada satu inginnya yang masih terkekang, yaitu Roro Jonggrang.
Sejak kelahirannya kembali, Boni bertekad mencari Roro Jonggrang. Segala kelebihan dan kelimpahan materi yang dimiliki semakin membuatnya yakin, kali ini Roro Jonggrang pasti akan jadi miliknya. Perempuan mana yang tak tergiur dengan wajah simpatik Boni, dengan pijar intelegensinya yang benderang, dengan kata-katanya yang santun, dan yang paling menarik dari semua itu adalah kekayaannya yang luber tak terhitung. Roro Jonggrang pasti takluk.
Boni merasa sudah mengantisipasi semuanya, tapi ada satu hal yang tak bisa dikontrol oleh pemuda yang penuh percaya diri itu. Roro Jonggrang, yang penuh semangat perlawanan ternyata menitis di tubuh aktivis politik yang tak silau kekayaan. Vanessa. Meski namanya kebarat-baratan, tapi Vanessa sangat nasionalis. Dia pernah merasakan betul penderitaan rakyat yang sering dikangkangi hak-hak politiknya, merasakan sangat kesulitan ekonomi hidup akibat ideologi pasar bebas, menyemai dengan sangat sempurna kegelisahan anak-anak yang tak bisa sekolah. Sementara di seberang itu semua, manusia-manusia kapitalis seperti Boni hidup dengan tertawa.
Selengkapnya
Posted by Lisa Febriyanti on Jun 26, 2009 in ladang kreasi | 5 Comments
Keabadian dan Tukang Kebun (1)
Keabadian dan Tukang Kebun (2)
Pertanyaanku tak terjawab. Aku membiarkannya begitu, hingga aku rangkai pengertian-pengertian baru dalam pertemuan kami kali ini.
Setelah Perjanjian Versailles ditandatangani dan Perang Dunia meredup, aku mencoba menemukan kembali kaumku yang berkeliaran. Aku tak menyangka akan menjadi salah satu yang tertua saat itu. Vampir-vampir lainnya mengelukanku untuk membangun kembali perkumpulan yang porak poranda. Aku ingat, vampir-vampir perempuan melekat padaku, vampir lain yang lebih muda terus meminta perhatian, tak mempedulikan Zen yang mengkerut di sampingku.
Dengan taktis aku mengumpulkan kembali kelompok-kelompok vampir yang bersembunyi. Membangkitkan dan meminta mereka bertahan pada komunitas masing-masing, sembari terus berhubungan. Namaku terus menanjak di kalangan vampir. Oktagon, Sang Tetua. Begitu aku disebut. Aku jumawa dalam keadaan itu. Tapi itu tak lama, aku segera melempem lagi karena Zen meninggalkanku.
Baru terpetik di pikiranku sekarang, meskipun dia pergi, Zen tak pernah mengkhianatiku dengan berpindah ke pelukan vampir lain. Tak pernah sekalipun. Bagi kami, tindakan itu adalah khianat yang paling menyakitkan. Hampir setiap kami memiliki pasangan abadi. Di kalangan vampir, cinta berbanding lurus dengan panjang hidup kami. Jika salah satu terbunuh, maka dendam kesumat dipastikan akan memenuhi rongga hati. Karena, itu sama saja membunuh diri kita sendiri. Zen tak pernah menyakitiku begitu. Ia selalu pergi sendirian. Bahkan, tak pernah lari ke komunitas vampir lainnya. Dalam pertemuan-pertemuanku dengannya kembali, dia tak pernah terlihat terikat dengan vampir manapun. Kadang, jika keadaan memungkinkan, dia lebih suka berbaur dengan manusia. Mungkin itu menjadikannya lengkap. Menjadikannya seperti manusia dengan sesuatu yang tak dipunyainya. Napas dan degup jantung.
Selengkapnya
Posted by Lisa Febriyanti on Jun 22, 2009 in ladang kreasi | 9 Comments
Keabadian dan Tukang Kebun sebelumnya
Rasanya baru kemarin ketika aku pertama kali melihatnya. 14 Juli 1789, penyerbuan ke Penjara De Bastille. Sebuah momentum yang mengawali Revolusi Perancis. Aku melihat sosoknya diantara kerumunan orang-orang yang marah pada monarki. Kulitnya yang pucat, matanya yang kelam serta geraknya yang sangat gesit untuk ukuran manusia biasa, langsung bisa kukenali sebagai salah satu ciri kaumku. Di tengah gemuruh massa yang berseru “Vox Populi, Vox Dei!”, aku masih bisa mendengar desis dan geram dari bibirnya. Tahu aku perhatikan, dia menoleh ke tempatku berdiri. Terpana beberapa saat, mungkin tak mengira ada juga yang seperti dia. Bahkan dekat dengannya.
Sebuah pedang hendak menyambar dari belakangnya. Aku melesat, meraih tubuhnya. Menganyunkan tubuhnya dalam pelukanku, menghindari kilat pedang yang bercampur darah menyentuh tubuhnya. Saat itulah mata kami bertaut.
“Kau pasti tahu, aku tidak akan mati hanya dengan goresan pedang saat itu,” dia membaca pikiranku. Mengetahui bahwa aku mengenangkan pertemuan pertamaku dengannya.
“Tapi, kau yang akan membuat banyak orang mati. Kau pasti akan marah jika sedikit saja terluka. Bukan engkau yang aku selamatkan. Para revolusioner itu. Mereka sudah cukup menderita dengan Louis XVI,” aku tahu, pikiran Zen langsung meloncat pada kilat pedang yang hampir menggores bahunya dan masa hidup di bawah dua tekanan sekaligus. Monarki dan Gereja.
“Lebih dari 10 tahun kebersamaan kita, Zen. Lalu kau pergi begitu saja,” aku memutus ingatannya.
“Aku tidak pergi. Aku hanya menyingkir. Ambisimu dengan ekspansi Bonaparte itu membuatku lelah. Matamu tidak lagi coklat, tapi menjadi lebih keruh dan kau makin kerap mendesis. Aku ada di dekatmu, tapi kau seperti jauh,” gantian dia yang menatapku lekat.
Selengkapnya
Posted by Lisa Febriyanti on Jun 21, 2009 in ladang kreasi | 10 Comments
Kau tentu tahu bagaimana bunyi denting gelas, bukan?” aku menatap lekat matanya.
Sedetik dia tahu bahwa aku sedang menghujamnya dengan pandangan yang menuntut. Dia sadar itu, kemudian mengalihkan matanya ke cangkir bulat yang sedang dipegangnya. Dia menjentikkan jarinya ke cangkir dan terdengarlah bunyi ‘tek!’, pelan saja, karena cangkir separuh penuh dan lebih tebal dari gelas yang kumaksud.
“Seperti ini?”
“Bukan. Seharusnya lebih nyaring,” aku mencari-cari matanya lagi.
“Lalu kenapa?”
“Bayangkan jika dentingnya itu bisa kau dengar sepanjang kau membuka mata. Terus berdenting, tanpa henti. Suaranya indah sekaligus menyakitkan. Bisa terbayang?” aku terus memandanginya, berharap bisa melihat bagaimana reaksi perempuan itu.
Bola matanya naik ke atas. Jari telunjuknya mengetuk bibir berkali-kali. Dia benar-benar membayangkan bagaimana bunyi denting gelas yang tak pernah berhenti itu.
“Ya, aku sudah dapat bayangannya. Lalu?” Aku mendesah. Perempuan ini suka bertingkah memang. Aku memang bilang untuk membayangkannya, tapi aku tak berharap dia sungguh-sungguh membayangkan seperti itu. Seharusnya dia sudah langsung paham. Ah, tapi dia bukan aku. Dia tetap dia. Sepanjang tiga abad yang kukenal, dia tidak berubah.
“Seperti itu rindu buatmu,” aku memutuskan tak mengomentari tingkahnya.
Selengkapnya
Posted by Lisa Febriyanti on Jun 17, 2009 in ladang budaya, ladang puisi | 7 Comments
Siapa yang tidak perih, ketika terus berada dalam situasi gamang, ketidaktahuan dan diberangus kebersamaanya dengan seseorang yang begitu dikasihi? Fitri Nganthi Wani, baru berusia 11 tahun ketika ayahnya, Wiji Thukul dihilangkan paksa oleh Orde Baru. Hingga sekarang, Wiji Thukul belum pula kembali ke keluarganya, belum kembali bercanda dan berpelukan dengan kawan-kawannya, dan belum pula kembali ke puisi-puisinya yang sederhana, realistis sekaligus indah, meski kerap menyuarakan ketertindasan. Dan perih gadis itu, bergema ke telinga, menyodok relung hati, lewat puisi-puisinya.
Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah
Peluncuran buku puisi “Selepas Bapakku Hilang” karya Fitri Nganthi Wani di Graha Bhakti Budaya semalam, sungguh menjadi sebuah pesan bahwa perih itu bukan milik Wani seorang. Kawan-kawan, simpatisan dan semua yang pernah mengenal Wiji Thukul ikut terguncang dan tak ingin berhenti berteriak, “kembalikan kawan kami!”. Warna ini yang membuat acara peluncurannya menjadi spektakuler. Adalah Iwan Fals, Oppie Andaresta, Sitok Srengenge dan PM Toh, sederet nama besar yang ikut membacakan dan melagukan puisi Wani pada malam itu. Kemasannya bukan hanya sekadar peluncuran buku, tapi merupakan paduan hiburan sekaligus pesan pengingat. Lewat beberapa aliran lagu, mulai balada, rock, acapella, R&B, kumpulan kata-kata tentang HAM, diperkaya tata lampu dan tata suara a la konser musik, mengalun begitu menawan dan membuat badan saya ikut bergoyang. Eits, bukan saya saja kok, sebelah saya Nia Damayanti ikut menaikkan tangan ke atas dan di sebelah saya yang lain, Daniel Mahendra, saya yakin juga ikut menggoyangkan kepala dan mengetukkan kakinya mengikuti irama, meskipun ringan saja, tak seheboh kami.
Selengkapnya