Selaksa Kisah dari Foto yang Menguning

print or not print. its not just a choice "Kita ini hidup di era yang paperless! Tak perlu terlalu banyak buang-buang kertas atau cetakan. Semua sudah kami simpan dalam file digital," tandas kami ketika ada anggota keluarga yang menanyakan bentuk cetak foto-foto pernikahan kami. Kecuali foto dengan keluarga inti dan foto berdua yang dirasa pas dengan tujuan dipajang di tembok rumah, kami memutuskan tidak mencetak keseluruhan momentum pernikahan yang diabadikan dalam foto. Jika rindu pada momentum itu, kami bisa segera memandanginya melalui file yang sudah di-back up di beberapa tempat. Malam ini, era paperless yang kupercayai itu sedikit goyah. Adalah kumpulan foto-foto tua yang Baca Selanjutnya...
Share

#TerSmurf

Bertubuh biru, kecil, hidup secara kolektif, memiliki panggilan sesuai karakter dan yang paling menarik adalah memiliki kode bahasa unik, dengan penggantian kata kerja atau kata benda menjadi 'smurf'. Kadang, aku pun ikut tersmurf oleh mereka.  Sudah lama aku jadi penggemar Smurf. Mengoleksi beberapa komiknya dan menyukai cara interaksi mereka. Mereka bekerja dan diberi nama sesuai kemampuan dan karakter. Dalam Bahasa Indonesia, ada Smurf Gembul, Smurf Ceroboh, Smurf Kacamata, Smurf Genit, Smurf Tukang Kayu, Smurf Tukang Roti, juga Papa Smurf. Tidak ada strata kelas dari kehidupan mereka. Semua sama dan saling mengisi. J.Marc Schmidt, seorang penulis kelahiran Australia pernah Baca Selanjutnya...
Share

[Pecinan Indonesia] #1 Glodok, Kota Kecil di Metropolitan

Catatan tentang Pecinan Indonesia ini merupakan sebuah rangkuman pribadi dari sebuah project dokumenter yang kami buat dan ditayangkan di salah satu televisi lokal pada periode September 2011 hingga Februari 2012. Dari total 13 episode yang kami produksi secara tim, beberapa episode jatuh ke pangkuanku sebagai produser. Ini adalah kisah di balik jalan-jalanku dalam membuat Program China Town Indonesia. Dalam serial catatan tentang Pecinan Indonesia ini, aku tidak akan berkisah tentang wisata perjalanan dari kota-kota yang aku kunjungi, karena itu bisa kalian dapatkan dari blog-blog lain. Yang kubagikan di sini adalah rasa dan pengalamanku mendatangi tempat-tempat tersebut. Sebuah Baca Selanjutnya...
Share

Lompatan Peradaban: Maju atau Mundur?

Di peradaban mana kita hidup sekarang? Sering dikatakan kita hidup di peradaban modern. Terminologi modern kemudian direferensikan pada penggunaan mesin sebagai 'budak' manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi didorong semaju-majunya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Pergerakan manusia berdampingan dengan mesin yang makin hari makin canggih saja. Dalam sehari saja, adakah kita pernah hidup tanpa mesin? Jujur harus aku akui, tanpa mesin, aku merasa hidup di zaman purba. Purba? Yah, purba secara normatif yang dikenal oleh banyak orang. Purba yang dikenal sebagai sebuah masa tanpa elektronik, tanpa mesin dan hanya mengandalkan manusia yang bekerja sama dengan alam semesta. Baca Selanjutnya...
Share

Pelukis Luka

Aku memindai lantunan lukamu, dari segores warna kanvas tanpa huruf. Kata-kata yang kau simpan. Telah jadi sekam dalam bilik hati. Kau, yang menangis saat melukis. Menjadikan air mata bagian dari catmu. Mata memerah dengan tangan bergerak cepat, di atas kanvas kosong tanpa dosa. Telah kucatat, ketika kau tertawa, kau tinggalkan kanvas sepi warna. Bahkan tak ada yang tercipta. Tawamu kadang tanpa peringatan, tiba-tiba pecah. Bisa di tengah malam, di pagi buta atau di siang yang panas. Tapi tak pernah lama. Kau lalu terkatup dan mengutuki tawa. Ketika seharusnya kau sudah bisa duduk di atas balai-balai tawamu, diselubung semilir angin yang menyejukkan. Kau ripuh dalam diam. Baca Selanjutnya...
Share

Woles

Peace. It doesn't mean in the place there is no noise, trouble or hard work. It means to be in the midst of those things and still be calm in your heart (unknown)  Ada yang merasakan kedamaian dari percik air. Ada yang mendapatkannya dari semilir angin. Ada pula yang meraihnya dari sebuah pelukan. Kadang, kedamaian memang bukan soal tempat, tetapi kumparan rasa. Banyak yang percaya ini, aku pun masuk dalam salah satu barisan yang memercayai hal di atas. Tetapi, apakah sebuah tempat masih punya andil dalam menciptakan kedamaian? Untuk pertanyaan ini, jawabanku, "masih iya". Bagaimanapun, tempat adalah konteks yang turut serta menebalkan atau menipiskan rasa. Dan, pengalamanku Baca Selanjutnya...
Share

Negeri 1001 Kelam

negeri ini adalah negeri 1001 kelam berkisah tentang banyak luka bertutur tentang banyak angkara bercak darah tak pernah kering masih harus ditambah kebisuan yang dipoles kepalsuan negeri ini adalah negeri 1001 kelam yang masih bertenang-tenang ketika puluhan, ratusan, bahkan jutaan rakyatnya dibebat, compang camping ketika anak-anak pertiwi dihilangkan di jalan suci direnggut dari pelukan ibunya disentak dari dekapan anak-anaknya negeri ini negeri 1001 kelam betul, ia punya karpet terbang tetapi karpet terbangnya dipakai untuk menjadi tak tersentuh hukum ada juga lampu ajaib dinyalakan untuk memanggil jin-jin neoliberalisme 3 permintaan dipenuhi 1000 harga diri Baca Selanjutnya...
Share